Ada yang tengah
menunggu di depan rumahmu. Bersafari coklat empat saku. Bersepatu hitam lusuh.
Waktu terus berlari,
menghampiriku yang sedari tadi menunggu. Sejenak aku menengadah ke langit, lalu
tunduk ke bumi. Kau menatap nanar mataku. Lalu pandangan apa yang bisa aku
balaskan padamu?, semakin dekat hari yang akan menjemputku, dan aku tak akan
lagi menunggu, di depan rumahmu. Safari empat saku ini akan segera aku
lepaskan. Maukah kau menyimpannya
untukku yang tak akan menunggumu lagi?
Di dapur ibumu
menungguku. Rupanya kita saling menunggu. Apakah kau juga sedang menunggu?
Aku mulai mengerti, dan
menyadari kodratku. Safari coklat ini hanyalah seragam yang tak akan lama
menempel di badan. Sedang sepatu , hanya untuk berjalan, mencari makan diantara
semak yang semakin sempit dimakan jalanan aspal.
Aku tak akan menangis,
sebab tak ada yang begitu berarti. Aku bahkan terlalu rela menunggu, mengakhiri
sepenggal cerita pada tempayan abu-abu , juga pada tangan-tangan yang
terlentang diantara lapar yang tak berkesudahan. Ya mereka juga menunggu. Kita
saling menunggu.
Esok akan segera
berakhir, dan aku tak ragu meninggalkanmu. Melewati lapang jalan, menuju rumah
terakhir pengembaraanku.
Comments
Post a Comment