Skip to main content

Masih di Madura : Pulau Mandangin



Perjalanan ini dimulai ketika kami, Departemen Sosial Masyarakat, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,  Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2014-2015 mendapatkan kepercayaan memegang andil dalam program kerja Envication yang sebelumnya merupakan program kerja Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa.  Envication sendiri merupakan program kerja yang ditujukan kepada mahasiswa baru jurusan teknik lingkungan FTSP ITS. Pada tahun-tahun sebelumnya rangkaian acara dalam envication berupa perkemahan di bumi perkemahan serta pengabdian masyarakat di sekitar bumi perkemahan dan penanaman nilai internal dan eksternal, serta penanaman jiwa kepemimpinan dari senior kepada mahasiswa baru. Pada tahun ini Envication masuk ke dalam program kerja departemen sosial masyarakat yang bekerja sama dengan departemen pengembangan sumber daya mahasiswa dan departemen riset dan teknologi, tentunya juga dengan semua elemen Keluarga Mahasiswa Teknik Lingkungan (KMTL) FTSP ITS. Selain itu pada tahun ini rangkaian acara envication lebih difokuskan pada pengabdian masyarakat tanpa meninggalkan penanaman nilai internal, eksternal, dan kepemimpinan kepada mahasiswa baru dengan turun langsung ke dalam masyarakat dengan diadakannya perkemahan di tengah-tengah masyarakat.

Survey tempat pun dilakukan demi mendapatkan lokasi yang tepat untuk program kerja Envication ini. Survey pertama dilakukan di Pulau Mandangin yang berada di Kabupaten Sampang. Perjalanan untuk mencapai Pulau Mandangin  membutuhkan total waktu 3,5 jam, dengan rincian 2 jam perjalanan menuju pelabuhan Sampang dengan sepeda motor dan 1,5 jam perjalanan dengan kapal motor yang berkapasitas hingga 70 orang untuk mencapai Pulau Mandangin. Perjalanan dimulai pada hari Sabtu, 30 Agustus 2014 pukul 08.00 WIB dan sampai di pelabuhan Sampang pukul 10.00 WIB. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan kapal bermotor yang merogoh kocek Rp. 8000,- untuk sampai di Pulau Mandangin pada pukul 11.30 WIB. Kapal bermotor berangkat dari pelabuhan Sampang pukul 06.00 WIB dan pukul 11.00 WIB pada hari efektif (Sabtu-Minggu) dan hanya pukul 11.00 WIB pada hari Minggu. Perjalanan dengan kapal bermotor sangat mengesankan, apalagi saat menikmati birunya lautan yang masih bersih dan angin yang tenang. Pada beberapa waktu kita akan bertemu dengan kapal-kapal nelayan yang tengah menangkap ikan juga dengan kapal yang akan menuju pelabuhan Sampang.

Tidak terasa pukul 11.30 WIB kami sampai di dermaga timur Pulau Mandangin. Terlihat beberapa penumpang yang sebagian besar adalah pedagang turun dengan membawa barang dagangan, adapula yang hanya sekedar membeli keperluan sehari-hari di Kota Sampang, seperti batangan es dan batu bata. Selain itu terlihat beberapa anak kecil yang sedang berenang di perairan yang terbilang sedikit dipenuhi sampah plastik itu. Sementara kami akan turun di dermaga barat Pulau Mandangin. Hal ini dikarenakan, di pulau Mandangin kami akan menginap di rumah salah satu warga dusun barat Mandangin, yaitu Bu Bulqis. Salah satu dari kami mengenal beliau dari salah satu program kerja ITS Education Care Centre BEM ITS yaitu ITS Mengajar For Indonesia (IFI) yang pada tanggal 13-20 Agustus 2014 lalu bertempat di Pulau Mandangin ini.

Sampai di dermaga barat, kami dikagumkan dengan hasil tangkapan nelayan, yaitu ikan pari dan ikan hiu yang tengan ditimbang serta sontak dikagetkan dengan hamparan sampah dan domba-domba yang berkeliaran. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke rumah Bu Bulqis dengan berjalan kaki. Selama perjalanan tersebut kami harus waspada karena banyak kotoran domba disana sini serta domba-domba yang berkeliaran tak punya kandang. Sesampainya di rumah Bu Bulqis, kami disambut hangat oleh keluarga beliau. Kami pun beristirahat sejenak dan langsung bermain di pantai dekat rumah beliau. Sepulang dari pantai kami dijamu dengan makan siang yang nikmat tak kepalang. Terhitung beberapa ekor cumi-cumi, telur dadar, dan mie instan menggoda di piring. Kami yang lapar saat itu tanpa malu-malu langsung melahapnya hingga ludes. Selanjutnya kami mencuci piring, kembali bermain ke pantai barat untuk menikmati sunset. Di pantai kami melihat anak-anak kecil bermain bola, yang seketika menyambut kedatangan kami dengan berkenalan dan bermain bersama menemani kami menikmati sunset. Kami takjub, hamparan laut terlihat sempurna dengan pasir putih dan kapal-kapal nelayan yang mendarat. Pun matahari terlihat mempesona berpamitan meninggalkan hari. Sayang sekali, kami melihat kotoran manusia yang mengotori pantai. Di dekat pantai barat juga terlihat gedung sekolah yang plavonnya rusak serta puskesmas pembantu Pulau Mandangin, Kecamatan Sampang. 

Malamnya sehabis shalat isya’ kami bertamu ke rumah bapak kepala desa, sekaligus untuk berdiskusi tentang program Envication. Bapak kepala desa menyambut kami dengan hangat, membahas kebiasaan masyarakat Pulau Mandangin. Dan benar saja, kebiasaan membuang sampah ke laut masih menjadi masalah di pulau ini. Hal ini dikarenakan tidak adanya tempat pembuangan sampah sementara serta belum adanya kebijakan dari dinas kebersihan Kabupaten Sampang. Selain itu kebanyakan warga juga menampung air hujan untuk kebutuhan air tawar yang dirasa mahal jika harus membelinya dari PDAM ( 1 kubik = Rp. 12500,-). Cara menampung air hujannya pun terbilang sederhana, yaitu dengan langsung menyimpan tanpa melewati proses filtrasi ataupun desinfeksi terlebih dahulu. Dan hal terpenting yang mereka lakukan adalah mereka tidak langsung menampung air hujan yang turun pertama kali (pada hari pertama turun hujan). Adapun masalah buang air besar di laut, sudah banyak warga yang meninggalkannya. Hanya saja, beberapa warga yang tinggal di tepi pantai belum sadar akan kebiasaan buruk ini. Dari bapak kepala desa kami juga semakin mengerti betapa luasnya Pulau Mandangin yang terdiri dari tiga dusun ini, yaitu Dusun Candin, Dusun Kramat, dan Dusun Barat.

Pulau Mandangin memang Pulau yang memikat. Hanya saja perbaikan masih sangat dibutuhkan untuk mencapai keindahan yang sesungguhnya, terutama dalam masalah kebiasaan membuang sampah dan buang air besar di laut. Tentu masyarakat Pulau Mandangin sangat mengharapkan kepeduliaan dari pihak-pihak terkait, seperti dinas kebersihan Kabupaten Sampang. Kepeduliaan pada sesama menjadi poin penting dalam perjalanan ini. Apalagi kami sebagai mahasiswa yang berperan sebagai agen perubahan. Perjalanan dari pulau Mandangin pun berakhir pada hari Minggu, 31 Agustus 2014. Pukul 06.00 WIB matahari pagi mengantar kami pulang ke tempat perantauan. Tuhan memang Maha Romantis. Maka marilah tebar semangat berbagi, semangat untuk bermanfaat bagi sesama. Perjalanan selanjutnya akan berlanjut pada survey tempat berikutnya yang masih belum diketahui entah dimana. Salam bergairah dari HMTL FTSP ITS 2014 - 2015.

Tim Survey : Habib (Sosmas), Rizka (Sosmas), Iif (Sosmas), Aida (Sosmas), Cipta (Sosmas), Dwi (Sosmas), Uwi’ (Sosmas), Aron( PSDM), Sabam (Ristek), Manggar (SO), Rohim (KPPL), Ricki (Kesma).




Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi