Skip to main content

Penyihir



Sebagai ikan aku muak berendam di kolammu. Kolam yang konon katanya tempat putri dan raja mandi bersama. Saat wangi bunga dan gelak tawa semerbak memenuhi udara. Bunga apa yang tak ada, Semua bertumbuhan melengkapi hidangan makan malam. Itu kata leluhurku yang tubuhnya menyala ketika malam tiba.

Putri dan raja telah dikutuk jadi angsa. Angsa dengan tompel  yang menempel sekenanya. Tak ada wangi bunga apalagi  gelak tawa. Mungkin hanya amoniak yang bisa kau nikmati dari kepak tubuhnya.

Kolam ini pahit. Bila kau tak sengaja menelan, kau akan menembus sepertiga kilometer  stratosphere. Disana kau akan bertemu penyihir yang bertongkat bidadari, samar sekali. Rambutnya merah seperti putri duyung yang kau ceritakan padaku dua hari yang lalu.

Hari ini aku tengah berkelana dengannya. Menyusuri petak rumah yang dihuni makhluk beraneka rupa, tak terlihat, tapi terasa. Halus tapi mencekik aliran darah. Penyihir itu kini semakin sumringah sebab disampingnya, aku sebagai ikan telah disulapnya menjadi raja, untuk pendamping hidup yang diharap setia.

Comments

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir