Skip to main content

Untuk Biangla


Simpanlah namaku dalam karung merahmu. Karung yang kau bawa sejak kelahiran senja di kota ini. Seperti saat pertama bertemu dahulu.

Tak usah kau ingat banyak tentangku. Cukup namaku. Kalau saja nanti kita tak akan bertemu lagi, bisalah kau tanyakan aku pada yang berlalu lalang di depanmu. Ia yang mungkin terpesona padamu. Aku juga. Tapi cukup diam saja. Toh kita sudah saling memiliki,bukan?

Tapi sekali lagi, tak usah kau ingat banyak tentangku. Bukankah sekarang kita telah berpisah dan menemui masa yang bergelayut di pundak usia?. Kau ini, masih saja dengan karung merahmu. Sayang sekali, kita tak bisa bertemu lagi.

Tak berapa lama, sebelum kau pergi, Odin menemuiku. Membawa cerita baru di penghujung tahun ini. Aku sudah menikmati alurnya, aku sudah berani keluar dari zona yang kau bawa. Seperti kata lelaki di seberang sana, aku harus terbiasa memilih jalan mendaki. Untuk mendewasakan diri.

Hai kamu yang memintaku untuk tak mengingat segala sesuatu tentang pertemuan ini, aku sudah tau maksudmu. Sebab kita tak bisa terus bersama. Dan aku mengerti, inilah hakikat hidup sebenarnya. Kau bahkan telah membawa pergi semua identitasmu, karung merah itu. Hanya sehelai kain hitam yang kau tinggalkan, dan telah aku gantungkan di berandaku. Tanda bahwa aku masih berduka, dan tentu masih ingat namamu.

Comments

  1. heheee...siiippp. cuma ini terasa mengganggu (Selamat jalan, merah. Selamat menemui Sutradara.) Judulnya Biangla apa Bianglala?

    ReplyDelete
  2. mana boss? nggak ada kata-kata itu. biangla BUKAN bianglala. terserah aku kan, kan aku yang ngasih nama. haha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir