Pelan-pelan raungan mulai terdengar
dari tidur laminermu, layaknya dongeng ayah
yang melautkanku pada seribu
pantai.
Pantai yang tak cukup ramah sebab setan
dan
babi-babi senang berkeliaran.
Apalagi di musim yang
bimbang ini. Ya, musim memang
kerap bimbang
membungkus tubuhnya dengan
partikulat
ataukah dingin yang menyegarkan.
Tubuhmu kian cantik dengan motif notasi beton
serta kuat tulang yang pasti akan
lapuk saat tiba waktunya.
Waktu memang pembunuh yang menyenangkan.
Aku suka bermain dengannya, melayang di langit jingga
berdansa dengan pangeran awan, dan terjatuh di pundakmu
saat pesawat besar itu mengentut semaunya.
Kita berlari merayapi pohon-pohon.
Aku memakai topi bermata tiga, dan
aku semakin siaga.
Sebab kini mataku menjadi tujuh. Kalau kau mau,
bolehlah kau merapal mantra untuk ia yang mengabulkan pinta.
Tapi untuk
apa, toh tubuhmu lebih indah dari
yang kau mau.
Senja ini ibu mencariku dan aku tak ingin menemuinya.
Aku masih ingin berkelana bertemu pemilik jubah angkasa
bersamamu, bersama seluruh bunga yang kutanam di benak
hari.
Hari yang menua dan aku mengasihinya.
Sebab waktu akan membunuhnya bila
lalai ku jaga.
Waktu yang kejam saat malam menjelang
dan mulutku semakin
panjang melolong untuk ibu dan ayah, aku ini serigala
merah.
Comments
Post a Comment