Aku berkejaran dalam desingan peluru di dadamu.
Aku bisa menari.
Sesekali ia berhenti.
Tapi kau terus berlecutan tak peduli.
Aku diam.
Aku diam.
Tapi masih sempat beterbangan dalam kepalamu.
Aku bisa menari.
Meniru gaya angin
memenuhi bumi ini.
Aku bisa terpecah
menjadi lebih dari 99 bayangan
yang sama sekali tak kau mengerti.
Ya! Aku memenuhi setiap
jengkal ruang yang kau miliki.
Tiba-tiba kau bertanya dari sampan kelabumu ,
Apa yang kumau dari bidang tubuhmu itu?
Lalu masuk ke dalam genta dan merasuk ke sekujur badanku.
Aku mencernanya,
lalu memuntahkan
kepadamu.
Kau
menghirupnya,
kembali berdesingan ,seakan tak mengerti.
kembali berdesingan ,seakan tak mengerti.
Aku terpecah,kau merasukiku.
Diam-diam kereta kelinci menjemput dari pintu warna warni. Aku
menaikinya dengan nyanyian wortel biru muda. Kau juga. Kita berkelana melewati
abjad-abjad yang mengapung di malam buta, disana ada gambarku meniup seruling
polkadot jingga. sedang kau menangkapi irama dan membiarkan tubuhmu meresap
sekenanya.
Kita membuat garis lurus di tepian dinding yang
kita lewati,
di ujungnya kita harus
memilih
di kepingan mana kita akan berhenti,
di kepingan mana kita akan berhenti,
sungai api ataukah
telaga gulali?
siiip bos,hanya ini agak mengganggu: Silahkan memilih dengan hati nurani
ReplyDelete