Skip to main content

Tali



Tali yang kuputus setahun yang lalu warnanya kelabu. Hampir hitam mencekam. Dan bahkan memang seharusnya diputus.

Tiga tahun sebelum berwarna kelabu, warnanya biru bercorak bunga-bunga. Kita sendiri yang menyambung tali itu. Merajutnya seindah mungkin walaupun kadang ada saja tali yang kusut dengan sendirinya. Lalu dengan penuh cinta (ketika itu), aku entah kau bersedia memperbaikinya. Mengganti tali yang nyaris putus dengan tali yang baru. Kita bahkan tak rela kalau sampai talinya putus.

Tahun-tahun berikutnya, kita mulai lelah menyiram bunganya. Satu per satu bunganya layu. Ah tak apa yang penting bukan talinya yang putus. Mungkin itu yang aku pikirkan ketika itu, berharap seketika bunga itu bersemi kembali. Kau bagaimana?, hanya diam. Ya dalam diammu aku bahkan banyak belajar. Belajar menikmati hariku dengan diriku sendiri, dengan bayanganku. Dan aku sangat menikmatinya. Saat itulah aku belajar bagaimana memutuskan tali yang benar. Tali yang bunganya bahkan telah mati. Ah aku tak peduli. Bunganya aku pindahkan. Bukan di tali itu lagi. Tapi di hatiku sendiri. Kalau kau mau, mampirlah. Tapi jangan berlama-lama,aku bahkan tak pernah sudi. Oh iya satu lagi, jangan sampai kau memetik bunganya. Bunga ini hanya untuk dua orang yang telah menungguku, yang telah menempatkanku di hatinya, sepanjang hidupnya.

Hari ini, aku bahkan telah tau ada tali lain yang kau rajut. Tak masalah. Toh aku juga tak peduli. Bahkan aku sendiri yang telah memutus tali kita setahun lalu. Kita?, iya aku dan kau. Kau yang banyak mengajariku tentang diammu. Banyak hal yang harus aku lakukan. Bukan untukmu, tapi untuk bayangan lain yang akan menjemputku di ujung sana, juga dua orang yang telah mendorongku dengan semangat dan doanya.

Tentang tali itu, sudahlah…

Belum saatnya, itu kata dua orang yang aku ceritakan sebelumnya.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Dua Bersaudara

Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

Ucapan Sederhana Anak Pertama

14 Juli 2013 pukul 13:20  " Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",   : Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…  Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…   Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai. Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Ra...