Saya tahu ada tameng yang mungkin tidak sengaja berdiri
diantara jarak saya denganmu. Tameng itu memang tidak begitu jelas terlihat. Tapi
saya bisa merasakannya. Bukankah serendah apa pun tameng itu namanya tetap
tameng?
Saya cukup tahu kita berada di jalan yang berbeda. Kamu punya misi. Sama. Saya juga. Dan diantara tameng itu mungkin kita sudah terlalu jauh berjalan membelakangi. Saya mulai mengerti.
Ayah selalu mengajari saya bagaimana menikmati pahit
kesabaran, kekecewaan, dan perjuangan. Saya sudah banyak berubah. Kalau ayah
bilang, saya harus berbesar hati, mungkin sekarang hati saya jauh lebih besar
dari tubuh saya sendiri. Juga katanya bahwa teman yang akan melapangkan jalan
saya, bahkan saking lapangnya, saya nyaris tersesat di jalan itu sendiri. Saya
bisa memakluminya dengan diam. Ya, kalau dalam diam saya bisa menikmatinya,
lalu kenapa saya harus berkoar-koar?
Tentang tameng yang tidak terlihat itu, saya memang
membiarkannya dengan diam dan pura-pura tidak tahu. Biarlah. Mungkin ini jenis
pahit lain yang tidak ayah ajarkan pada saya. Tidak begitu pahit memang, tapi
sedikit mengganjal saja. Ini pelajaran dari alam yang telah menampung dan
menunggui saya sejak kedatangan bahkan sampai kepulangan saya nantinya. Alam memang
teman terbaik. Ya, saya tetapkan alam sebagai teman terbaik saya. Selamat hari
mencintai untuk semua yang tengah merasakan kebaikan alam diantara tameng yang
tidak dirasakan.
Comments
Post a Comment