Kucing biru tua berlari-lari dari utara, yang dikejar juga
tak jelas rupanya. Dalam gelap malam, siapa yang bisa membaca?
Ada yang berbisik di telinganya, bunyinya seperti gesekan
batu ditempa raksasa. Kucing biru tua diam saja, berlari ke arah tenggara.
Kucing biru tua, stereo matanya. Berpendaran dalam bias
lentera. Memetik bunga yang terapung tak terbaca. Bunga sepatu yang akan
membantu menjejak diantara jatuh yang tak berkesudahan. Siapa yang rela menjulurkan
tangan ke angkasa? Kucing biru tua terpingkal kecil dalam hatinya.
Kembali berlari ke barat daya, yang dikejar semakin tak
jelas rupanya. Tapi kucing biru tua selalu tahu artinya. Diam dan membuktikan yang
tak dikira. Siapa yang bisa menduga selain Pemilik kuasa.
Kucing biru tua, tebal telinganya. Sesekali terdengar riuh
rendah deru mesin tua. Biarkan saja, terus berlari ke arah merah merona. Berlari
diantara kepungan abjad-abjad sampai senja merampas usia.
Kucing biru tua, Tak ada yang bisa membaca kemana akan melabuhkan
raganya.
Comments
Post a Comment