Mencangkuli kulitmu berarti mengubek kedalaman
tubuhmu. Menyelinap melewati abu-abu bolamu, menyeberangi jembatan yang
mengapit antara kau dan aku. Aku rindu saat-saat kau pergi dan berkata bahwa
kita tak akan berjumpa. Ya! Kau pergi melewati jendela-jendela bulat yang
didalamnya timbul tenggelam cerita tentangku, tentang cangkul yang
mengorek-ngorek kedalaman tubuhmu. Tak usah kenang aku sebagai cangkul, sebab
aku tak lagi mau. Pergilah melewati jendela-jendela itu, kau terhimpit, pun
aku. Cangkulku menunggu kulit-kulit lain yang siap aku jelajahi menuju matahari
tempat terakhirku
Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...
Comments
Post a Comment