Skip to main content

Kebun Angka



Dan ini benar-benar terjadi.  Ya terjadi. Kemarin. Saat quiz kalkulus II, saat aku tengah bergelut dengan angka, yang benar-benar tak pasti nilainya. Aku mencoba menerka, 5 jariku yang menari bersama sang pena. Menerka walau tak pasti hasilnya. Bilangan natural, tak hingga, l'hopital, atau entah apalah itu namanya yang sepertinya juga tak peduli padaku.
Lalu aku karang semua hasilnya, dan tiba-tiba, kau tahu? 3 jari kananku hilang, tinggal ibu jari dan telunjuk yang masih menari degan pena itu. Aku bingung, 3 jariku masuk ke dalam lembar jawaban. Bagaimana ini? Aku tengok lembar jawaban untuk mengorek ketiga jariku. Tapi yang terjadi malah kepalaku juga masuk ke dalam lembar jawaban. Ahh, menyebalkan! Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa mengumpukan lembar jawaban ini?


Perlahan aku lenggokkan tubuhku di atas lembar jawaban untuk menarik kepala dan ketiga jari kananku, tapi... ahh sial !! Tubuhku juga tertarik ke dalam lembar jawaban. Hanya kedua jari kanan dan penaku yang tetap menari.
Dalam lembar jawaban aku terperangkap di kebun angka, angka yang aku karang tadi, lucu sekali. Aku bertemu dengan makhluk setengah angka, berbadan manusia dan berkepala angka. Ada ikan yang berekor tak hingga dan bebas berenang di udara. Dan yang mengagetkan adalah aku bertemu Rahasita. Iya! Wanita keturunan kerajaan bulan yang sudah mati itu, yang jazadnya masih tertinggal di bulan. Dia berkepala payung bianglala, berkumis seperti Rahasima, kucing Nini Anteh yang juga tinggal di bulan itu dan ia bermotif angka. Entah aku harus tertawa atau mungkin harus menangis sampai di kebun angka ini. Rahasita berbahasa angka. Aku tak mengerti. Aku ingin kembali, untuk mengumpulkan lembar jawaban tadi,tak mungkin hanya 2 jariku yang mengumpulkannya. Ahh sial, aku terjebak !!
Aku benci terjebak, sebab ada misi bersama kehidupan yang belum aku selesaikan. Kau ingin tahu misinya? Maaf ini rahasia. Hidupku penuh kerahasiaan. Aku tak mau ada yang tahu,  biar aku, kehidupan, dan pengintai saja yang tahu. Begitu pun jawaban quiz kalkulus tadi, rahasia!! Aku masih di kebun angka. Ada pohon-pohon yang bisa mengintegralkan apa saja. Ya, apa saja. Aku juga bisa diintegralkan. Tapi aku tak mau, sebab aku masih ingin kembali ke duniaku. Disana aku lihat antrian panjang pasangan muda-mudi yang ingin diintegralkan. Keren katanya,entah darimana sisi keren itu aku juga tak tahu. Sementara yang lain mengantri,ada pasangan muda-mudi yang telah diintegralkan. Mereka saling menggantungi satu sama lain sebagai batas atas dan batas bawah integral. Mereka tertawa, puas sekali. Sementara aku masih bingung dengan dunia ini. Sekali lagi aku bingung, tak suka terjebak.
Lalu aku menelusuri jalan lain, menoleh kanan kiri yang  terlihat hanyalah makhluk-makhluk aneh. Sepatu-sepatu kuning bergelantungan bersama kumbang, lalu ada naga berekor angka yang terbang sekenanya. Kesal sekali saat ekornya mengibasku.  Heiii!!  Lihat!  Itu ada lorong warna warni. Silau. Mataku tak bisa melek. Sambil menutup mataku, aku memberanikan diri untuk mendekat, melihat lebih dekat, namun aku tak melihat apa-apa hanya cahaya yang terang sekali. Aku mencoba memasuki lorong itu. Dan, wooooow ada banyak kaca di dalamnya. Perlahan, aku mengintip, perlahan sekali. Ada banyak tabung reaksi yang mengepul didalam kaca,warna warni. Ada juga bau ester yang memenuhi lorong itu, bau apel, mangga, kesemek, bau juwet pun ada. Sampai-sampai aku bingung, bau mana yang harus kuteguk, sebab mereka semaunya sendiri tanpa bertanya masuk ke dalam goaku, ya goaku sendiri. Hmm… atau mungkin ini adalah komposisi pelangi? Yeeeeeyy…aku mau pelangi, batinku kegirangan. Aku tetap menelusuri lorong itu. It’s like a magic. Dari tabung reaksi yang berwarna warni itu, mengepul gas yang warna-warni juga. Lalu dari gas-gas itu menetas angka-angka baru, baru! Sampai-sampai aku tak tahu itu angka berapa.
“Heiiii kau, yang bersembunyi dibalik dedaunan. Kemarilah!. Beri aku tahu angka berapa yang tengah kuhadapi ini.” Lalu dari balik dedaunan itu muncul makhluk yang melompat, lentur sekali, yah makhluk itu benar-benar elastis dengan per yang menempel di kedua kakinya yang berbentuk angka nol. Nol yang bergerigi seperti gear yang menjadi identitas almamaterku.
“ Kau siapa ?“ kataku. Makhluk seperempat mesin itu diam,tak menjawab pertanyaanku, hanya melompat-lompat dalam diamnya. “ Kau dari mana dan akan kemana? Apa kau juga tersesat sepertiku?” Makhluk itu tetap saja diam, dengan lompatannya pastinya. Hah… ya sudah. Kalau begitu aku juga diam saja. Dan tanpa disangka-sangka sederetan angka semburat dari mulutnya yang berbentuk segitiga.
“ Beta Cos Simpson Gearard, Gearard. Panggil aku Gearard. Aku adalah pengawal raja Gearge dari kerajaan mesin, aku kabur ke kebun angka ini, sebab raja beniat memotong gear kakiku ini. Ya, memang sih raja sengaja membiakkan gear ini ditubuhku. Tapi aku tak suka. Ini bagian tubuhku. Aku tak suka jika seluruh bagian tubuhku diambil.” Gearard yang awalnya melompat, kini terdiam. Diam sekali.
Lalu dengan diamnya, aku menjawab, “ tapi apakah kau tak ingin berbakti pada rajamu ? Oh ya kenalkan aku Tsuya Faihara. Teman-teman biasa memanggilku Fai. Aku tersesat di kebun ini. Dan aku bingung dengan apa aku harus kembali.”
“Aku ingin, ingin sekali berbakti pada rajaku. Tapi apakah harus dengan kehilangan kaki yang telah ditanamkan padaku sejak aku kecil ini?, tolonglah Fai, tolong bantu aku,” katanya.
“Aku akan membantumu, aku akan berpikir keras untuk gear kesayanganmu itu. Tapi aku butuh tempat yang tenang untuk memikirkan itu. Aku tak bisa berpikir dalam keadaan tertekan seperti ini , dengan  ribuan angka-angka baru yang muncul dari tabung reaksi ini,” kataku sembari menunjuk angka-angka yang muncul dari tabung reaksi. “ oke kalau begitu kau harus ikut aku ke tempat persembunyianku selama ini.”
Gearard lalu melompat-lompat dan aku mengikuti berjalan di belakangnya. Kita melewati hujan ester yang membuat orang pusing mencium baunya. Gearard mengajakku ke semak dekat sungai yang airnya berwarna ungu. Lalu kami duduk di pinggir sungai yang ungu itu.
“Lalu bagaimana Fai, apakah kau sudah bisa berpikir di tempat ini?, tolong bantu aku Fai,” Gearard memohon.
Aku hanya diam, aku juga butuh bantuan untuk keluar dari kebun ini. Jawaban quiz kalkulusku belum aku kumpulkan Gearard, batinku. “ Hmm. Oke Gearard, akan aku coba. Tinggalkan aku sendiri ya.  Sebentar saja.”
“Oke, aku akan mencari buah angka untuk kita, kamu pasti lapar kan?, kau pasti akan suka buah angka.” Katanya seraya pergi meninggalkanku.
Buah angka? Seperti apa? Ya, semoga setelah aku memakannya aku menjadi professor kalkulus. Batinku dengan gobloknya. Saat aku tengah berpikir untuk membantu Gearard, tiba-tiba ide itu muncul. Ya, tentang luas daerah dibawah kurva yang pernah diajarkan oleh bu Alvida dosen kalkulusku, ini berhubungan dengan gear pada tubuh Gearard. Yeee… aku bisa berguna bagi orang lain, eh maksudku makhluk lain. Gearard kan bukan manusia, tapi makhluk mesin. Ya, aku bisa memotong gear di tubuh Gearard sesuai dengan luas permukaan di bawah kurva yang pernah aku dapat di kelas kalkulus beberapa waktu lalu. Gearard pasti senang, sebab ia tak akan kehilangan seluruh kakinya itu, dan pastinya ia tetap bisa berbakti pada raja Gearge yang telah merawatnya sejak kecil. 
Saat aku tengah asyik dengan imajiku, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada sungai ungu di depanku. Ya,  di dalam sungai itu berenang macan bermotif kotak-kotak warna hijau berkepala koala, dan berkaki seperti angka dua. Lucu sekali, sedikit menyeramkan memang. Ia berbicara tak karuan, dan aku sedikit enggan mendengarkannya. Perlahan aku mendengar kata-kata yang semburat dari mulutnya. Hah? Ia bilang didalam darahku ada 4 integral dan 4 fungsi yang tersangkut ingin keluar. Lalu mengalir juga dengan deras kata-kata aneh yang macan itu sendiri tidak mengerti. Ia akan membantuku mengeluarkan integral itu. Macan itu pintar sekali. Kami berkenalan. Ya, aku bersalaman dengan kakinya yang berangka dua itu.
“Namaku Fai, Tsuya Faihara. Aku  dari tempat yang jauh sekali, dan aku yakin kau tak tahu tempatnya. Rumahku  berbahan kata-kata yang padat sekali beratap segi banyak dan pelana tanpa kuda-kuda. Ya, pelana tanpa kuda-kuda. Sebab kuda-kudanya lari entah kemana meninggalkan pelananya,”kataku. 
“Namaku Theodore, Diferensial  Theodore. Rumahku di sungai ini. Dan asal kau tahu, di sungai ini banyak kaki berbentuk angka, banyak kepala yang berenang. Sehingga aku bisa mengganti kaki dan kepala kapan pun aku mau,”katanya.
Aku tertegun, ya, ia bisa berganti kepala dan kaki kapan pun ia mau. Lalu kenapa aku tidak bisa? Aku ingin berkepala kata-kata dan berkaki seperti tanda seru atau mungkin tanda tanya. Bagaimana menurutmu, keadaan?
Tak lama kemudian, Gearard datang dengan benda aneh berbentuk trapezium dan berwarna merah marun di tangannya.
“ Hai, Fai…kau sudah kenal dengan Theodore kah?,” katanya padaku yang kaget dengan kedatangannya, sedang Theodore masih asik merendam tubuhnya di sungai ungu.
“ Hai juga Gearard, kedatanganmu cukup mengagetanku, ya kami baru saja berkenalan. Berarti kau sudah mengenal Theodore?  Oh iya benda apa yang kau bawa itu?,”  kataku sambil terheran-heran dengan benda di tangan Gearard.
“ Siapa yang tak kenal Theodore, Theodore adalah peguasa kebun angka ini. Ia makhluk ajaib yang pintar sekali, baik, dan penolong. Ini adalah buah angka, Fai. Kau pasti kaget kan dengan bentuknya yang sama sekali tak mirip angka,” jawabnya sambil menyodorkan buah itu padaku.
“ lalu mengapa kau tak minta bantuan Theodore untuk menyelesaikan masalahmu dengan raja Gearge?, iya bentuknya memang tak mirip angka,” Jawabku.
“Aku sungkan untuk meminta bantuan Theodore, sebab aku terlalu sering meminta bantuannya. Oleh karena itu kau harus bisa mengubah persepsi. Harusnya dengan kau sampai disini, kau harus mengambil banyak ilmu.”
Aku terdiam sejenak. Ya mungkin selama ini aku terlalu asik bersembunyi dalam persepsiku sediri. Terlalu menganggap semua hal sulit dikerjakan, terlalu takut untuk jatuh dalam mimpi yang  ditanam sendiri. Benar kata Gearard, aku harus mengubah persepsi! Pokoknya harus bisa !.
Dan tanpa disangka-sangka Theodore angkat bicara, “ tak perlu takut Fai. Sebab tuhan selalu bersamamu, kau makhluk beragama kan?, kau harus bisa, sebab ibumu melahirkanmu untuk menjadi pemenang, bukan pecundang. Ayahmu berani membesarkanmu, sebab ayahmu masih sangat percaya kau dilahirkan untuk bisa.” Tak kusangka, ternyata Theodore benar-benar sakti. Ia bisa membaca pikiranku.
“ Ya, terimakasih teman-teman, di sini aku benar-benar belajar banyak hal. Aku akan mengubah persepsiku. Aku yakin bisa. Aku yakin mampu. Tapi aku benar-benar ingin kembali ke asalku. Tempatku bukan di sini. Aku harus menjalani keseharianku layaknya manusia biasanya.” Kataku sambil melahap buah angka yang disodorkan Gearard tadi.
 “ Kau pasti akan kembali, tapi nanti, saat kau benar-benar mendapatkan ilmu yang cukup untuk hidup di habitatmu” kata Theodore sambil mengubah bentuk kakinya menjadi sepasang koma.
“ Fai, apakah kau sudah tahu cara agar aku bisa berbakti pada raja, tanpa harus kehilangan semua kakiku?” tanya Gearard padaku. 
“Ya, aku tahu. Kau harus memotong sebagian kaki gearmu itu dengan menghitung luas permukaan minimum yang akan kau berikan untuk raja Gearge. Raja pasti mengerti kenapa kau tak mau memberikan semua gear itu.”
“Tapi gear ini masih bisa tumbuh kan, Fai?” Aku masih sangat mencintainya Fai, dia yang menemani jejakku selama aku hidup,”katanya sambil memengangi kaki gearnya.
“Ya, tentu. Gearmu itu pasti tumbuh. Pasti. Kau bisa meminta bantuan Theodore untuk memotong gear itu,”  kataku meyakinkan.
Gearard hanya terdiam, diam sekali. Aku pun juga begitu. Ya kita sama-sama diam. Tak lama setelah itu ada bis bulat yang keluar dari dalam sungai ungu dan lewat didepan kami. Aku terheran-heran. Dan tanpa diminta menjelaskan Theodore menjawab, “ Bis itu yang akan mengantarkanmu nanti ke habitat asalmu. Tapi nanti saat ilmu hidup yang kau miliki sudah benar-benar cukup. Ingat Fai, ini kesempatan buatmu untuk menjadi lebih baik lagi. Tuhan tak pernah memberi kesempatan ini kepada yang lain. Manusia yang ada di kebun angka ini hanya kau dan Rahasita.”
“Hah? Rahasita? Wanita berpayung bianglala itu kah? Putri dari kerajaan bulan? Cucu Nini Anteh?  Bukankah ia telah lama mati,Theodore? ,”
“Perlu kau tahu Fai, ia belum mati, ia masih punya cadangan 27 nyawa lagi untuk hidup, tuhan sangat mencintainya, sebab ia wanita yang tangguh, maka bersyukurlah saat tuhan masih memberimu kesempatan sebagai manusia yang cengeng, manusia yang banyak mengeluh,” kata Theodore lalu pergi meninggalkanku dan Gearard berdua. Hmm, tak pernah kusangka Theodore begitu frontal memperingatkanku. Aku memang terlalu banyak mengeluh, padahal tak seharusnya begitu.
“Fai, maukah kau mengantarku pergi ke kerajaan mesin? Aku ingin menemui raja Gearge. Aku  ingin memberikan sebagian gear ini untuknya,” kata Gearard mengagetkanku.
“Ya, aku mau Gearard. Apakah kau juga mau membantuku untuk keluar dari kebun ini? Aku ingin kembali ke duniaku biasanya. Ini bukan duniaku. Aku berjanji akan lebih baik lagi setelah aku dari tempat aneh ini.,”
“Ya Fai, aku tahu. Kau pasti tak betah tinggal di kebun angka ini, maka dari itu kau harus bisa menikmati ini semua Fai. Kau ingat kata Theodore kan? Kau adalah orang yang beruntung Fai. Tidak semua orang bisa sampai di tempat ini.”
Aku terdiam. Beruntung? Aku adalah orang yang beruntung?. Hmm.. Tuhan, aku ingin kembali ke duniaku. Ini bukan tempatku. Masih banyak yang harus kukerjakan.
” Kalau aku boleh tahu, kenapa raja Gearge ingin mengambil gear itu? “ kataku mengalihkan pembicaraan.
” Sebab raja tengah sakit, salah satu gear di tubuhnya rusak Fai. Dan karena raja sudah tua, gear yang dibutuhkan raja adalah gear yang utuh, gear tak bisa tumbuh dalam tubuh orang yang tua. Aku harus membiakkan sebagian gear ini di tubuh sepupuku yang baru berumur 5 tahun. Gear itu akan tumbuh lebih cepat pada anak yang masih muda.”
“Apakah sepupumu itu juga tinggal di kerajaan?”
“Ya, Fai. Ayo ikut aku,” katanya meninggalkanku
Aku masih tak mengerti bagaimana aku bisa sampai di tempat ini. Dimana tempat ini berada. Mengapa begitu banyak angka. Aku benar-benar tak tahu. Pun nasib quiz kalkulusku. Aku tak tahu. Entah sudah berapa lama aku meninggalkan duniaku. Aku juga tak tahu. Di tambah lagi sekarang aku tengah berada di kerajaan mesin.
“Fai, jangan melamun! Ayo ikut makan malam dengan keluarga kerajaan di bawah,” kata Gearard padaku.
“Aku tak mau, Gearard. Aku mau pulang. Aku tak mau buah angka. Aku mau nasi, ikan lele, sayur terong. Apa disini ada? Pasti tidak ada. Ini bukan duniaku. Kita berbeda, Gearard!” Kataku menekankan.
“Ya, aku mengerti perasaanmu Fai. Aku hanya ingin mempertemukanmu dengan orang yang special tanda terimakasihku atas bantuanmu menyelesaikan masalahku dengan raja Gearge..”
Aku hanya mengangguk mengikuti langkah Gearard. Melewati anak tangga satu per satu hingga akhirnya sampai di meja makan ini. Aku sedikit kaget dengan kedatangan Rahasita dan seorang nenek yang menggendong kucing hitamnya. Rahasita menggenggam payung bianglala, dengan rambutnya yang dibiarkan terurai. “ Rahasita?, kau benar Rahasita?” Kataku setengah tidak percaya. Rahasita hanya tersenyum “ ya, aku Rahasita. Putri kerajaan bulan. Kenalkan ini keluargaku yang masih tersisa,”katanya sambil menunjuk nenek tua yang tengah menggendong kucing hitam. “ aku anteh,panggil saja Nini Anteh, ini kucingku, Rahasima.”
“Kau Nini Anteh?  Bagaimana mungkin kau bisa sampai di tempat ini? Kau kan yang menunggui bulan selama ini? Bukankah pula kau sudah meninggal?” Nini Anteh tak menjawab, ia tetap bermain-main dengan Rahasima.
Lalu Rahasita menjawab, “Ya benar dia Nini Anteh. Pendengaran Nini Anteh sedikit terganggu, Fai. Kami sampai disini karena tuhan yang mengirimnya. Kamu tak sadar kan Fai kalau kebun angka ini masuk dalam kawasan kerajaan bulan? Kerajaan mesin itu adalah nama lain kerajaan bulan. Karena kehidupan di bulan ini bergantung pada mesin-mesin yang tak kasat mata. Gerarge adalah anak angkat Nini Anteh, sedang aku adalah cucu nini aneh, ayah ibuku sudah meninggal saat berperang melawan pasukan satelit yupiter yang ingin merampas lahan kerajaan bulan. Aku dan Nini Anteh masih punya cadangan 27 nyawa lagi untuk hidup. Makanya kami masih di tempat ini.”
Apa? Aku sampai di bulan? Tuhan… kejutan inikah yang kau berikan padaku. Sejak kecil aku telah menginginkan utuk sampai di bulan, bertemu dengan Nini Anteh. Dan saat ini tuhan mengabulkan permintaanku yang aku tanam sejak dulu itu. Bu, aku di bulan. Dulu aku yang meminta ibu untuk mengambilkan bulan untukku. Aku terdiam lama sekali.
“Fai, kau tak apa kan?” Gearard mengagetkanku dari lamunanku.
“Ya, aku tak apa Gearard. Aku tak percaya dengan kejutan ini. Aku bingung harus bagaimana dengan kejutan ini.”
“Fai, bersiaplah. Kita akan kembali ke bumi. Aku tahu kau ingin kembali ke kehidupanmu yang normal kan? Aku  juga akan kembali ke bumi, sebab aku juga manusia biasa. Hanya saja masih ada darah kerajaan bulan yang mengalir di darahku,” Rahasita tak mau ketinggalan.
 “Ya, aku sudah siap, Sita kalau pun aku harus kembali ke bumi sekarang. Sebab masih banyak yang harus aku selesaikan di bumi. Quiz kalkulusku belum aku kumpulkan, Sita.” Jawabku.
“Oke, bersiaplah, Fai. Sebentar lagi bis angka akan menjemput kita,” jawab Rahasita singkat. Tak lama kemudian bis berbentuk bulat ada di depan kami, ya, di depanku, Rahasita, Gearald, Nini Anteh dan juga Rahasima. Senang rasanya sebab aku akan kembali ke duniaku biasanya. Tapi sedih juga sebab aku belum berbicara banyak dengan Nini Anteh.
“Ayo, Fai,” ajak Rahasita sembari menarik tanganku ke bis bulat itu.
“Oke kita akan meluncur ke bumi, Fai… bersiaplah, pasang sabuk pengamannya,” perintah Rahasita.
Aku hanya mengikuti perintah Rahasita tanpa berkata apa-apa. Lalu aku dan Rahasita melambaikan tangan pada Nini Anteh, Rahasima, dan Gearard. Dari kejauhan yang kulihat hanyalah Gearard yang tengah menangis atas kepergian kami sedang Nini Anteh tetap mengelus Rahasima, kucing hitamnya.
“Sita, kapan kita akan sampai di bumi? ” Kataku polos.
“ Satu detik lagi” katanya singkat.
Dan entah kenapa tiba-tiba saja aku sudah sampai di kelas kalkulusku lagi tanpa Rahasita. Rahasita kemana? Rahasita pergi ke belahan bumi yang lain. Suasana masih sepi, sebab quiz kalkulus masih tetap berlangsung. Padahal rasanya aku telah berhari-hari di kebun angka. Kebun angka tidak hanya memiliki lorong tempat, tapi juga lorong waktu. Tanpa banyak berpikir lagi, aku langsung melengkapi jawaban soal yang belum aku isi. Tapi apa daya, aku masih bingung harus menjawabnya dengan apa. Hingga akhirnya aku berpikir bahwa aku harus mengisinya dengan pengalamanku tadi di kebun angka. Ya, aku harus berbagi ini semua. Sebab tidak semua orang berkesempatan baik seperti aku.
Dengan percaya diri aku tuliskan dengan huruf kapital “KEBUN ANGKA” lalu aku sebutkan satu-satu tokoh di dalamnya “Fai, Gearard, raja Gearge, Theodore, Rahasita, Rahasima, Nini Anteh, bis angka, buah angka, sepatu kuning, kumbang, naga, ikan, hujan ester, kerajaan mesin, kerajaan bulan.”
Lalu lamat-lamat aku tuliskan apa yang telah aku dapatkan di kebun angka “Aku adalah orang yang beruntung, maka aku harus bersyukur, aku akan lebih baik lagi.”,Sepersecond kemudian dosen kalkulusku, Bu Alvida menyuruh kami mengumpulkan lembar jawaban quiz kalkulus, kemudian meninggalkan kelas.
Hari ini, aku benar-benar tak percaya bisa sampai di kebun angka, kerajaan mesin atau kerajaan bulan. Ya! Bulan. Tempat yang sudah aku idam-idamkan sejak kecil dulu. Aku harus menelepon ibu. Ya aku harus memberi tahu ibu bahwa anaknya ini telah sampai di bulan. Bu, biar aku yang mengambikan bulan untukmu. Suatu saat aku akan mengajak ibu ke kebun angka. Ya, kebun angka.




Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Dua Bersaudara

Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

Ucapan Sederhana Anak Pertama

14 Juli 2013 pukul 13:20  " Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",   : Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…  Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…   Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai. Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Ra...