Skip to main content

Posts

Ramadhan dan Kedewasaan

Ramadhan sudah datang. Begitu katanya. Waktu yang selalu dirindukan untuk menikmati berkahNya bersama keluarga di rumah. Ya, rumah adalah tempat remah-remah kisah ditanam dan dipetik kala tiba waktu jumpa. Ramadhan kali ini tidak rumah. Beragam kegiatan dan kewajiban menuntut untuk tetap tinggal di tanah perjuangan. Ramadhan yang mendewasakan. Lelah memang, tapi hidup tetap mesti berjalan. Sudah seharusnya banyak belajar dan belajar banyak. Terlebih masih diberikan kesempatan. Menjelang bulan Ramadhan, waktu dihabiskan memikirkan gas karbon dioksida, aktivasi lumpur lapindo, menghancurkan zeolit, titrasi, salah, asistensi, rapat, bertemu dengan masyarakat, membuat power point, monitoring dan evaluasi, penghijauan, markisa, anjang-anjang, dan yang akan dimulai, kerja praktik. Sangat terasa. Selamat datang di akhir semester 6. 19 Juni 2015, kesekian kalinya berkunjung ke rumah sakit. Saya tidak pernah merasa bergembira saat berkunjung ke rumah sakit. Melewati IGD, lorong, ruang ad...

Pada Akhirnya

Sudah berapa tahun tinggal, Fai? Adakalanya berubah, sebab hidup mesti berkembang. Adakalanya keras kepala, sebab setiap kepala mempunyai prinsip. Pada akhirnya kau harus berhadapan dengan kepala-kepala yang berbeda prinsip itu. Pada akhirnya kau harus menerapkan "pelajaran" saling menghargai yang diajarkan di PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) di Sekolah Dasar dulu. Masih bersikap idealis kah?. Pada akhirnya si idealis harus lebih realistis, Fai. Buka mata. Terlalu banyak hal yang menyenangkan untuk dilakukan dibandingkan dengan kesempurnaan itu sendiri. Proses. Berproseslah dengan baik, nikmati terjalnya. Nikmati sakitnya. Sungguh itu luar biasa rasanya. Masih tidak suka melakukan hal-hal dibawah tekanan?. Masih tidak suka melakukan hal-hal yang tidak disukai?. Pada akhirnya kau harus melakukannya. Sebab itu kewajiban. Sebab sebagian darinya adalah amanah. Apakah amanah salah memilih puan?. Amanah boleh salah memilih puan, tetapi Tuhan tak pernah ...

Dongeng Minggu Ke-13

Yah, ini dongeng kedua untukmu yang kutulis di tempat ini. Kudongengkan untukmu sebab kini kita tak pernah benar-benar bertukar kisah secara rinci seperti sedia kala. Aku kerap diserang lupa saat tengah bertelepon ria denganmu. Ini minggu ke-13 untukku, yah. Minggu yang sibuk dan melelahkan. Minggu yang begitu cepat berjalan dan menyerang semua yang dikejar deadline. Apakah ayah mengerti arti angka 13 itu?. Konon   katanya angka 13 adalah angka sial. Tapi bukan itu yang kumaksud, yah. Ini minggu ke-13 dan artinya tiga minggu lagi adalah minggu ke-16. Adakah yang spesial dari angka 16?. Di angka itu   tiga tugas perencanaanku (Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum, Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat, dan Perencanaan Pengelolaan Sampah) di semester ini dikumpulkan. Hmm. Entahlah. Doakan aku yah semoga semua selesai sesuai harapan dan berakhir menyenangkan. Yah, terkadang aku menyesal kenapa aku harus mengikuti nasehat ayah dan ibu untuk meninggalkan...

Aku Hanya Ingin

Tulisan ini dimulai ketika aku berada di depan layar dalam waktu yang lama, tapi hanya menghasilkan sedikit apa-apa. Bukan tak mengerti tentang apa yang harus dilakukan. Sungguh bukan. Aku cukup tahu. Tetapi bukankah mengumpulkan segenap jiwa dan raga untuk bersatu itu bukan hal yang mudah ?. Sekitar dua minggu lalu, seseorang yang mengagumkan berkata, “ Siapa yang hingga saat ini masih ditemani ayah dan ibu ketika belajar?”. Tak ada yang mengacungkan jari. Tak ada yang bergumam. Pikirku hanya bergulir pada gulungan waktu yang pernah aku lewati. Seseorang itu kemudian melanjutkan, “ Dulu ketika saya masih kecil, ayah dan ibu saya selalu menemani saya belajar.”. Lalu ada yang berujar,”Bukankah itu berarti mereka tidak mengajarkan kita untuk mandiri?.” “Oh tentu tidak. Itu bentuk kepedulian mereka terhadap kita.”. Dan setelah itu aku bertekad untuk menuliskan hal ini. Sejak kecil, kata ayah dan ibu, aku adalah anak yang cerewet dan selalu banyak bertanya. Ibu adalah orang yang pe...

Dulu dan Sekarang

Selamat malam, Fai. Hari ini cukup melelahkan, jadwal mata kuliah yang padat merayap.   Kuliah yang kembali mengingatkanku pada masa sekolah menengah atas beberapa tahun yang lalu. Dan karena memang sejatinya menuntut ilmu tidak bisa diukur dengan hal apapun, maka bersabarlah. Baiklah. Sebenarnya ini adalah tulisan yang ditulis di malam yang tidak begitu nyaman untuk sekadar membaca buku kuliah. Lalu, apa yang sedang aku lakukan detik ini?, tentunya tengah bermain keyboard laptop. Rasanya sudah cukup lama menyukai dunia tulis menulis puisi. Tapi apa daya si koran masih belum mau tulisanku menjadi bagian tubuhnya. Ya, aku cukup tahu. Dulu, aku pernah berkata pada ayah bahwa aku ingin mempunyai buku puisi. Buku puisiku sendiri, bukan antologi. Dulu, aku bersemangat sekali untuk memilikinya, bahkan memperjuangkannya. Tapi ketika itu ayah tidak begitu meresponku. Entahlah apa alasannya. Aku sempat kecewa dan kemudian mencari-cari sebenarnya apa alasan ayah. Hingga aku tahu ...

Masih di Madura : Pulau Mandangin

Perjalanan ini dimulai ketika kami, Departemen Sosial Masyarakat, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,   Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2014-2015 mendapatkan kepercayaan memegang andil dalam program kerja Envication yang sebelumnya merupakan program kerja Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa.   Envication sendiri merupakan program kerja yang ditujukan kepada mahasiswa baru jurusan teknik lingkungan FTSP ITS. Pada tahun-tahun sebelumnya rangkaian acara dalam envication berupa perkemahan di bumi perkemahan serta pengabdian masyarakat di sekitar bumi perkemahan dan penanaman nilai internal dan eksternal, serta penanaman jiwa kepemimpinan dari senior kepada mahasiswa baru. Pada tahun ini Envication masuk ke dalam program kerja departemen sosial masyarakat yang bekerja sama dengan departemen pengembangan sumber daya mahasiswa dan departemen riset dan teknologi, tentunya juga dengan semua elemen Keluarga Mahasiswa T...