Skip to main content

Tikus yang Berkuda

Tikus yang berkuda di kamarku berbaju biru. Kupingnya dua, mekar seperti kerang. Kerang yang terbuka dan tertutup menghasilkan mutiara hitam

Tikus yang bertopi kuning menunggang dengan riang. Decak sepatu kuda menimbulkan irama disetiap pengantar tidurku yang tersangkut di ujung malam. Sesekali bunyi pistol berlepasan ke plavon kamar. Aku terkaget-kaget sampai harus bersembunyi di kolong kasur yang tak nyaman.

Tikus yang berbulu mata lentik, tertawa puas. Menyembulkan pecut ke udara.

Semakin larut, semakin kencang larinya. Ia mengejarku. Membuatku terpojok di sudut ruang ini. Aku lemparkan galon, kipas angin, lemari, meja belajar, buku mikrobiologi, kaca, gantungan baju, tapi apa daya, ia  tetap berlari ke arahku.

Aku mulai lelah. Dan kuraih kitab pemberian ayah, terbata membaca dalam nafas yang patah-patah.

Tikus yang berkuda. Api berkobar membelainya. Lecutan peluru terhenti, sepatu kuda terlepas, menembus dinding kamar. Aku yang lelah tak sadarkan diri. Kitab dalam genggaman, membangunkanku pada kokok ayam yang bersahutan.

Comments

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir