Sebagai ikan aku
muak berendam di kolammu. Kolam yang konon katanya tempat putri dan raja mandi
bersama. Saat wangi bunga dan gelak tawa semerbak memenuhi udara. Bunga apa
yang tak ada, Semua bertumbuhan melengkapi hidangan makan malam. Itu
kata leluhurku yang tubuhnya menyala ketika malam tiba.
Putri dan raja telah
dikutuk jadi angsa. Angsa dengan tompel yang menempel sekenanya. Tak ada wangi bunga apalagi gelak
tawa. Mungkin hanya amoniak yang bisa kau nikmati dari kepak tubuhnya.
Kolam ini pahit.
Bila kau tak sengaja menelan, kau akan menembus sepertiga kilometer stratosphere.
Disana kau akan bertemu penyihir yang bertongkat bidadari, samar sekali.
Rambutnya merah seperti putri duyung yang kau ceritakan padaku dua hari yang
lalu.
Hari ini aku
tengah berkelana dengannya. Menyusuri petak rumah yang dihuni makhluk beraneka
rupa, tak terlihat, tapi
terasa. Halus tapi mencekik aliran darah. Penyihir itu kini semakin sumringah
sebab disampingnya, aku sebagai ikan telah disulapnya menjadi raja, untuk
pendamping hidup yang diharap setia.
Comments
Post a Comment