Skip to main content

Penyihir



Sebagai ikan aku muak berendam di kolammu. Kolam yang konon katanya tempat putri dan raja mandi bersama. Saat wangi bunga dan gelak tawa semerbak memenuhi udara. Bunga apa yang tak ada, Semua bertumbuhan melengkapi hidangan makan malam. Itu kata leluhurku yang tubuhnya menyala ketika malam tiba.

Putri dan raja telah dikutuk jadi angsa. Angsa dengan tompel  yang menempel sekenanya. Tak ada wangi bunga apalagi  gelak tawa. Mungkin hanya amoniak yang bisa kau nikmati dari kepak tubuhnya.

Kolam ini pahit. Bila kau tak sengaja menelan, kau akan menembus sepertiga kilometer  stratosphere. Disana kau akan bertemu penyihir yang bertongkat bidadari, samar sekali. Rambutnya merah seperti putri duyung yang kau ceritakan padaku dua hari yang lalu.

Hari ini aku tengah berkelana dengannya. Menyusuri petak rumah yang dihuni makhluk beraneka rupa, tak terlihat, tapi terasa. Halus tapi mencekik aliran darah. Penyihir itu kini semakin sumringah sebab disampingnya, aku sebagai ikan telah disulapnya menjadi raja, untuk pendamping hidup yang diharap setia.

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi