Skip to main content

Sembilan Terakhir

Hari ini adalah sembilan terakhir aku menemuimu sejak enam hari yang lalu. Hari yang aku catat lamat-lamat dan kudapat dari para penujum. Hari magis yang manis. Legit pada sembilan pertama saat bajumu bergaris seperti kue lapis. Aku suka menikmati sederhana wanginya. Seperti bau pandan yang dibawa musang pada sembilan kedua. Baju yang kemudian berganti hitam bersemu hijau yang para penujum tak bisa menerka artinya. Seperti aku yang bingung harus melecutkan busur ini kemana.

Hari ini adalah sembilan terakhir saat aku tak ingin lagi menemuimu. Saat langit memerah dan menyisakan bulan setengah. Bulan, yang mau atau tidak mau harus aku bagi denganmu. Bulan, yang akan aku kirim lewat travel pada kuncup lelap yang belum genap. Selamat bertemu suatu saat nanti pada sembilan yang lain di suatu tempat yang aku siapkan dengan gugusan gurindam, dengan baju yang sama, saat aku tak ingin lagi berucap kata, dan hanya semesta yang mampu merekamnya juga menyanyikannya padamu.

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi