Skip to main content

Mencangkuli Kulitmu




Mencangkuli kulitmu berarti mencangkuli kenangan. Yang terjungkal dari balon udaramu dan lantas mengapung sekenanya. Semburat keluar jendela. Nyangkut di ranting. Terbang lagi. Nyangkut lagi. Dan terus seperti itu. Lantas menyelinap ke ubunku. Seperti naga berenang di kuali, mengapung tak menentu.

Mencangkuli kulitmu berarti mengubek kedalaman tubuhmu. Menyelinap melewati abu-abu bolamu, menyeberangi jembatan yang mengapit antara kau dan aku. Aku rindu saat-saat kau pergi dan berkata bahwa kita tak akan berjumpa. Ya! Kau pergi melewati jendela-jendela bulat yang didalamnya timbul tenggelam cerita tentangku, tentang cangkul yang mengorek-ngorek kedalaman tubuhmu. Tak usah kenang aku sebagai cangkul, sebab aku tak lagi mau. Pergilah melewati jendela-jendela itu, kau terhimpit, pun aku. Cangkulku menunggu kulit-kulit lain yang siap aku jelajahi menuju matahari tempat terakhirku

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi