Skip to main content

Perempuan dalam Pigura



Seperti yang kau tahu, wajahnya adalah jendela. Siap mengantar yang singgah kemana saja yang disuka. Jendela yang berdoa, kadang berlayar menuju bunga seroja yang ditanam dalam bantalnya yang merah senja. Senja memang tempat berlabuh, dari kesal, pergulatan pajang mencapai tiang kehidupan. 



Bila malam menjelang, ia menjemputku. Berburu waktu, aku menunggang di pundaknya., dibalut kawat berduri yang berdiri. Perlu kau tahu, tak ada yang rapuh dalam usianya yang keruh.

Lihatlah rambutnya, kau akan bergelayut menikmati hangat jagung rebus di musim hujan, bersama secangkir teh penutup kemarau yang malang.

Perempuan dalam pigura, siapa yang menyangka, ia yang tak pernah menyerah merawat biji dalam saku tubuhnya. Biji yang terus tumbuh menembus batas pigura.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir