Skip to main content

Di Sudut Ruangan



Bulan yang ayah pindahkan ke kamarku warnanya merah jambu. Titipan ibu. Untukku.

Maka sebelum tidur, aku akan selalu teringat adik. Terngiang-ngiang suaranya yang biru. Mengajakku bersepeda di padang bulan yang benderang. Menangkap kunang yang berkejaran dengan waktu. Waktu rupanya juga pemburu. Pemburu masaku!

Malam ini, di langitmu tak akan ada bulan. sebab ia menetap di sudut ruanganku. Tersenyum sepanjang waktu,seperti senyum ibu. Kalau malam menjelang, ia bernyanyi riang. Seperti lagu kanak yang ayah nyanyikan sebagai pengantar tidurku. Ah,… aku rindu. Rindu nyanyian itu,rindu masa kanakku.

Aku ingin pulang, mengusung semua kenangan ke kota ini. Menghidupkannya kembali. Membuat sketsa jalan masa depan. Entah jalan tikus, ataukah jalan dengan berjuta persimpangan. Jalan yang akan menusuk ke atas, ke bawah, menyerong, atau bahkan jalan bawah tanah. Entah.  Dan aku hanya bisa berbisik pada Tuhan, “ Wahai Tuhanku yang Maha Besar, maukah Engkau memberikanku jalan ke tanah hujan?, tanah yang merekam perjalanan kehidupan, tanah yang akan mengantarkan pada ujung persimpangan”, Tapi Tuhan diam, tersenyum, dan entah. Aku bukan penerjemah.

Di kota ini tak ada yang lebih indah dari berjalan sendiri. Merekam pepohonan yang berbincang tentang kematian,tentang saudaranya yang telah meninggalkannya terlebih dahulu. Ditebas mata pisau di bawah rindang tiang beton. Berbicara tentang beton, aku selalu teringat ayah dan ibu. Dua tiang yang menopang langkahku. Masih percayakah engkau, aku lebih kuat dari beton. Sebab engkau pun begitu.

Ayah, ibu, bulan ini akan aku biakkan. Kau ingin bulan apa? Hijau, kuning, jingga, atau merah tua?,nanti kalau aku sudah menggenggamnya,aku akan kembali berlabuh ke pangkuanmu. Menemani dua tiang penopangku, dengan bulan baru. Katakan pada adik, mari kita berlomba menikam para pemburu. Mari kita buktikan, bahwa kita lebih tangguh dari yang kau tahu. Berlari itu perlu, sebab yang dikejar pun terus menjadi hantu.
September 2013

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi