Seperti jejak yang kau tapakkan. Ia tak terhapus oleh rinai
yang baru saja singgah. Ya, jejakmu melekat di dadaku, di dahiku, di depan
mataku, setiap jengkal ingatan.

Aku terlalu penasaran, maka dari itu aku ingin kembali. Melihatmu bangkit dari jatuh lalu berjalan tak kenal malas, walaupun kau tahu, kau akan terjatuh. Lagi dan lagi.
Hai, jendral!. Aku tahu kau tak pernah mau memperlihatkan jernih
kristal biji matamu, pun aku. Tapi dalam diam kita sama-sama mengerti, kita tak akan
rela dipisahkan waktu.
Sekarang aku lebih mengerti, terlebih mengerti. Tentang kobaran di kepalamu itu, tak habis
diguyur aral melintang. Mungkin aku perlu meminta sedikit saja bibitnya. Biar kukembangkan
sendiri.
Lalu, jalan rahasia apa yang ingin kau tunjukkan lagi
padaku?
Aku terlalu penasaran, maka dari itu aku ingin kembali. Melihatmu bangkit dari jatuh lalu berjalan tak kenal malas, walaupun kau tahu, kau akan terjatuh. Lagi dan lagi.
Dalam sekat jemari selalu kutanam harap pada Rabbi
Semoga saja masih ada sedikit waktu baik untuk kembali
bertemu…
Sekarang aku lebih mengerti, terlebih mengerti. Tentang kobaran di kepalamu itu, tak habis diguyur aral melintang. Mungkin aku perlu meminta sedikit saja bibitnya. Biar kukembangkan sendiri.
ReplyDelete