Tulisan ini
dimulai ketika aku berada di depan layar dalam waktu yang lama, tapi hanya
menghasilkan sedikit apa-apa. Bukan tak mengerti tentang apa yang harus dilakukan.
Sungguh bukan. Aku cukup tahu. Tetapi bukankah mengumpulkan segenap jiwa dan
raga untuk bersatu itu bukan hal yang mudah ?.
Sekitar dua
minggu lalu, seseorang yang mengagumkan berkata, “ Siapa yang hingga saat ini
masih ditemani ayah dan ibu ketika belajar?”. Tak ada yang mengacungkan jari.
Tak ada yang bergumam. Pikirku hanya bergulir pada gulungan waktu yang pernah
aku lewati. Seseorang itu kemudian melanjutkan, “ Dulu ketika saya masih kecil,
ayah dan ibu saya selalu menemani saya belajar.”. Lalu ada yang berujar,”Bukankah
itu berarti mereka tidak mengajarkan kita untuk mandiri?.” “Oh tentu
tidak. Itu bentuk kepedulian mereka terhadap kita.”. Dan setelah itu aku
bertekad untuk menuliskan hal ini.
Sejak kecil,
kata ayah dan ibu, aku adalah anak yang cerewet dan selalu banyak bertanya. Ibu
adalah orang yang pertama kali mengajarkan aku membaca. Berawal dari huruf
vokal, lalu abjad, hingga subtittle
koran langganan ayah. Mungkin ayah terlalu sibuk melanjutkan kuliah di Jogja
ketika itu. Ibu galak. Sebab kalau sampai salah aku membaca tulisan yang
diberikannya padaku, Ibu akan menggulungkan koran itu dan memukulkannya ke
meja. Memang tidak ke arahku, tapi itu sudah cukup membuatku kaget, dan tentu
aku tak ingin lagi membaca. Aku sering mengadu pada ayah. Dan ayah selalu
berjanji akan mengajariku membaca. Tapi toh pada akhirnya, Ibu akan kembali
mengajariku membaca. Lagi-lagi dengan koran langganan ayah. Setidaknya aku akan
selalu tahu berita hangat hari itu. Sesekali ibu juga menggambar bunga untukku.
Gambar bunga yang sampai saat ini belum aku temukan di dunia nyata.
Dari ibu aku
menjadi mahir membaca. Tak heran kepala sekolah taman kanak-kanakku, yang juga
teman ayah, menyarankan ayah untuk segera mendaftarkanku ke sekolah dasar. Ya,
aku hanya mengalami masa taman kanak-kanakku hanya dalam kurun waktu satu
tahun. Cukup sedih ketika itu, karena aku harus berpisah dengan guru-guruku,
teman-temanku (Tamyiz, Rina, Zakiya, Ayunda, Roni, Sultan, Fatur, dan lainnya,
aku lupa), dan Pak Dulla, tukang becak yang mengantar jemputku setiap hari.
Di sekolah
dasar, tibalah waktu ayah yang menemaniku belajar setiap hari. Hal ini tak lain
karena ibu repot mengurusi adikku yang kala itu masih kecil. Aku hanya punya
satu adik, Muhammad Azmil Ramadhan namanya. Ayah cukup sabar dibanding ibu. Walaupun
terkadang saat belajar mengaji pada ayah, alis ayah terlihat menyatu. Dan cukup
dengan itu aku akan menangis, dan tak mau mengaji. Padahal kata ayah, ayah tak
marah, hanya alisnya saja yang terlihat menyatu. Lain lagi kalau ibu menyuruhku
tidur siang dan aku tak mau menuruti perintah ibu, maka ayah akan mengeluarkan
pecutnya. Pecut besar berwarna campuran merah, hijau, dan kuning. Pecut itu tak
akan dipukulkan, hanya ayah keluarkan. Dan itu adalah kode bahwa aku harus
lekas tidur.
Di lain waktu
ketika ibu membeli telur puyuh mentah di pasar, aku selalu meminta 1 butir
kepada ibu. Lalu aku akan membalutnya dengan rerumputan yang aku cabut di
halaman. Setiap hari aku akan memeriksanya,akankah telur itu akan menetas dan
aku memiliki peliharaan baru. Walaupun pada akhirnya aku akan mendapati
kenyataan telur puyuhku membusuk. Ah tak apa. Maka aku akan melakukan percobaan
lainnya. Tak jarang aku mengambil segelas air dan menjemurnya dibawah terik
matahari. Ini tak lain aku lakukan karena aku mengira air itu akan menjadi agar
ketika dipanaskan dibawah terik matahari. Maka yang kudapati hanya air hingga
hari-hari berikutnya. Aku terus melakukan percobaan ini, hingga aku lupa kapan
terakhir kali aku mencobanya. Sekarang aku tahu. Ah, sebenarnya aku malu
menceritakan hal ini.
Dulu ayah dan
ibu menemaniku dan adikku ketika kami belajar, bahkan hingga aku duduk di
bangku SMA. Walaupun tak jarang aku akan terlelap paling akhir, karena
terkadang tak terasa aku tengah asyik menyelami banyak hal, matematika, IPA,
Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, juga tumpukan buku-buku non
akademik yang berbaris rapi didekat meja komputer. Komputer yang sebenarnya
sudah lama rusak, tapi aku tak tahu kenapa ayah membiarkannya menghiasi rumah
kami. Terlepas dari komputer, walaupun ayah adalah guru biologiku di sekolah,
aku jarang sekali belajar biologi pada ayah. Karena aku tahu pada akhirnya kami
akan berdebat. Dan setelah perdebatan itu aku akan masuk ke dalam kamar, lalu
tidur.
Ketika belajar
adikku akan selesai terlebih dahulu. Ya, itu pasti. Mungkin memang tipikal anak lelaki kebanyakan
juga seperti itu. Azmil, adikku sangat jago di bidang kelistrikan, seni kriya,
juga olahraga. Ia punya janji pada ayah dan ibu untuk lulus dengan nilai
terbaik di tahun 2015 nanti serta bisa melanjutkan ke sekolah menengah atas
terbaik di Kabupaten kami. Semoga saja tercapai. Sebab doa anak pertama tentu
hanya ingin membahagiakan ayah, ibu dan anak kedua, serta mendapatkan Ridho
dari Sang Sutradara.
Hal terpenting
dari tulisan ini adalah bahwa sejak aku dan adikku kecil hingga saat ini, ayah
dan ibu juga jarang memberi kami hadiah yang mewah ketika kami berhasil
melakukan sesuatu. Aku tahu, cukup tahu, ayah dan ibu melakukan ini tentu agar
kami tidak pamrih dalam melakukan sesuatu. Dan aku menanamnya hingga saat ini. Pada akhirnya
kami tak boleh bergantung pada orang lain, sebab kami harus berpijak dengan
kaki sendiri. Hal lain yang perlu kau
tahu, ayah dan ibu tak pernah menuntut kami apa-apa. Hanya harus melakukan
semua dengan usaha terbaik, dengan niat yang baik, juga doa yang baik.
InsyaAllah hasilnya juga akan baik. Kecewa kadang datang saat hasil yang
didapat tak sesuai dengan yang diharapkan, dan inilah nasihat ayah yang kucatat
lamat-lamat :
“Tak ada kamus kecewa dalam
hidup. Syukuri apa yang kamu peroleh. Sebab Tuhan sebagai penentu. Bersabar dan
shalat akan memberi kita kekuatan, sedangkan shalawat menjadikan hati kita
lapang dan sejuk. Orang sukses itu bukan berarti tidak pernah gagal, tapi
selalu siap bangkit dari kegagalan. Orang hidup pasti butuh tantangan.
Beranilah mengambil jalan menanjak !.”
Sedang kalimat ibu yang kuhafal
adalah
“Jangan sampai menyesal, nak.
Sabar dan perbanyaklah membaca shalawat.”
Kalimat ibu
memang paling singkat. Tapi Ibu paling cerewet dalam mengingatkan segala hal,
semisal perkara makan dan pulang malam. Ah, aku sudah hafal.
Aku hanya
ingin mengakhiri pagi dengan ini. Sebenarnya lelah. Satu persen menyerah,
sisanya ingin mengakhirinya dengan bahagia. Aku hanya ingin. Ya, tak lebih dari
ini. Menjadi yang terbaik paling tidak untuk pilihan yang telah digenggam.
Percayalah Allah tak pernah salah. I want to be an environmentalist (Didalam seratus
persen keinginan untuk menjadi environmentalist juga ada keinginan seratus
persen untuk menjadi bunglon. Lalu apa hubungannya?. Tak perlu kau cari
hubungan ini, sebab kalau sampai ini terpecahkan, kau bisa gila. Ini kata
guruku.).
Comments
Post a Comment