14 Juli 2013 pukul 13:20
" Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",
: Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…
Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…
Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai.
Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Rakasasa yang suka makan bubur. Rakasasa yang suka menculik anak yang tak mau tidur siang. Panggil saja Mak Buta. Haha… saat itu usiaku masih lima tahun, saat aku masih sangat percaya Mak Buta itu benar-benar nyata. Sekarang, saat usiaku juga masih kurang dari separuh usiamu, aku mengerti ternyata Mak Buta adalah ramah yang sangat suka bercerita. Hahaha…
Juga cerita tentang pelayaran seorang ibu ke bulan untuk mengambilkan sepotong bulan untuk anaknya. Lalu suaramu menyanyikanku “Ambilkan Bulan,Bu” pada setiap pengantar tidurku. Atau mungkin saat kau masih sangat suka merekam suara tangisan kecilku yang tak mau berhenti. Suara tangisan yang lebay, lalu sesaat setelah mendengar suara rekaman buatanmu, aku akan tersipu malu. Haha..
Atau lagi saat kau membuatkanku layang-layang berwarna merah dengan gambar kerbau hitam di tengah, persis dengan lambang salah satu partai politik. Haha… jangan-jangan kau politikus waktu itu.
Tapi cerita kita lebih banyak berakhir pada pagelaran teater di malam-malam buta, juga pameran lukisan di kota ini. Ibu yang betina selalu saja melarangku untuk ikut bersamamu waktu itu lantaran mengira aku akan mengantuk sebelum pentas usai, selain yang datang ke acara itu adalah lebih banyak lelaki. Ah.. tak apa. Aku ini fleksibel, bu… Lain halnya dengan anak kedua yang jantan, lebih suka merengek untuk ikut, tapi akan tertidur pulas bahkan sebelum pentas dimulai, atau merengek pulang melihat teman-teman ramah yang “aneh” menurutnya. Ya.. begitulah kami, anak pertama dan anak kedua sangatlah berbeda. Anak pertama yang suka bercerita dan anak kedua yang lebih suka bermain dengan kreatifitasnya. Sekali lagi, kami berbeda!
Maka tak heran aku tak kuasa menolak untuk tidak menjawab “menjadi seniman” saat guru SD kelas satuku bertanya cita-citaku. Haha…
Saat guru-guruku mengikutkanku lomba baca puisi pada setiap kesempatan lomba. Juga pada setiap perpisahan kelas. Betapa kau sangat tak suka aku membaca puisi. Betapa kau tak suka jawaban “ menjadi seniman”ku dulu. Sekarang aku mengerti alasanmu, dan aku tak mau lagi.
“Menulis sajalah, suaramu jelek!” itu alasanmu ketika itu, ketika aku mencoba berlatih membaca puisi kepadamu. Betapa kita tak pernah bersatu dalam hal ini. Hahaha…
Sekarang aku mengerti alasanmu yang sesungguhnya, selain alasanmu ketika itu. Anak pertamamu ini menjadi sangat malu untuk membaca puisi sekarang.
Kita sudah semakin tua rupanya!.
Sekarang sudah tak ada lagi cerita Mak Buta, juga lagu “Ambilkan Bulan, Bu”. Hehe… Waktu yang telah banyak kita lewatkan dengan berbagai diskusi bebas, juga pada kaleng hitam (kamera lubang jarum), dan hunting gambar amatiran. Diskusi sengit yang kalau sudah dirasa tak berujung akan berakhir pada segelas jus buah di taman kota, atau hunting gambar di pelabuhan. Haha…
Sekarang aku dalam perjalanan menuju tujuanku, saat kau telah melewati berbagai perjalanan yang penuh suka,duka,luka, tapi sungguh sangat bermakna.
“Hidup sederhana, tapi bermakna”, selalu kau katakan pada kami, anak pertama dan anak keduamu. Aku telah memilih percabangan lain, jalan yang dulu menurutmu tak baik untukku, sudah aku buang dari pilihanku, walaupun saat ini aku masih tetap pada hobi berceritaku. Ini hiburan, sungguh ini hiburan untukku. aku dibebani banyak cerita, sehingga tak mungkin aku pendam sendiri.
Terlalu banyak yang kita lewatkan hingga tak mungkin aku uraikan satu per satu.
Aku sudah menemukan ritmenya, mah. Terima kasih atas doa-doamu dan wanita pertamamu untuk anak pertama dan anak keduamu ini. Kami bahkan tak pernah lupa bahwa kami diterbitkan dari doa. Semoga kami bisa mempertahankan apa yang telah kami dapatkan. Semoga kami selalu di berikan kemudahan pada setiap perjalanan kami. Semoga kami tetap konsisten dengan kejujuran yang telah ditanamkan. Semoga kami menjadi pribadi yang memberikan manfaat pada lingkungan tempat kami berpijak. Semoga cita-cita yang telah kami tanam, dapat lekas melekat di tangan dengan penuh keberkahan. Semoga…..Aamiin….
SELAMAT MEMULAI USIA BARU, BOSS HIDAYAT RAHARJA…
(untukmu,dari anak-anakmu)
*ramah adalah sapaan ayah dalam bahasa madura
" Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",
: Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…
Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…
Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai.
Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Rakasasa yang suka makan bubur. Rakasasa yang suka menculik anak yang tak mau tidur siang. Panggil saja Mak Buta. Haha… saat itu usiaku masih lima tahun, saat aku masih sangat percaya Mak Buta itu benar-benar nyata. Sekarang, saat usiaku juga masih kurang dari separuh usiamu, aku mengerti ternyata Mak Buta adalah ramah yang sangat suka bercerita. Hahaha…
Juga cerita tentang pelayaran seorang ibu ke bulan untuk mengambilkan sepotong bulan untuk anaknya. Lalu suaramu menyanyikanku “Ambilkan Bulan,Bu” pada setiap pengantar tidurku. Atau mungkin saat kau masih sangat suka merekam suara tangisan kecilku yang tak mau berhenti. Suara tangisan yang lebay, lalu sesaat setelah mendengar suara rekaman buatanmu, aku akan tersipu malu. Haha..
Atau lagi saat kau membuatkanku layang-layang berwarna merah dengan gambar kerbau hitam di tengah, persis dengan lambang salah satu partai politik. Haha… jangan-jangan kau politikus waktu itu.
Tapi cerita kita lebih banyak berakhir pada pagelaran teater di malam-malam buta, juga pameran lukisan di kota ini. Ibu yang betina selalu saja melarangku untuk ikut bersamamu waktu itu lantaran mengira aku akan mengantuk sebelum pentas usai, selain yang datang ke acara itu adalah lebih banyak lelaki. Ah.. tak apa. Aku ini fleksibel, bu… Lain halnya dengan anak kedua yang jantan, lebih suka merengek untuk ikut, tapi akan tertidur pulas bahkan sebelum pentas dimulai, atau merengek pulang melihat teman-teman ramah yang “aneh” menurutnya. Ya.. begitulah kami, anak pertama dan anak kedua sangatlah berbeda. Anak pertama yang suka bercerita dan anak kedua yang lebih suka bermain dengan kreatifitasnya. Sekali lagi, kami berbeda!
Maka tak heran aku tak kuasa menolak untuk tidak menjawab “menjadi seniman” saat guru SD kelas satuku bertanya cita-citaku. Haha…
Saat guru-guruku mengikutkanku lomba baca puisi pada setiap kesempatan lomba. Juga pada setiap perpisahan kelas. Betapa kau sangat tak suka aku membaca puisi. Betapa kau tak suka jawaban “ menjadi seniman”ku dulu. Sekarang aku mengerti alasanmu, dan aku tak mau lagi.
“Menulis sajalah, suaramu jelek!” itu alasanmu ketika itu, ketika aku mencoba berlatih membaca puisi kepadamu. Betapa kita tak pernah bersatu dalam hal ini. Hahaha…
Sekarang aku mengerti alasanmu yang sesungguhnya, selain alasanmu ketika itu. Anak pertamamu ini menjadi sangat malu untuk membaca puisi sekarang.
Kita sudah semakin tua rupanya!.
Sekarang sudah tak ada lagi cerita Mak Buta, juga lagu “Ambilkan Bulan, Bu”. Hehe… Waktu yang telah banyak kita lewatkan dengan berbagai diskusi bebas, juga pada kaleng hitam (kamera lubang jarum), dan hunting gambar amatiran. Diskusi sengit yang kalau sudah dirasa tak berujung akan berakhir pada segelas jus buah di taman kota, atau hunting gambar di pelabuhan. Haha…
Sekarang aku dalam perjalanan menuju tujuanku, saat kau telah melewati berbagai perjalanan yang penuh suka,duka,luka, tapi sungguh sangat bermakna.
“Hidup sederhana, tapi bermakna”, selalu kau katakan pada kami, anak pertama dan anak keduamu. Aku telah memilih percabangan lain, jalan yang dulu menurutmu tak baik untukku, sudah aku buang dari pilihanku, walaupun saat ini aku masih tetap pada hobi berceritaku. Ini hiburan, sungguh ini hiburan untukku. aku dibebani banyak cerita, sehingga tak mungkin aku pendam sendiri.
Terlalu banyak yang kita lewatkan hingga tak mungkin aku uraikan satu per satu.
Aku sudah menemukan ritmenya, mah. Terima kasih atas doa-doamu dan wanita pertamamu untuk anak pertama dan anak keduamu ini. Kami bahkan tak pernah lupa bahwa kami diterbitkan dari doa. Semoga kami bisa mempertahankan apa yang telah kami dapatkan. Semoga kami selalu di berikan kemudahan pada setiap perjalanan kami. Semoga kami tetap konsisten dengan kejujuran yang telah ditanamkan. Semoga kami menjadi pribadi yang memberikan manfaat pada lingkungan tempat kami berpijak. Semoga cita-cita yang telah kami tanam, dapat lekas melekat di tangan dengan penuh keberkahan. Semoga…..Aamiin….
SELAMAT MEMULAI USIA BARU, BOSS HIDAYAT RAHARJA…
(untukmu,dari anak-anakmu)
*ramah adalah sapaan ayah dalam bahasa madura
Comments
Post a Comment