Skip to main content

Kepada Jendral

Seperti jejak yang kau tapakkan. Ia tak terhapus oleh rinai yang baru saja singgah. Ya, jejakmu melekat di dadaku, di dahiku, di depan mataku, setiap jengkal ingatan.

Seperti ada yang tertinggal tentang kau, aku ingin kembali. Menemuimu lagi.

Sekarang aku lebih mengerti, terlebih mengerti.  Tentang kobaran di kepalamu itu, tak habis diguyur aral melintang. Mungkin aku perlu meminta sedikit saja bibitnya. Biar kukembangkan sendiri.

Lalu, jalan rahasia apa yang ingin kau tunjukkan lagi padaku?

Aku terlalu penasaran, maka dari itu aku ingin kembali. Melihatmu bangkit dari jatuh lalu berjalan tak kenal malas, walaupun kau tahu, kau akan terjatuh. Lagi dan lagi.

Hai, jendral!. Aku tahu kau tak pernah mau memperlihatkan jernih kristal biji matamu, pun aku. Tapi dalam diam kita sama-sama mengerti, kita tak akan rela dipisahkan waktu.

Dalam sekat jemari selalu kutanam harap pada Rabbi


Semoga saja masih ada sedikit waktu baik untuk kembali bertemu…

Comments

  1. Sekarang aku lebih mengerti, terlebih mengerti. Tentang kobaran di kepalamu itu, tak habis diguyur aral melintang. Mungkin aku perlu meminta sedikit saja bibitnya. Biar kukembangkan sendiri.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir