Skip to main content

Monolog Kota Mimpi

Aku berkejaran dalam desingan peluru di dadamu.
Sesekali ia berhenti.
Tapi kau terus berlecutan tak peduli.
Aku diam.
Tapi masih sempat beterbangan dalam kepalamu.

Aku bisa menari.
Meniru gaya angin memenuhi bumi ini.
Aku bisa terpecah menjadi lebih dari 99 bayangan
 yang sama sekali tak kau mengerti.
Ya! Aku memenuhi setiap jengkal ruang yang kau miliki.
Tiba-tiba kau bertanya dari sampan kelabumu ,
Apa yang kumau dari bidang tubuhmu itu?
Lalu masuk  ke dalam genta dan merasuk ke sekujur badanku.
Aku mencernanya,
lalu memuntahkan kepadamu.
Kau menghirupnya,
kembali berdesingan ,seakan tak mengerti.

Aku terpecah,kau merasukiku.

Diam-diam kereta kelinci menjemput dari pintu warna warni. Aku menaikinya dengan nyanyian wortel biru muda. Kau juga. Kita berkelana melewati abjad-abjad yang mengapung di malam buta, disana ada gambarku meniup seruling polkadot jingga. sedang kau menangkapi irama dan membiarkan tubuhmu meresap sekenanya.
 Kita membuat garis lurus di tepian dinding yang kita lewati,
di ujungnya kita harus memilih
di kepingan mana kita akan berhenti,
sungai api ataukah telaga gulali?



 

Comments

  1. siiip bos,hanya ini agak mengganggu: Silahkan memilih dengan hati nurani

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir