Skip to main content

Pada Akhirnya

Sudah berapa tahun tinggal, Fai?
Adakalanya berubah, sebab hidup mesti berkembang.
Adakalanya keras kepala, sebab setiap kepala mempunyai prinsip.

Pada akhirnya kau harus berhadapan dengan kepala-kepala yang berbeda prinsip itu. Pada akhirnya kau harus menerapkan "pelajaran" saling menghargai yang diajarkan di PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) di Sekolah Dasar dulu.

Masih bersikap idealis kah?. Pada akhirnya si idealis harus lebih realistis, Fai. Buka mata. Terlalu banyak hal yang menyenangkan untuk dilakukan dibandingkan dengan kesempurnaan itu sendiri. Proses. Berproseslah dengan baik, nikmati terjalnya. Nikmati sakitnya. Sungguh itu luar biasa rasanya.

Masih tidak suka melakukan hal-hal dibawah tekanan?. Masih tidak suka melakukan hal-hal yang tidak disukai?. Pada akhirnya kau harus melakukannya. Sebab itu kewajiban. Sebab sebagian darinya adalah amanah. Apakah amanah salah memilih puan?. Amanah boleh salah memilih puan, tetapi Tuhan tak pernah salah memilih puan. Lakukan. Hanya lakukan. Toh pasti selesai.

Pada akhirnya kau harus melakukan banyak hal sendiri. Kuatkan kaki. Besarkan hati. Walaupun sebenarnya kita tidak benar-benar sendiri. Masih ada sepi. Masih ada jiwa yang mendiami tubuh. Lalu, kalau tidak, bagaimana?. Mati. Lalu hiduplah kau di dimensi yang lain.

Pada akhirnya kau harus menyusun kembali cita dan harapan. Cinta bagaimana?. Hmm.. Juga perlu. Teramat perlu. Jangan terlalu berambisi, padahal sebenarnya ambisi hanya kekosongan. Tapi hidup tanpa ambisi juga akan membuatmu berleha-leha di mimpi tidur siangmu. Tak ingin bangkit.

Pada akhirnya kau harus mengerti. Tentang banyak hal. Mengapa begitu?. Sebab belum semuanya siap mengerti. Jadi pandai-pandailah mengalah. Toh setiap yang mengalah tak mesti kalah. Bukan begitu?. Mungkin kau mengira yang lebih tua bisa lebih dewasa, tapi kau salah. Bisa jadi jiwanya masih bayi tapi terperangkap di dalam raga yang sudah berusia sekian tahun.

Pada akhirnya kau harus bekerja keras untuk banyak hal, untuk banyak kepala. Mengapa begitu?. Sebab kebahagian beberapa diantara mereka ada di tanganmu. Kau menggenggam kebahagiaan kepala lain. Apa tidak takut kalau tidak mewujudkannya?. Pada akhirnya kau harus berjiwa besar, kau harus bersabar. Pada akhirnya kau harus belajar mendewasakan diri. Bisa jadi kau yang sudah berusia ini hanya jiwa bayi yang terperangkap di tubuh perempuan berusia 20 tahun. Pada akhirnya kau harus banyak belajar. Selamat berbenah.

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi