Skip to main content

Seribu Tahun



Naga-naga biru berbaris di tepi mulutmu
melenguhkan suara hitam
Suara grojok grojok grojok
yang akan membangunkanmu dari mimpi
bulan yang temaram.
Sungguh tak ada yang boleh lelah, sebab
lelah hanya milik para pemalas.

Setiap kedatanganku kita selalu berbincang
tentang burung-burung yang berbaring di etalase toko,
tentang tanah matahari yang kau janjikan untuknya.

Tapi karena janji memang tak lekat,
maka berhamburlah semuanya.
Bertetasan menuju semak, pori tanah
dan mengendap membentuk akuifer baru.

Seribu tahun lagi saat sayap itu tumbuh di tubuhmu,
bersiaplah! Tuhan  mencemplungkanmu ke lautan darah.
Selamat berputar, menghambur, dan menyatukan
pecahan tubuhmu dengan hujan tawas.

Selamat mengendapkan buih yang membungkus
abu-abu bidakmu. Lalu mengalirlah saat kuda putih
kembali berlari dan jangan lupa genapi mata kata
untuk mereka yang rabun keloknya.

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi