Skip to main content

Gajah yang Bersepeda Coklat



Gajah yang bersepeda coklat, matanya bulat seperti bola. Menggelinding diantara bunga-bunga kertas yang melekat di bajunya. Sedang kupu-kupu menarikan lagu lapar, berburu nektar.

Telinganya lebar, menangkap kelelawar yang memanjat pohon jambu di rumah tua. Kalau malam tiba, jambu tumbuh jadi lautan. Tempat ikan-ikan bersiulan dan masuk ke dalam belalainya yang gulita.

Gajah yang bersepeda coklat, memakai headset di telinga, juga binatang malam yang bertengger dengan santainya. Belalainya menari. Mengikuti irama malam dalam bongkah cahaya. Ada yang memindahkan matahari malam ini. Tepat diatas sepeda coklatnya yang mulai lelah. Tapi headset di telinga lebih berkuasa darinya.

Saatnya tiba!. Sepeda coklat tumbang dalam tawa kumbang juga kaki bersepatu pantofel  yang hitam mengkilat.

Gajah tak bersepeda coklat. Menangis dalam hati. Hanya sepasang pantofel  dan juga headset yang membawanya menjelajahi langit malam yang bertabur kacang.


Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi