Dan ini benar-benar terjadi.
Ya terjadi. Kemarin. Saat quiz kalkulus II, saat aku tengah bergelut
dengan angka, yang benar-benar tak pasti nilainya. Aku mencoba menerka, 5
jariku yang menari bersama sang pena. Menerka walau tak pasti hasilnya.
Bilangan natural, tak hingga, l'hopital, atau entah apalah itu namanya
yang sepertinya juga tak peduli padaku.
Lalu aku karang semua hasilnya, dan
tiba-tiba, kau tahu? 3 jari kananku hilang, tinggal ibu jari dan telunjuk yang
masih menari degan pena itu. Aku bingung, 3 jariku masuk ke dalam lembar
jawaban. Bagaimana ini? Aku tengok lembar jawaban untuk mengorek ketiga jariku.
Tapi yang terjadi malah kepalaku juga masuk ke dalam lembar jawaban. Ahh,
menyebalkan! Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa mengumpukan lembar
jawaban ini?
Perlahan aku lenggokkan tubuhku di
atas lembar jawaban untuk menarik kepala dan ketiga jari kananku, tapi... ahh
sial !! Tubuhku juga tertarik ke dalam lembar jawaban. Hanya kedua jari kanan
dan penaku yang tetap menari.
Dalam lembar jawaban aku
terperangkap di kebun angka, angka yang aku karang tadi, lucu sekali. Aku
bertemu dengan makhluk setengah angka, berbadan manusia dan berkepala angka.
Ada ikan yang berekor tak hingga dan bebas berenang di udara. Dan yang
mengagetkan adalah aku bertemu Rahasita. Iya! Wanita keturunan kerajaan bulan
yang sudah mati itu, yang jazadnya masih tertinggal di bulan. Dia berkepala
payung bianglala, berkumis seperti Rahasima, kucing Nini Anteh yang juga
tinggal di bulan itu dan ia bermotif angka. Entah aku harus tertawa atau
mungkin harus menangis sampai di kebun angka ini. Rahasita berbahasa angka. Aku
tak mengerti. Aku ingin kembali, untuk mengumpulkan lembar jawaban tadi,tak
mungkin hanya 2 jariku yang mengumpulkannya. Ahh sial, aku terjebak !!
Aku benci terjebak, sebab ada misi
bersama kehidupan yang belum aku selesaikan. Kau ingin tahu misinya? Maaf ini
rahasia. Hidupku penuh kerahasiaan. Aku tak mau ada yang tahu, biar aku,
kehidupan, dan pengintai saja yang tahu. Begitu pun jawaban quiz kalkulus tadi,
rahasia!! Aku masih di kebun angka. Ada pohon-pohon yang bisa mengintegralkan
apa saja. Ya, apa saja. Aku juga bisa diintegralkan. Tapi aku tak mau, sebab
aku masih ingin kembali ke duniaku. Disana aku lihat antrian panjang pasangan
muda-mudi yang ingin diintegralkan. Keren katanya,entah darimana sisi keren itu
aku juga tak tahu. Sementara yang lain mengantri,ada pasangan muda-mudi yang
telah diintegralkan. Mereka saling menggantungi satu sama lain sebagai batas
atas dan batas bawah integral. Mereka tertawa, puas sekali. Sementara aku masih
bingung dengan dunia ini. Sekali lagi aku bingung, tak suka terjebak.
Lalu aku menelusuri jalan lain,
menoleh kanan kiri yang terlihat hanyalah makhluk-makhluk aneh.
Sepatu-sepatu kuning bergelantungan bersama kumbang, lalu ada naga berekor
angka yang terbang sekenanya. Kesal sekali saat ekornya mengibasku.
Heiii!! Lihat! Itu ada lorong warna warni. Silau. Mataku tak bisa
melek. Sambil menutup mataku, aku memberanikan diri untuk mendekat, melihat
lebih dekat, namun aku tak melihat apa-apa hanya cahaya yang terang sekali. Aku
mencoba memasuki lorong itu. Dan, wooooow ada banyak kaca di dalamnya.
Perlahan, aku mengintip, perlahan sekali. Ada banyak tabung reaksi yang
mengepul didalam kaca,warna warni. Ada juga bau ester yang memenuhi lorong itu,
bau apel, mangga, kesemek, bau juwet pun ada. Sampai-sampai aku bingung, bau
mana yang harus kuteguk, sebab mereka semaunya sendiri tanpa bertanya masuk ke
dalam goaku, ya goaku sendiri. Hmm… atau mungkin ini adalah komposisi pelangi?
Yeeeeeyy…aku mau pelangi, batinku kegirangan. Aku tetap menelusuri lorong itu. It’s
like a magic. Dari tabung reaksi yang berwarna warni itu, mengepul gas yang
warna-warni juga. Lalu dari gas-gas itu menetas angka-angka baru, baru!
Sampai-sampai aku tak tahu itu angka berapa.
“Heiiii kau, yang bersembunyi
dibalik dedaunan. Kemarilah!. Beri aku tahu angka berapa yang tengah kuhadapi
ini.” Lalu dari balik dedaunan itu muncul makhluk yang melompat, lentur sekali,
yah makhluk itu benar-benar elastis dengan per yang menempel di kedua kakinya
yang berbentuk angka nol. Nol yang bergerigi seperti gear yang menjadi
identitas almamaterku.
“ Kau siapa ?“ kataku. Makhluk
seperempat mesin itu diam,tak menjawab pertanyaanku, hanya melompat-lompat
dalam diamnya. “ Kau dari mana dan akan kemana? Apa kau juga tersesat
sepertiku?” Makhluk itu tetap saja diam, dengan lompatannya pastinya. Hah… ya
sudah. Kalau begitu aku juga diam saja. Dan tanpa disangka-sangka sederetan
angka semburat dari mulutnya yang berbentuk segitiga.
“ Beta Cos Simpson Gearard, Gearard.
Panggil aku Gearard. Aku adalah pengawal raja Gearge dari kerajaan mesin, aku
kabur ke kebun angka ini, sebab raja beniat memotong gear kakiku ini. Ya,
memang sih raja sengaja membiakkan gear ini ditubuhku. Tapi aku tak suka. Ini
bagian tubuhku. Aku tak suka jika seluruh bagian tubuhku diambil.” Gearard yang
awalnya melompat, kini terdiam. Diam sekali.
Lalu dengan diamnya, aku menjawab, “
tapi apakah kau tak ingin berbakti pada rajamu ? Oh ya kenalkan aku Tsuya
Faihara. Teman-teman biasa memanggilku Fai. Aku tersesat di kebun ini. Dan aku
bingung dengan apa aku harus kembali.”
“Aku ingin, ingin sekali berbakti
pada rajaku. Tapi apakah harus dengan kehilangan kaki yang telah ditanamkan
padaku sejak aku kecil ini?, tolonglah Fai, tolong bantu aku,” katanya.
“Aku akan membantumu, aku akan
berpikir keras untuk gear kesayanganmu itu. Tapi aku butuh tempat yang tenang
untuk memikirkan itu. Aku tak bisa berpikir dalam keadaan tertekan seperti ini
, dengan ribuan angka-angka baru yang muncul dari tabung reaksi ini,”
kataku sembari menunjuk angka-angka yang muncul dari tabung reaksi. “ oke kalau
begitu kau harus ikut aku ke tempat persembunyianku selama ini.”
Gearard lalu melompat-lompat dan aku
mengikuti berjalan di belakangnya. Kita melewati hujan ester yang membuat orang
pusing mencium baunya. Gearard mengajakku ke semak dekat sungai yang airnya
berwarna ungu. Lalu kami duduk di pinggir sungai yang ungu itu.
“Lalu bagaimana Fai, apakah kau
sudah bisa berpikir di tempat ini?, tolong bantu aku Fai,” Gearard memohon.
Aku hanya diam, aku juga butuh
bantuan untuk keluar dari kebun ini. Jawaban quiz kalkulusku belum aku
kumpulkan Gearard, batinku. “ Hmm. Oke Gearard, akan aku coba. Tinggalkan aku
sendiri ya. Sebentar saja.”
“Oke, aku akan mencari buah angka
untuk kita, kamu pasti lapar kan?, kau pasti akan suka buah angka.” Katanya
seraya pergi meninggalkanku.
Buah angka? Seperti apa? Ya, semoga
setelah aku memakannya aku menjadi professor kalkulus. Batinku dengan
gobloknya. Saat aku tengah berpikir untuk membantu Gearard, tiba-tiba ide itu
muncul. Ya, tentang luas daerah dibawah kurva yang pernah diajarkan oleh bu
Alvida dosen kalkulusku, ini berhubungan dengan gear pada tubuh Gearard. Yeee…
aku bisa berguna bagi orang lain, eh maksudku makhluk lain. Gearard kan bukan
manusia, tapi makhluk mesin. Ya, aku bisa memotong gear di tubuh Gearard sesuai
dengan luas permukaan di bawah kurva yang pernah aku dapat di kelas kalkulus
beberapa waktu lalu. Gearard pasti senang, sebab ia tak akan kehilangan seluruh
kakinya itu, dan pastinya ia tetap bisa berbakti pada raja Gearge yang telah
merawatnya sejak kecil.
Saat aku tengah asyik dengan
imajiku, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada sungai ungu di depanku.
Ya, di dalam sungai itu berenang macan bermotif kotak-kotak warna hijau
berkepala koala, dan berkaki seperti angka dua. Lucu sekali, sedikit menyeramkan
memang. Ia berbicara tak karuan, dan aku sedikit enggan mendengarkannya.
Perlahan aku mendengar kata-kata yang semburat dari mulutnya. Hah? Ia bilang
didalam darahku ada 4 integral dan 4 fungsi yang tersangkut ingin keluar. Lalu
mengalir juga dengan deras kata-kata aneh yang macan itu sendiri tidak
mengerti. Ia akan membantuku mengeluarkan integral itu. Macan itu pintar
sekali. Kami berkenalan. Ya, aku bersalaman dengan kakinya yang berangka dua
itu.
“Namaku Fai, Tsuya Faihara. Aku
dari tempat yang jauh sekali, dan aku yakin kau tak tahu tempatnya.
Rumahku berbahan kata-kata yang padat sekali beratap segi banyak dan
pelana tanpa kuda-kuda. Ya, pelana tanpa kuda-kuda. Sebab kuda-kudanya lari
entah kemana meninggalkan pelananya,”kataku.
“Namaku Theodore, Diferensial
Theodore. Rumahku di sungai ini. Dan asal kau tahu, di sungai ini banyak kaki
berbentuk angka, banyak kepala yang berenang. Sehingga aku bisa mengganti kaki
dan kepala kapan pun aku mau,”katanya.
Aku tertegun, ya, ia bisa berganti
kepala dan kaki kapan pun ia mau. Lalu kenapa aku tidak bisa? Aku ingin
berkepala kata-kata dan berkaki seperti tanda seru atau mungkin tanda tanya.
Bagaimana menurutmu, keadaan?
Tak lama kemudian, Gearard datang
dengan benda aneh berbentuk trapezium dan berwarna merah marun di tangannya.
“ Hai, Fai…kau sudah kenal dengan
Theodore kah?,” katanya padaku yang kaget dengan kedatangannya, sedang Theodore
masih asik merendam tubuhnya di sungai ungu.
“ Hai juga Gearard, kedatanganmu
cukup mengagetanku, ya kami baru saja berkenalan. Berarti kau sudah mengenal
Theodore? Oh iya benda apa yang kau bawa itu?,” kataku sambil
terheran-heran dengan benda di tangan Gearard.
“ Siapa yang tak kenal Theodore,
Theodore adalah peguasa kebun angka ini. Ia makhluk ajaib yang pintar sekali,
baik, dan penolong. Ini adalah buah angka, Fai. Kau pasti kaget kan dengan
bentuknya yang sama sekali tak mirip angka,” jawabnya sambil menyodorkan buah
itu padaku.
“ lalu mengapa kau tak minta bantuan
Theodore untuk menyelesaikan masalahmu dengan raja Gearge?, iya bentuknya
memang tak mirip angka,” Jawabku.
“Aku sungkan untuk meminta bantuan
Theodore, sebab aku terlalu sering meminta bantuannya. Oleh karena itu kau
harus bisa mengubah persepsi. Harusnya dengan kau sampai disini, kau harus
mengambil banyak ilmu.”
Aku terdiam sejenak. Ya mungkin
selama ini aku terlalu asik bersembunyi dalam persepsiku sediri. Terlalu
menganggap semua hal sulit dikerjakan, terlalu takut untuk jatuh dalam mimpi
yang ditanam sendiri. Benar kata Gearard, aku harus mengubah persepsi!
Pokoknya harus bisa !.
Dan tanpa disangka-sangka Theodore
angkat bicara, “ tak perlu takut Fai. Sebab tuhan selalu bersamamu, kau makhluk
beragama kan?, kau harus bisa, sebab ibumu melahirkanmu untuk menjadi pemenang,
bukan pecundang. Ayahmu berani membesarkanmu, sebab ayahmu masih sangat percaya
kau dilahirkan untuk bisa.” Tak kusangka, ternyata Theodore benar-benar sakti.
Ia bisa membaca pikiranku.
“ Ya, terimakasih teman-teman, di
sini aku benar-benar belajar banyak hal. Aku akan mengubah persepsiku. Aku
yakin bisa. Aku yakin mampu. Tapi aku benar-benar ingin kembali ke asalku.
Tempatku bukan di sini. Aku harus menjalani keseharianku layaknya manusia
biasanya.” Kataku sambil melahap buah angka yang disodorkan Gearard tadi.
“ Kau pasti akan kembali, tapi
nanti, saat kau benar-benar mendapatkan ilmu yang cukup untuk hidup di
habitatmu” kata Theodore sambil mengubah bentuk kakinya menjadi sepasang koma.
“ Fai, apakah kau sudah tahu cara
agar aku bisa berbakti pada raja, tanpa harus kehilangan semua kakiku?” tanya
Gearard padaku.
“Ya, aku tahu. Kau harus memotong
sebagian kaki gearmu itu dengan menghitung luas permukaan minimum yang akan kau
berikan untuk raja Gearge. Raja pasti mengerti kenapa kau tak mau memberikan
semua gear itu.”
“Tapi gear ini masih bisa tumbuh
kan, Fai?” Aku masih sangat mencintainya Fai, dia yang menemani jejakku selama
aku hidup,”katanya sambil memengangi kaki gearnya.
“Ya, tentu. Gearmu itu pasti tumbuh.
Pasti. Kau bisa meminta bantuan Theodore untuk memotong gear itu,” kataku
meyakinkan.
Gearard hanya terdiam, diam sekali.
Aku pun juga begitu. Ya kita sama-sama diam. Tak lama setelah itu ada bis bulat
yang keluar dari dalam sungai ungu dan lewat didepan kami. Aku terheran-heran.
Dan tanpa diminta menjelaskan Theodore menjawab, “ Bis itu yang akan
mengantarkanmu nanti ke habitat asalmu. Tapi nanti saat ilmu hidup yang kau
miliki sudah benar-benar cukup. Ingat Fai, ini kesempatan buatmu untuk menjadi
lebih baik lagi. Tuhan tak pernah memberi kesempatan ini kepada yang lain.
Manusia yang ada di kebun angka ini hanya kau dan Rahasita.”
“Hah? Rahasita? Wanita berpayung
bianglala itu kah? Putri dari kerajaan bulan? Cucu Nini Anteh? Bukankah
ia telah lama mati,Theodore? ,”
“Perlu kau tahu Fai, ia belum mati,
ia masih punya cadangan 27 nyawa lagi untuk hidup, tuhan sangat mencintainya,
sebab ia wanita yang tangguh, maka bersyukurlah saat tuhan masih memberimu
kesempatan sebagai manusia yang cengeng, manusia yang banyak mengeluh,” kata
Theodore lalu pergi meninggalkanku dan Gearard berdua. Hmm, tak pernah kusangka
Theodore begitu frontal memperingatkanku. Aku memang terlalu banyak mengeluh,
padahal tak seharusnya begitu.
“Fai, maukah kau mengantarku pergi
ke kerajaan mesin? Aku ingin menemui raja Gearge. Aku ingin memberikan
sebagian gear ini untuknya,” kata Gearard mengagetkanku.
“Ya, aku mau Gearard. Apakah kau
juga mau membantuku untuk keluar dari kebun ini? Aku ingin kembali ke duniaku
biasanya. Ini bukan duniaku. Aku berjanji akan lebih baik lagi setelah aku dari
tempat aneh ini.,”
“Ya Fai, aku tahu. Kau pasti tak
betah tinggal di kebun angka ini, maka dari itu kau harus bisa menikmati ini
semua Fai. Kau ingat kata Theodore kan? Kau adalah orang yang beruntung Fai.
Tidak semua orang bisa sampai di tempat ini.”
Aku terdiam. Beruntung? Aku adalah
orang yang beruntung?. Hmm.. Tuhan, aku ingin kembali ke duniaku. Ini bukan
tempatku. Masih banyak yang harus kukerjakan.
” Kalau aku boleh tahu, kenapa raja
Gearge ingin mengambil gear itu? “ kataku mengalihkan pembicaraan.
” Sebab raja tengah sakit, salah
satu gear di tubuhnya rusak Fai. Dan karena raja sudah tua, gear yang
dibutuhkan raja adalah gear yang utuh, gear tak bisa tumbuh dalam tubuh orang
yang tua. Aku harus membiakkan sebagian gear ini di tubuh sepupuku yang baru berumur
5 tahun. Gear itu akan tumbuh lebih cepat pada anak yang masih muda.”
“Apakah sepupumu itu juga tinggal di
kerajaan?”
“Ya, Fai. Ayo ikut aku,” katanya
meninggalkanku
Aku masih tak mengerti bagaimana aku
bisa sampai di tempat ini. Dimana tempat ini berada. Mengapa begitu banyak
angka. Aku benar-benar tak tahu. Pun nasib quiz kalkulusku. Aku tak tahu. Entah
sudah berapa lama aku meninggalkan duniaku. Aku juga tak tahu. Di tambah lagi
sekarang aku tengah berada di kerajaan mesin.
“Fai, jangan melamun! Ayo ikut makan
malam dengan keluarga kerajaan di bawah,” kata Gearard padaku.
“Aku tak mau, Gearard. Aku mau
pulang. Aku tak mau buah angka. Aku mau nasi, ikan lele, sayur terong. Apa
disini ada? Pasti tidak ada. Ini bukan duniaku. Kita berbeda, Gearard!” Kataku
menekankan.
“Ya, aku mengerti perasaanmu Fai.
Aku hanya ingin mempertemukanmu dengan orang yang special tanda terimakasihku
atas bantuanmu menyelesaikan masalahku dengan raja Gearge..”
Aku hanya mengangguk mengikuti
langkah Gearard. Melewati anak tangga satu per satu hingga akhirnya sampai di
meja makan ini. Aku sedikit kaget dengan kedatangan Rahasita dan seorang nenek
yang menggendong kucing hitamnya. Rahasita menggenggam payung bianglala, dengan
rambutnya yang dibiarkan terurai. “ Rahasita?, kau benar Rahasita?” Kataku
setengah tidak percaya. Rahasita hanya tersenyum “ ya, aku Rahasita. Putri
kerajaan bulan. Kenalkan ini keluargaku yang masih tersisa,”katanya sambil
menunjuk nenek tua yang tengah menggendong kucing hitam. “ aku anteh,panggil
saja Nini Anteh, ini kucingku, Rahasima.”
“Kau Nini Anteh? Bagaimana
mungkin kau bisa sampai di tempat ini? Kau kan yang menunggui bulan selama ini?
Bukankah pula kau sudah meninggal?” Nini Anteh tak menjawab, ia tetap
bermain-main dengan Rahasima.
Lalu Rahasita menjawab, “Ya benar
dia Nini Anteh. Pendengaran Nini Anteh sedikit terganggu, Fai. Kami sampai
disini karena tuhan yang mengirimnya. Kamu tak sadar kan Fai kalau kebun angka
ini masuk dalam kawasan kerajaan bulan? Kerajaan mesin itu adalah nama lain kerajaan
bulan. Karena kehidupan di bulan ini bergantung pada mesin-mesin yang tak kasat
mata. Gerarge adalah anak angkat Nini Anteh, sedang aku adalah cucu nini aneh,
ayah ibuku sudah meninggal saat berperang melawan pasukan satelit yupiter yang
ingin merampas lahan kerajaan bulan. Aku dan Nini Anteh masih punya cadangan 27
nyawa lagi untuk hidup. Makanya kami masih di tempat ini.”
Apa? Aku sampai di bulan? Tuhan…
kejutan inikah yang kau berikan padaku. Sejak kecil aku telah menginginkan utuk
sampai di bulan, bertemu dengan Nini Anteh. Dan saat ini tuhan mengabulkan
permintaanku yang aku tanam sejak dulu itu. Bu, aku di bulan. Dulu aku yang
meminta ibu untuk mengambilkan bulan untukku. Aku terdiam lama sekali.
“Fai, kau tak apa kan?” Gearard
mengagetkanku dari lamunanku.
“Ya, aku tak apa Gearard. Aku tak
percaya dengan kejutan ini. Aku bingung harus bagaimana dengan kejutan ini.”
“Fai, bersiaplah. Kita akan kembali
ke bumi. Aku tahu kau ingin kembali ke kehidupanmu yang normal kan? Aku
juga akan kembali ke bumi, sebab aku juga manusia biasa. Hanya saja masih
ada darah kerajaan bulan yang mengalir di darahku,” Rahasita tak mau
ketinggalan.
“Ya, aku sudah siap, Sita
kalau pun aku harus kembali ke bumi sekarang. Sebab masih banyak yang harus aku
selesaikan di bumi. Quiz kalkulusku belum aku kumpulkan, Sita.” Jawabku.
“Oke, bersiaplah, Fai. Sebentar lagi
bis angka akan menjemput kita,” jawab Rahasita singkat. Tak lama kemudian bis
berbentuk bulat ada di depan kami, ya, di depanku, Rahasita, Gearald, Nini
Anteh dan juga Rahasima. Senang rasanya sebab aku akan kembali ke duniaku
biasanya. Tapi sedih juga sebab aku belum berbicara banyak dengan Nini Anteh.
“Ayo, Fai,” ajak Rahasita sembari
menarik tanganku ke bis bulat itu.
“Oke kita akan meluncur ke bumi,
Fai… bersiaplah, pasang sabuk pengamannya,” perintah Rahasita.
Aku hanya mengikuti perintah
Rahasita tanpa berkata apa-apa. Lalu aku dan Rahasita melambaikan tangan pada
Nini Anteh, Rahasima, dan Gearard. Dari kejauhan yang kulihat hanyalah Gearard
yang tengah menangis atas kepergian kami sedang Nini Anteh tetap mengelus
Rahasima, kucing hitamnya.
“Sita, kapan kita akan sampai di
bumi? ” Kataku polos.
“ Satu detik lagi” katanya singkat.
Dan entah kenapa tiba-tiba saja aku
sudah sampai di kelas kalkulusku lagi tanpa Rahasita. Rahasita kemana? Rahasita
pergi ke belahan bumi yang lain. Suasana masih sepi, sebab quiz kalkulus masih
tetap berlangsung. Padahal rasanya aku telah berhari-hari di kebun angka. Kebun
angka tidak hanya memiliki lorong tempat, tapi juga lorong waktu. Tanpa banyak
berpikir lagi, aku langsung melengkapi jawaban soal yang belum aku isi. Tapi
apa daya, aku masih bingung harus menjawabnya dengan apa. Hingga akhirnya aku
berpikir bahwa aku harus mengisinya dengan pengalamanku tadi di kebun angka.
Ya, aku harus berbagi ini semua. Sebab tidak semua orang berkesempatan baik
seperti aku.
Dengan percaya diri aku tuliskan
dengan huruf kapital “KEBUN ANGKA” lalu aku sebutkan satu-satu tokoh di
dalamnya “Fai, Gearard, raja Gearge, Theodore, Rahasita, Rahasima, Nini Anteh,
bis angka, buah angka, sepatu kuning, kumbang, naga, ikan, hujan ester,
kerajaan mesin, kerajaan bulan.”
Lalu lamat-lamat aku tuliskan apa
yang telah aku dapatkan di kebun angka “Aku adalah orang yang beruntung, maka
aku harus bersyukur, aku akan lebih baik lagi.”,Sepersecond kemudian
dosen kalkulusku, Bu Alvida menyuruh kami mengumpulkan lembar jawaban quiz
kalkulus, kemudian meninggalkan kelas.
Hari ini, aku benar-benar tak
percaya bisa sampai di kebun angka, kerajaan mesin atau kerajaan bulan. Ya!
Bulan. Tempat yang sudah aku idam-idamkan sejak kecil dulu. Aku harus menelepon
ibu. Ya aku harus memberi tahu ibu bahwa anaknya ini telah sampai di bulan. Bu,
biar aku yang mengambikan bulan untukmu. Suatu saat aku akan mengajak ibu ke
kebun angka. Ya, kebun angka.
Comments
Post a Comment