Hai Fai… aku mulai jenuh dengan situasi seperti ini. Situasi
baru yang aku rancang dengan kehendak Rabbi. Memang aku telah mengalami banyak
sekali fase perubahan yang awalnya membuat aku senang, karena aku menjadi lebih menikmati
apa yang aku lakukan. Menjadi berani mengambil resiko, mencari jalan mendaki untuk menantang diri. Dan saat ini aku merasakan hasilnya. Sedikit lebih baik, walaupun banyak mengubah waktu harian. Mengubah cara pandang lama. kau tau,fai? . Saat ini aku merasa sedikit bosan. Entah, mungkin ada sedikit prosedur yang salah, sehingga
membuat aku seperti ini. Ah, Tak boleh menjadi pemalas!
Seperti metamorphosis, aku merasa, aku bukan sosokku. Mungkin
perlu adaptasi untuk itu. Tapi aku lebih menikmatinya. Sungguh. Hanya saja aku
membutuhkan lebih banyak injeksi semangat dari luar. Ayah dan Ibu? Oh tentu itu
selalu nomor satu. Seperti lembaran tahun yang telah berlalu, aku kehilangan
tokoh yang dekat denganku. Jangan salah paham! Aku tak pernah mengharapkan
tokoh masa lalu muncul lagi. Sama sekali tidak. Setidaknya ada tokoh baru yang
masih menjadi bayang. Kadang muncul atau hilang sesuka hati. Entahlah masih
bisa atau tidak dikatakan sebagai tokoh.
Aku tak suka saat situasi diam-diam itu kembali ada. Diam-diam
saling menerka, diam-diam mencari tahu apa yang sedang dilakukan. Ah..
diam-diam… mungkin saat ini aku juga sedang menerka. Sudahlah lupakan…
Fai, raksasa itu terlalu sulit untuk dibangunkan. Bagaimana bisa
aku membangunkannya? Ia tenggelam dalam sungai darah dan membuat suspensinya
terkoyak. Keruh. Dengan teknik flokulasikah agar suspensinya terendapkan?, biar bisa
kubangunkan raksasanya?. Sungai itu terlalu luas, fai. Tak ada yang tahu kemana
ia menghilir.
Kejenuhanku sudah banyak berkurang, setiap kali kuingat tentang
jendral yang memanggul matahari di ujung tubuhnya. Begitu tangguh dengan senyum
perisai pada bulat bidangnya.
Comments
Post a Comment