Skip to main content

Di Depan Rumahmu



Ada yang tengah menunggu di depan rumahmu. Bersafari coklat empat saku. Bersepatu hitam lusuh.
 
Waktu terus berlari, menghampiriku yang sedari tadi menunggu. Sejenak aku menengadah ke langit, lalu tunduk ke bumi. Kau menatap nanar mataku. Lalu pandangan apa yang bisa aku balaskan padamu?, semakin dekat hari yang akan menjemputku, dan aku tak akan lagi menunggu, di depan rumahmu. Safari empat saku ini akan segera aku lepaskan.  Maukah kau menyimpannya untukku yang tak akan menunggumu lagi?

Di dapur ibumu menungguku. Rupanya kita saling menunggu. Apakah kau juga sedang menunggu?

Aku mulai mengerti, dan menyadari kodratku. Safari coklat ini hanyalah seragam yang tak akan lama menempel di badan. Sedang sepatu , hanya untuk berjalan, mencari makan diantara semak yang semakin sempit dimakan jalanan aspal.

Aku tak akan menangis, sebab tak ada yang begitu berarti. Aku bahkan terlalu rela menunggu, mengakhiri sepenggal cerita pada tempayan abu-abu , juga pada tangan-tangan yang terlentang diantara lapar yang tak berkesudahan. Ya mereka juga menunggu. Kita saling menunggu.

Esok akan segera berakhir, dan aku tak ragu meninggalkanmu. Melewati lapang jalan, menuju rumah terakhir pengembaraanku.

Comments

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir