Dan bagaimana
saya menjadi tidak rindu. Ketika semuanya berjalan dan tak terkendalikan. Sebegitu
angkuhkah waktu hingga kau sengaja menyeret semua yang ada pada diri juga
kenangan. Saya rindu kejujuran. Sebegitu angkuhkah waktu saat hampir semua yang
kau lihat tak lebih dari sekedar kebohongan belaka. Bukankah jujur lebih
menenangkan hati?. Saya rindu kepolosan dan ketulusan. Ketika tangan
menggenggam dan memeluk semua yang membutuhkan. Atau merelakan bahu untuk bersandar walaupun sejenak. Begitu angkuhkah waktu
hingga kau pandai sekali menyibukkan makhluk di bumi ini?. Hai, waktu. Bukan kau yang kusebut sahabat, yang siap meninggalkan tanpa pesan. Begitu angkuhkah
kau hingga selalu mengikuti jejak langkah dan mengantarkan pada tumpukan tugas
yang tak pernah usai?.
Saya rindu
sahabat. Saya rindu menatap gemintang dan
bulan yang merekah di langit merah di hari yang awal. Kusebut ia Pollux. Saya rindu
bermain atau mungkin sekedar melipat kertas menjadi bintang. Hai sahabat, aku
tak pernah lupa kau yang mengajariku melipatnya saat SMP dulu. Kusebut ia
Laksmi dan Vila. Saya rindu perjalanan, gelak tawa dan cerita masa lalu. Kusebut
ia KIVLAI. Begitu angkuhkah waktu hingga setiap kebiasaan dapat hilang seketika
karena rentetan entah yang dapat disebut apa. Saya rindu kamar tidur, sawah,
pelabuhan, taman kota, rumah, ayah, ibuk, adik. Saya rindu rumah. Saya ingin
pulang, mungkin untuk sekedar menghapus kejenuhan atau untuk menata lagi satu
per satu yang pergi dan entah akan kembali atau tidak.

Comments
Post a Comment