Ramadhan sudah
datang. Begitu katanya. Waktu yang selalu dirindukan untuk menikmati berkahNya
bersama keluarga di rumah. Ya, rumah adalah tempat remah-remah kisah ditanam
dan dipetik kala tiba waktu jumpa.
Ramadhan kali
ini tidak rumah. Beragam kegiatan dan kewajiban menuntut untuk tetap tinggal di
tanah perjuangan. Ramadhan yang mendewasakan. Lelah memang, tapi hidup tetap
mesti berjalan. Sudah seharusnya banyak belajar dan belajar banyak. Terlebih
masih diberikan kesempatan.
Menjelang
bulan Ramadhan, waktu dihabiskan memikirkan gas karbon dioksida, aktivasi
lumpur lapindo, menghancurkan zeolit, titrasi, salah, asistensi, rapat, bertemu
dengan masyarakat, membuat power point, monitoring dan evaluasi, penghijauan,
markisa, anjang-anjang, dan yang akan dimulai, kerja praktik. Sangat terasa.
Selamat datang di akhir semester 6.
19 Juni 2015,
kesekian kalinya berkunjung ke rumah sakit. Saya tidak pernah merasa bergembira
saat berkunjung ke rumah sakit. Melewati IGD, lorong, ruang administrasi, kamar
inap, setiap gerak, semuanya tak lebih dari kecemasan. Adakah yang merasa
senang?. Mungkin hanya beberapa. Misalnya anak-anak kecil yang begitu bahagia
melihat ikan-ikan beraneka rupa di dekat pintu masuk rumah sakit. Selebihnya
hanya kecemasan dan pengharapan. Semoga lekas usai sakit yang mendera, semoga
tidak mahal biaya berobatnya.
Kerja praktik
akan dimulai 22 Juni 2015, di rumah sakit. Ini tantangan besar. Tantangan untuk
menghadapi segala keresahan tentang rumah sakit, tantangan untuk
mengaplikasikan segala ilmu yang telah didapat sejauh ini. Bagaimana saya tidak
membenci rumah sakit?. Ketika saya kelas 6 SD, Rama diopname karena hipertensi
yang dideritanya. Pembuluh darah yang pecah membuat darah terus keluar dari
lubang hidung. Saya dan Azmil takut. Ibu panik. Sementara kami hanya tinggal
berempat. Beruntung ada Oma Easter Sarwuna, tetangga dekat rumah yang sudah
menganggap saya dan Azmil seperti cucu
sendiri. Waktu itu pukul 3 pagi. Rumah sakit tidak jauh dari rumah kami.
Sehingga pada saat itu juga Ibu membawa Rama ke rumah sakit. Saya dan Azmil
tinggal bersama Oma Easter. Oma memeluk kami, jangan takut, katanya. Kami
sayang oma, dan perbedaan keyakinan sama sekali tidak menjauhkan kami. Setiap
paskah tiba, saya dan Azmil selalu mendapat telur warna warni dari oma. Dan hingga
saat ini setiap hari raya tiba, oma selalu menelepon saya untuk turut bersuka
cita didalamnya. Begitu cerita singkat tentang oma yang kini pindah ke
Probolinggo dan tinggal bersama putrinya, Tante Rince. Kembali pada rumah
sakit, salah satu dokter di rumah sakit tempat Rama dirawat ketika itu melakukan
kesalahan tindakan pada Rama. Hal tersebut membuat Rama yang seharusnya sudah
siap untuk pulang, harus melanjutkan rawat inap karena kejang dan sesak nafas
sehabis injeksi diberikan. Saya kesal. Semua yang tahu juga kesal. Waktu itu
tepat malam sya’ban. Rumah sakit terletak tak jauh dari masjid, suara orang
mengaji jelas terdengar, kami (Saya, Ibu, dan Adik) berada di ruang inap rama.
Semua menangis. Rama juga menangis. Kami saling bermaafan. Dan hanya itu yang
saya ingat. Selebihnya hanya kekesalan kepada dokter yang salah mengambil
tindakan.
Cerita lain
tentang rumah sakit juga saya alami. Ketika itu saya harus dirawat di rumah
sakit yang sama tempat Rama pernah dirawat karena demam berdarah dan thipus
dalam keadaan kritis. Kali ini karena kesalahan diagnosa seorang dokter,
sehingga saya terlambat diberi tindakan. Perawat kesulitan memasukkan jarum
infus. Saya terus berontak. Sambil memarahi rama dan ibu yang terlambat membawa
saya ke rumah sakit, perawat terus memaksa jarum infus untuk masuk ke lengan
saya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah dokter yang salah mendiagnosa. Ah,
saya tidak paham sebenarnya apa yang mereka kerjakan saat perkuliahan dulu,
sehingga yang terjadi adalah kesalahan dalam mengambil tindakan. Kaki saya
disinar dengan lampu-lampu besar. Saya selalu menangis setiap perawat
menyuntikkan obat lewat selang infus. Rasanya sakit tak karuan dan otot-otot
ditangan berlari kemana-mana. Tepat pukul 23.00 dokter baru memeriksa saya,
padahal saya masuk rumah sakit sejak adzan maghrib tiba. Dengan tergesa si
dokter mengatakan bahwa saya membutuhkan transfusi darah atau juga bisa diganti
dengan cairan sintetis yang sejenis dengannya. Semuanya panik. Ah, saya tidak
tahu bagaimana harus menikmati suasana di rumah sakit.
Segala doa
selalu saya sebut diantara pengaharapan dalam shalat. Semoga segala sesuatu di
Ramadhan kali ini dimudahkan. Kerja praktik di rumah sakit, bertemu dengan
orang-orang yang sakit, bau obat, kecemasan, pengharapan, limbah cair, limbah
padat, semoga semuanya adalah awal untuk memulai kebahagiaan. Ramadhan kali ini
saya benar-benar belajar untuk bersabar. Bersabar menghadapi tantangan,
bersabar untuk menghadapi banyak kepala. Ramadhan ini saya benar-benar belajar
bersyukur yang sebenarnya. Bersyukur sebab harus berpisah sementara dengan
keluarga di rumah sehingga saya semakin dewasa, dan bersyukur sebab saya selalu
dipertemukan dengan banyak orang-orang baik.
“Bersyukurlah, karena Allah memberikan nikmat
yang berlebih. Sabar, ayo kita jalani semua tikungan dan tanjakan yang akan
membuat kita semakin paham bahwa hidup menyenangkan”, begitu kata Rama dalam
pesan singkatnya pada saya beberapa hari yang lalu.
Ramadhan kali
ini berbeda dari tahun sebelumnya. Selamat belajar banyak hal untuk semua yang
sedang atau tidak sedang ingin belajar. Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan
segala pengharapan. Semoga segera lulus semua yang sedang menghadapi ujian.
Percayalah, Allah Maha Baik.
Comments
Post a Comment