Menaiki kereta
kuda kau mengajakku menjelajah langit. Melihat beribu cahaya yang ditanam
tanganNya yang perkasa. Kau bilang aku boleh memetiknya, tapi aku takut bencana
datang kalau sampai semua ingin memilikinya. Biarlah aku pelihara satu saja
mungkin untuk bekal esok saat konsleting memenuhi tanah ini.
Kudamu merah
muda persis seperti warna roda sepeda Midun yang dibelinya kemarin lusa. Roda
yang menggelinding membawa siapa pun menikmati usia. Midun masih kelas lima.
Tapi siapa yang bisa mengelak, ialah calon penguasa. Dua puluh tahun lagi
mungkin wajahnya dipajang dimana-mana. Menciptakan lagu yang semakin
melambungkan namanya.
Hari ini kau tak
lagi mengunjungiku, padahal aku ingin menyiram cahayaku diatas sana dengan
doa-doa yang sudah aku siapkan setiap malam. Sudah aku coba untuk menggapainya,
sayang tangga yang baru dibeli ayah tak mampu menopangku menyiram.
Midun
menghampiriku yang tengah tersedu-sedu menantimu. Ia membawa sepedanya menembus
langit dan memecah gas-gas rumah kaca. Aku termangu, bagaimana bisa begitu.
Tapi itulah Midun, begitu gigih usahanya. Ia menemui tangan perkasa dan
mengajaknya beradu panco. Aaakh Midun, harusnya tak boleh begitu. Sebab
pastilah ia kalah dengan tangannya yang hanya sebesar gincu.
Midun meringis
melihat tangannya menjadi patahan-patahan yang tak utuh. Aku berbisik di
telinganya, meminta ia mengalah pada tangan perkasa. Tapi Midun begitu angkuh
rupanya, jadilah ia disulap menjadi kereta kuda. Ya, kereta yang akan selalu menemaniku
menyiram cahaya.
Comments
Post a Comment