Anak-anak yang bersembunyi di dalam kulkas itu kegerahan sampai kencing
di celana. Apa kau tak lelah memburunya?
Gemertak giginya menyanyikan irama hujan. Mengajakmu berlayar dalam
botol susu sisa semalam. Ikutlah. Basi susu masih sangat nikmat dalam haus dan
lengang perut yang kerontang. Atau kau hanya ingin menyelami terowongan masanya?
Masa-masa perutnya menjadi kepulan gas yang akan menerbangkannya ke bulan?
Anak-anak yang bersembunyi di dalam kulkas tertawa mendengar siulanmu
begitu lihai seperti abjad-abjad yang berkeliaran di pinggir jalan. Kau
lucu,katanya. Seperti pelawak yang menari dengan maksud tak jelas dalam
kotak-kotak hitam.
Anak-anak yang bersembunyi senang berperosot di atas kopyahmu. Mungkin
sampai kau tertatih saat kakinya tak sengaja menyentuh bibir kelabumu.
Kaki-kaki tak beralas tapi masih berhutan. Sebab hutan dan anak-anak masih
saling bergandengan, tak seperti kau dan abjad-abjad yang bersembunyi di dalam
kulkas,yang selalu menghindar,saling meninggalkan.
Comments
Post a Comment