Selamat malam, Fai.
Hari ini cukup melelahkan, jadwal mata kuliah yang
padat merayap. Kuliah yang kembali
mengingatkanku pada masa sekolah menengah atas beberapa tahun yang lalu. Dan karena
memang sejatinya menuntut ilmu tidak bisa diukur dengan hal apapun, maka
bersabarlah. Baiklah. Sebenarnya ini adalah tulisan yang ditulis di malam yang
tidak begitu nyaman untuk sekadar membaca buku kuliah. Lalu, apa yang sedang
aku lakukan detik ini?, tentunya tengah bermain keyboard laptop.
Rasanya sudah cukup lama menyukai dunia tulis
menulis puisi. Tapi apa daya si koran masih belum mau tulisanku menjadi bagian
tubuhnya. Ya, aku cukup tahu. Dulu, aku pernah berkata pada ayah bahwa aku
ingin mempunyai buku puisi. Buku puisiku sendiri, bukan antologi. Dulu, aku
bersemangat sekali untuk memilikinya, bahkan memperjuangkannya. Tapi ketika itu
ayah tidak begitu meresponku. Entahlah apa alasannya. Aku sempat kecewa dan
kemudian mencari-cari sebenarnya apa alasan ayah. Hingga aku tahu bahwa yang
ayah maksud adalah bahwa buku puisi sendiri tidak sebegitu laku di pasaran
dibandingkan dengan teenlit, novel, ataupun kumpulan cerpen, kecuali buku puisi
tersebut adalah karangan seorang penulis ternama. Itu saja. Lalu aku paham. Walaupun
sebenarnya buku puisi yang aku maksud dulu adalah buku puisi untuk koleksi
pribadi. Tapi, ya sudahlah. Karena pada suatu hari setelah terbangun dari tidur
aku pun sadar bahwa kualitas tulisanku masih belum pantas untuk dibukukan. Simple.
Aku harus terus berlatih.
Beberapa bulan yang lalu, ayah mulai berniat
membukukan tulisanku. Tapi kali ini aku yang menolak. Rasa minder itu terlalu
besar untuk ditaklukkan. Tentu karena setidaknya belum ada tulisanku yang
dimuat di media cetak nasional. Itu bukan hal yang mudah tentunya. Dan lebih
sulit lagi untuk terus bertahan mengirim tulisan ke media cetak tersebut. Perlu
kau catat, terbitnya tulisan seseorang di media cetak nasional itu bukan untuk
pamer atau bahkan lantas menjadi sombong, tapi sebagai bukti bahwa kita
konsisten untuk menulis, dan sebagai gagasan yang ingin diutarakan kepada
khalayak. Ayah paham alasanku yang satu
ini. Lalu kutambahkan alasan lain bahwa aku masih tak ingin membukukan
tulisanku jika yang memintanya masih keluarga atau temanku sendiri, yang bisa
saja hanya ingin membesar-besarkan hatiku. Aku tidak ingin. Maka kukatakan pada
ayah bahwa ayahlah yang pantas untuk membuat buku puisi tunggal. Tak lain
dengan alasan ayah telah lebih dahulu berproses dan konsisten dengan apa yang
dilakukan. Sementara aku masih dalam proses pencarian, masih dalam proses
memantapkan pilihan.
Lalu, apa yang sedang aku lakukan?. Seperti yang
sudah katakan pada paragraf sebelumnya, aku sedang berlatih. Masih tertatih
memperbaiki tulisan juga perbuatan yang mendukung tulisan itu sendiri. Sekian
postingan di malam ini. Kini waktu untuk memperbaiki sel-sel tubuh. Selamat
tinggal di ujung malam. Salam semangart dari Fai.
Comments
Post a Comment