Skip to main content

Serigala Merah


Pelan-pelan raungan mulai terdengar
dari tidur laminermu, layaknya dongeng ayah
yang melautkanku pada seribu pantai.
Pantai yang tak cukup ramah sebab setan dan
babi-babi senang berkeliaran.

Apalagi di musim yang bimbang ini. Ya, musim memang
kerap bimbang membungkus tubuhnya dengan partikulat
ataukah dingin yang menyegarkan.

Tubuhmu kian cantik dengan motif notasi beton
serta kuat tulang yang pasti akan lapuk saat tiba waktunya.
Waktu memang pembunuh yang  menyenangkan.

Aku suka bermain dengannya, melayang di langit jingga
berdansa dengan pangeran awan, dan terjatuh di pundakmu
saat pesawat besar itu mengentut semaunya.

Kita berlari merayapi pohon-pohon.
Aku memakai topi bermata tiga, dan aku semakin siaga.
Sebab kini mataku menjadi tujuh. Kalau kau mau,
bolehlah kau merapal mantra untuk ia yang mengabulkan pinta.
Tapi untuk apa, toh tubuhmu lebih indah dari yang kau mau.

Senja ini ibu mencariku dan aku tak ingin menemuinya.
Aku masih ingin berkelana bertemu pemilik jubah angkasa
bersamamu, bersama seluruh bunga yang kutanam di benak hari.

Hari yang menua dan aku mengasihinya.
Sebab waktu akan membunuhnya bila lalai ku jaga.
Waktu yang kejam saat malam menjelang dan mulutku semakin
panjang melolong untuk ibu dan ayah, aku ini serigala merah.

Comments

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir