Skip to main content

Selamat Mengendap

Hai Fai… aku mulai jenuh dengan situasi seperti ini. Situasi baru yang aku rancang dengan kehendak Rabbi. Memang aku telah mengalami banyak sekali fase perubahan yang awalnya membuat aku senang, karena aku menjadi lebih menikmati apa yang aku lakukan. Menjadi berani mengambil resiko, mencari jalan mendaki untuk menantang diri. Dan saat ini aku merasakan hasilnya. Sedikit lebih baik, walaupun banyak mengubah waktu harian. Mengubah cara pandang lama. kau tau,fai? . Saat ini aku merasa sedikit bosan. Entah, mungkin ada sedikit prosedur yang salah, sehingga membuat aku seperti ini. Ah, Tak boleh menjadi pemalas!

Seperti metamorphosis, aku merasa, aku bukan sosokku. Mungkin perlu adaptasi untuk itu. Tapi aku lebih menikmatinya. Sungguh. Hanya saja aku membutuhkan lebih banyak injeksi semangat dari luar. Ayah dan Ibu? Oh tentu itu selalu nomor satu. Seperti lembaran tahun yang telah berlalu, aku kehilangan tokoh yang dekat denganku. Jangan salah paham! Aku tak pernah mengharapkan tokoh masa lalu muncul lagi. Sama sekali tidak. Setidaknya ada tokoh baru yang masih menjadi bayang. Kadang muncul atau hilang sesuka hati. Entahlah masih bisa atau tidak dikatakan sebagai tokoh.

Aku tak suka saat situasi diam-diam itu kembali ada. Diam-diam saling menerka, diam-diam mencari tahu apa yang sedang dilakukan. Ah.. diam-diam… mungkin saat ini aku juga sedang menerka. Sudahlah lupakan…

Fai, raksasa itu terlalu sulit untuk dibangunkan. Bagaimana bisa aku membangunkannya? Ia tenggelam dalam sungai darah dan membuat suspensinya terkoyak. Keruh. Dengan teknik flokulasikah agar  suspensinya terendapkan?, biar bisa kubangunkan raksasanya?. Sungai itu terlalu luas, fai. Tak ada yang tahu kemana ia menghilir.

Kejenuhanku sudah banyak berkurang, setiap kali kuingat tentang jendral yang memanggul matahari di ujung tubuhnya. Begitu tangguh dengan senyum perisai pada bulat bidangnya.

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Dua Bersaudara

Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

Ucapan Sederhana Anak Pertama

14 Juli 2013 pukul 13:20  " Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",   : Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…  Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…   Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai. Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Ra...