Tali yang kuputus setahun yang lalu warnanya kelabu. Hampir
hitam mencekam. Dan bahkan memang seharusnya diputus.
Tiga tahun sebelum berwarna kelabu, warnanya biru bercorak
bunga-bunga. Kita sendiri yang menyambung tali itu. Merajutnya seindah mungkin
walaupun kadang ada saja tali yang kusut dengan sendirinya. Lalu dengan penuh
cinta (ketika itu), aku entah kau bersedia memperbaikinya. Mengganti tali yang
nyaris putus dengan tali yang baru. Kita bahkan tak rela kalau sampai talinya
putus.
Tahun-tahun berikutnya, kita mulai lelah menyiram bunganya.
Satu per satu bunganya layu. Ah tak apa yang penting bukan talinya yang putus. Mungkin
itu yang aku pikirkan ketika itu, berharap seketika bunga itu bersemi kembali. Kau
bagaimana?, hanya diam. Ya dalam diammu aku bahkan banyak belajar. Belajar menikmati
hariku dengan diriku sendiri, dengan bayanganku. Dan aku sangat menikmatinya. Saat
itulah aku belajar bagaimana memutuskan tali yang benar. Tali yang bunganya
bahkan telah mati. Ah aku tak peduli. Bunganya aku pindahkan. Bukan di tali itu
lagi. Tapi di hatiku sendiri. Kalau kau mau, mampirlah. Tapi jangan
berlama-lama,aku bahkan tak pernah sudi. Oh iya satu lagi, jangan sampai kau
memetik bunganya. Bunga ini hanya untuk dua orang yang telah menungguku, yang
telah menempatkanku di hatinya, sepanjang hidupnya.
Hari ini, aku bahkan telah tau ada tali lain yang kau rajut.
Tak masalah. Toh aku juga tak peduli. Bahkan aku sendiri yang telah memutus
tali kita setahun lalu. Kita?, iya aku dan kau. Kau yang banyak mengajariku
tentang diammu. Banyak hal yang harus aku lakukan. Bukan untukmu, tapi untuk bayangan
lain yang akan menjemputku di ujung sana, juga dua orang yang telah mendorongku
dengan semangat dan doanya.
Tentang tali itu, sudahlah…
Belum saatnya, itu kata dua orang yang aku ceritakan
sebelumnya.
Jdulnya cukup "TALI"mungkin lebih menarik
ReplyDeleteokeboss.. aku revisi. haha
ReplyDelete