Simpanlah namaku dalam karung merahmu. Karung yang kau bawa sejak kelahiran senja di kota ini. Seperti saat pertama bertemu dahulu.
Tak usah kau ingat banyak tentangku. Cukup namaku. Kalau saja
nanti kita tak akan bertemu lagi, bisalah kau tanyakan aku pada yang berlalu
lalang di depanmu. Ia yang mungkin terpesona padamu. Aku juga. Tapi cukup diam
saja. Toh kita sudah saling memiliki,bukan?
Tapi sekali lagi, tak usah kau ingat banyak tentangku. Bukankah
sekarang kita telah berpisah dan menemui masa yang bergelayut di pundak usia?.
Kau ini, masih saja dengan karung merahmu. Sayang sekali, kita tak bisa bertemu
lagi.
Tak berapa lama, sebelum kau pergi, Odin menemuiku. Membawa
cerita baru di penghujung tahun ini. Aku sudah menikmati alurnya, aku sudah
berani keluar dari zona yang kau bawa. Seperti kata lelaki di seberang sana,
aku harus terbiasa memilih jalan mendaki. Untuk mendewasakan diri.
Hai kamu yang memintaku untuk tak mengingat segala sesuatu tentang pertemuan ini, aku sudah tau maksudmu. Sebab kita tak bisa terus bersama. Dan aku mengerti, inilah hakikat hidup sebenarnya. Kau bahkan telah membawa pergi semua identitasmu, karung merah itu. Hanya sehelai kain hitam yang kau tinggalkan, dan telah aku gantungkan di berandaku. Tanda bahwa aku masih berduka, dan tentu masih ingat namamu.
Hai kamu yang memintaku untuk tak mengingat segala sesuatu tentang pertemuan ini, aku sudah tau maksudmu. Sebab kita tak bisa terus bersama. Dan aku mengerti, inilah hakikat hidup sebenarnya. Kau bahkan telah membawa pergi semua identitasmu, karung merah itu. Hanya sehelai kain hitam yang kau tinggalkan, dan telah aku gantungkan di berandaku. Tanda bahwa aku masih berduka, dan tentu masih ingat namamu.
heheee...siiippp. cuma ini terasa mengganggu (Selamat jalan, merah. Selamat menemui Sutradara.) Judulnya Biangla apa Bianglala?
ReplyDeletemana boss? nggak ada kata-kata itu. biangla BUKAN bianglala. terserah aku kan, kan aku yang ngasih nama. haha
ReplyDelete