Pintu merah jambu ini telah ditutup
pada kelopak malammu
dengan daun yang silih berganti gugur
dan tumbuh pada pucuk hati yang tak menentu
Kau lemparkan senyum,
lambaian tangan,
mengantarmu pergi dengan koper usang.
Aku sama sekali tak ingin mengejarmu
Sebab aku harus memasuki pintu waktu baru
menyusun glicocalyx
Hingga aku mampu bertahan dalam tiupan
yang menggoyahkan
Roket ini yang membawaku kemari
Menikmati perjalanan waktu
Melewati jendela-jendela
dengan berbagai cerita
Tentang perempuan pelukis bianglala
dengan sisa darahnya
Ia tambahkan beberapa bubuk pewarna rahasia
Ini rahasiaku dengannya
dan aku tak ingin mengatakannya
perempuan itu memberiku kunci ini
dan aku akan bermalam
sampai aku benar-benar
melekat diantara warna
yang tak akan pucat
Comments
Post a Comment