Sebenarnya
apa yang sedang disiram dua sumber pada daun wajahmu itu,hingga setiap aku
melempar mata, hanya celurit bara yang kau suguhkan.
Aku tak
pernah menitipkan janji pada angin,tapi kenapa
kau masih menungguku di depan toko kelontong setiap waktu. Apa hanya
rute itu yang kau hafal?
Ini
pertanyaan retoris,dan aku harap kau tak akan menjawabnya. Sebab aku tau, lumut
tubuhmu mengakar menembus tembok-tembok jantungku. Lalu aliran darah akan
mempertemukan kita pada denyut nadi yang hening. Sehening udara di pagi yang merekah,
waktu aku terbiasa menangkap basah embun dan menerbangkannya kembali.
Aku tak
pernah bertemu lagi dengan remahan pagiku saat akarmu kian kuat meretakkan
bilikku.
Comments
Post a Comment