Skip to main content

Rajah di Punggung Tanganku


Rajah di punggung tanganku
masih seperti dahulu
sebagai kupu-kupu
yang kau lukiskan di hari yang biru

Aku akan menjelajahinya
Merekam yang ada dengan suka cita
Segenggam surga yang juga kau tanam
di tangan

Kupu-kupunya terbang
Mencari nektar
Kaukah yang memilikinya?
Wangi semerbak yang kutabuh
dan runtuh
dari tangkai yang kutitipkan di celah tubuhmu

Bila ia datang, dan menanyakanku
Bilang aku pergi jauh
Berlabuh menuju senja
Tempat biasa aku menemuimu
Melukiskan  rajah yang lain
Tentang naga yang mengajarkanku merdeka

Hari ini,
Aku bawa bianglala untukmu
Sebagai rajah yang tak selesai kau lukiskan untukku
Lalu, kurelakan naga ini untukmu
Yang akan mengajarimu menari
Dalam terik mangkuk
Yang mengajakmu pergi

Rajah di punggung tanganku,
Seperti bekas ladang yang kau cangkul
Di petang yang usai
Sehabis matahari berenang di hujan yang pulang

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi