Skip to main content

Midun



Menaiki kereta kuda kau mengajakku menjelajah langit. Melihat beribu cahaya yang ditanam tanganNya yang perkasa. Kau bilang aku boleh memetiknya, tapi aku takut bencana datang kalau sampai semua ingin memilikinya. Biarlah aku pelihara satu saja mungkin untuk bekal esok saat konsleting memenuhi tanah ini.

Kudamu merah muda persis seperti warna roda sepeda Midun yang dibelinya kemarin lusa. Roda yang menggelinding membawa siapa pun menikmati usia. Midun masih kelas lima. Tapi siapa yang bisa mengelak, ialah calon penguasa. Dua puluh tahun lagi mungkin wajahnya dipajang dimana-mana. Menciptakan lagu yang semakin melambungkan namanya.

Hari ini kau tak lagi mengunjungiku, padahal aku ingin menyiram cahayaku diatas sana dengan doa-doa yang sudah aku siapkan setiap malam. Sudah aku coba untuk menggapainya, sayang tangga yang baru dibeli ayah tak mampu menopangku menyiram.

Midun menghampiriku yang tengah tersedu-sedu menantimu. Ia membawa sepedanya menembus langit dan memecah gas-gas rumah kaca. Aku termangu, bagaimana bisa begitu. Tapi itulah Midun, begitu gigih usahanya. Ia menemui tangan perkasa dan mengajaknya beradu panco. Aaakh Midun, harusnya tak boleh begitu. Sebab pastilah ia kalah dengan tangannya yang hanya sebesar gincu.

Midun meringis melihat tangannya menjadi patahan-patahan yang tak utuh. Aku berbisik di telinganya, meminta ia mengalah pada tangan perkasa. Tapi Midun begitu angkuh rupanya, jadilah ia disulap menjadi kereta kuda. Ya, kereta yang akan selalu menemaniku menyiram cahaya.

Comments

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir