Skip to main content

Selamat Sore Kelabu, Fai



Selamat sore kelabu,Fai…

Sudah lama rupanya kita tak bertatap, sampai lupa seperti apa rupamu. Kau masih ingat aku kan?, jangan panggil aku kelinci!. Aku ini trembesi,Fai. Sekali lagi trembesi yang utuh, bukan yang tumbang rantingnya. Yang kalau ada bianglala, akan berperosot ke arahnya.

Fai, sayang sekali kita sudah lama tak bertatap. Padahal aku sudah menyiapkan banyak peta di mataku. Peta yang siap mengantarmu kemana saja. Tapi hati-hati,fai. Sebab mataku licin, aku tak bisa berlama-lama dalam tatapanmu, sedang matamu bulat dan dalam. Sampai sampai aku sering terjebak dalam matamu. Sumur yang mengairimu itu.

Fai, aku sudah mendapatkan sepatu kuningnya!. Sepatu kuning bergambar kumbang dengan sayap penuh percabangan. Sekarang kumbangnya dua. Hitam dan coklat. Kumbang yang akan aku titipkan padamu,seperti aku membiarkanmu menjelajahi petaku.

Fai, ini sore kelabu. Dan aku tak suka!, sore yang bimbang akan pergi kemana. sore yang lupa janjinya pada kita.

Fai,fai… sini, kesini!. Aku bisiki…
Aku punya rahasia besar. Sebesar gajah yang mukanya merah. Gajah yang pemalu. Fai, jangan lihat gajahnya. Ia malu!

Katanya padaku, ia ingin melayari mimpiku. Mimpi yang menembus mimpimu.

Aku tak suka,Fai. Aku tak mau gajah pemalu itu merobek mimpiku, juga tahu jalan rahasia menuju mimpimu. Bunga tidur yang telah bersemi di pucukmu.

Fai, kau sudah membangunkan raksasanyakah?

Kalau kau tak mau, biar aku saja. Sirami saja dengan gulali. Raksasanya suka gulali,Fai. Gulali yang kita bawa dari bianglala kemarin. Masih ingat kan dengan bianglala kita?
Tempat kita menatap dari atas yang tak berbatas. Bukan menjadikan kita congkak,Fai. Tapi menjadikan kita percaya bahwa ada Sang Sutradara yang tak luput mengatur jalan ceritanya. Tak luput,Fai..

Fai, maukah esok menemaniku ke rumah hujan?

Rumah Hujan yang akan mengantarkan pada kesempurnaan. Ingat Fai, tak ada yang sempurna kecuali Tuhan. Yang telah merangkaiku juga kau. Dan melemparkan kita pada lubang tempat biasa manusia ditanam. Lalu tanpa pilihan tubuh lebur jadi abu. Entah wewangian yang datang ataukah bau bangkai yang beterbangan. Itu pilihan Tuhan. Ingat,Fai! Kita tak genap umur untuk memilih.

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Dua Bersaudara

Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

Ucapan Sederhana Anak Pertama

14 Juli 2013 pukul 13:20  " Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",   : Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…  Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…   Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai. Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Ra...