Skip to main content

Dongeng Minggu Ke-13

Yah, ini dongeng kedua untukmu yang kutulis di tempat ini. Kudongengkan untukmu sebab kini kita tak pernah benar-benar bertukar kisah secara rinci seperti sedia kala. Aku kerap diserang lupa saat tengah bertelepon ria denganmu.
Ini minggu ke-13 untukku, yah. Minggu yang sibuk dan melelahkan. Minggu yang begitu cepat berjalan dan menyerang semua yang dikejar deadline.
Apakah ayah mengerti arti angka 13 itu?. Konon  katanya angka 13 adalah angka sial. Tapi bukan itu yang kumaksud, yah. Ini minggu ke-13 dan artinya tiga minggu lagi adalah minggu ke-16. Adakah yang spesial dari angka 16?. Di angka itu  tiga tugas perencanaanku (Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum, Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat, dan Perencanaan Pengelolaan Sampah) di semester ini dikumpulkan. Hmm. Entahlah. Doakan aku yah semoga semua selesai sesuai harapan dan berakhir menyenangkan.
Yah, terkadang aku menyesal kenapa aku harus mengikuti nasehat ayah dan ibu untuk meninggalkan pilihanku melanjutkan studi di jalur sastra ketika itu (dengan alasan ayah yang sangat jelas). Menyesal, sebab kini pada kenyataannya belajar menjadi “perencana” yang baik bukanlah hal yang mudah. Ya, walaupun aku sendiri belum tahu apakah menjadi sastrawan yang baik itu mudah ataukah tidak. Terlebih saat dosen asisten atau pun dosen pengajar sering mengingatkan begini :
“Gunakan sense of engineering kalian, nak. Kalian sekarang berada di fakultas teknik sipil dan perencanaan. Dan itu artinya kalian harus belajar menjadi perencana yang baik. Bukan sekadar menghitung ini dan itu. Kalau perkara menghitung saya rasa kalian sudah ahli. Tapi gunakan perasaan kalian. Itu yang penting. ”
Yah, di petuah dosenku sering disebut “perasaan”. Dan aku tidak benar-benar tahu apakah seluruh perasaanku benar-benar jatuh di bidang ini. Aku tidak benar-benar tahu, yah. Sebab hingga saat ini  aku masih merasa sangat senang  saat membaca bacaan fiktif yang menurut teman-temanku kebanyakan adalah bacaan yang sulit dimengerti dan dipenuhi ketidak jelasan.
Aku paham. Semua telah kupilih dan aku harus menghadapinya hingga tuntas. Seperti yang dikatakan ayah ketika itu, bahwa semuanya bisa dipelajari dan perasaan terhadap setiap hal adalah tentang bagaimana kita menghadapinya. Juga seperti perkataan ayah bahwa kita harus berani mengambil jalan menanjak. Aku paham. Tapi melakukan tak semudah yang dikatakan. Ayah mungkin sudah menemukan titik temu antara sastra dan biologi. Oleh karenanya Aku ingin seperti ayah, menemukan titik temu antara sastra dan perencanaan. Ini bukan perkara yang mudah.
Yah, terkadang aku juga berpikir mungkin jika sekarang aku berada di bidang sastra, aku tidak akan paham bagaimana perasaan tinja saat harus dikoyak di unit pengolahan hingga menjadi bagian yang baik dari lingkungan , tidak akan mengenal perjalanan sampah dari “rumah” yang satu ke “rumah” yang lain, tentang reinkarnasi air sungai menjadi teman di bak kamar mandi, dan banyak hal yang berhubungan dengan pengelolaan dan perencanaan di bidang lingkungan. Dalam hal ini, aku bersyukur mengenal bidang perencanaan dan teknik lingkungan yah. Dan memang sudah menjadi tugasku menemukan tubuh sastra di bidang ini.
Yah, ini dongeng minggu ke-13ku. Minggu yang membuat aku harus menjadi kalong. Doakan kalong itu yah. Semoga tugasnya lekas usai dan segera bertemu dengan keluarganya di rumah. Tentang ocehan penyesalanku tadi tak usah dihiraukan. Mungkin aku sedang lelah. Hehe. Dibawah tulisan ini aku lampirkan gambar-gambar yang kudapat dari kuliah lapangan di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja beberapa waktu lalu. Semoga ayah bisa menemukan sastra lain dari gambar-gambar itu.
Sampaikan salamku pada ibu dan adik ya. Semoga Allah senantiasa mempermudah urusan kita dan melingkupi kita dengan keberkahan. Aamiin.
  
Mungkin kau harus katakan "Selamat datang,teman"


Ia pun berkumpul dengan yang lebih terdahulu datang        
Ia dikoyak oleh rotor oxidation ditch (disini ilmu biologi digunakan)

Ia ditenangkan untuk mengendapkan segala kejenuhan
Terakhir, Ia pun dilahirkan kembali dalam bentuk yang lain

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi