Seperti yang kau tahu, wajahnya adalah jendela. Siap mengantar
yang singgah kemana saja yang disuka. Jendela yang berdoa, kadang berlayar
menuju bunga seroja yang ditanam dalam bantalnya yang merah senja. Senja memang
tempat berlabuh, dari kesal, pergulatan pajang mencapai tiang kehidupan.
Bila malam menjelang, ia menjemputku. Berburu waktu, aku
menunggang di pundaknya., dibalut kawat berduri yang berdiri. Perlu kau tahu,
tak ada yang rapuh dalam usianya yang keruh.
Lihatlah rambutnya, kau akan bergelayut menikmati hangat
jagung rebus di musim hujan, bersama secangkir teh penutup kemarau yang malang.
Perempuan dalam pigura, siapa yang menyangka, ia yang tak
pernah menyerah merawat biji dalam saku tubuhnya. Biji yang terus tumbuh
menembus batas pigura.

batas pigura. ataukah batas bianglala? Siiippp bossss..........
ReplyDelete