Tikus yang berkuda di kamarku berbaju biru. Kupingnya dua, mekar
seperti kerang. Kerang yang terbuka dan tertutup menghasilkan mutiara hitam
Tikus yang bertopi kuning menunggang dengan riang. Decak sepatu kuda
menimbulkan irama disetiap pengantar tidurku yang tersangkut di ujung malam. Sesekali
bunyi pistol berlepasan ke plavon kamar. Aku terkaget-kaget sampai harus bersembunyi
di kolong kasur yang tak nyaman.
Tikus yang berbulu mata lentik, tertawa puas. Menyembulkan pecut ke
udara.
Semakin larut, semakin kencang larinya. Ia mengejarku. Membuatku
terpojok di sudut ruang ini. Aku lemparkan galon, kipas angin, lemari, meja
belajar, buku mikrobiologi, kaca, gantungan baju, tapi apa daya, ia tetap berlari ke arahku.
Aku mulai lelah. Dan kuraih kitab pemberian ayah, terbata membaca dalam
nafas yang patah-patah.
Tikus yang berkuda. Api berkobar membelainya. Lecutan peluru terhenti,
sepatu kuda terlepas, menembus dinding kamar. Aku yang lelah tak sadarkan diri.
Kitab dalam genggaman, membangunkanku pada kokok ayam yang bersahutan.
Comments
Post a Comment