Skip to main content

Perempuan dalam Pigura



Seperti yang kau tahu, wajahnya adalah jendela. Siap mengantar yang singgah kemana saja yang disuka. Jendela yang berdoa, kadang berlayar menuju bunga seroja yang ditanam dalam bantalnya yang merah senja. Senja memang tempat berlabuh, dari kesal, pergulatan pajang mencapai tiang kehidupan. 



Bila malam menjelang, ia menjemputku. Berburu waktu, aku menunggang di pundaknya., dibalut kawat berduri yang berdiri. Perlu kau tahu, tak ada yang rapuh dalam usianya yang keruh.

Lihatlah rambutnya, kau akan bergelayut menikmati hangat jagung rebus di musim hujan, bersama secangkir teh penutup kemarau yang malang.

Perempuan dalam pigura, siapa yang menyangka, ia yang tak pernah menyerah merawat biji dalam saku tubuhnya. Biji yang terus tumbuh menembus batas pigura.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi