Yah, ini dongeng malam ke-75. Malam dengan angin sore yang bimbang. Tak tahu
kemana sisa tenaganya menghilang.
Malam ke-75. Raksasa itu semakin sulit dibangunkan,yah. Namanya raksasa Aka. Tubuhnya yang besar tenggelam di sungai merah, sedang perutnya menyembul bak pelampung. Aku mungkin bisa mengusiknya, menaiki perutnya lantas menggelitikinya. Tapi apa daya, aku terlalu kecil baginya.
Malam ke-75. Raksasa itu semakin sulit dibangunkan,yah. Namanya raksasa Aka. Tubuhnya yang besar tenggelam di sungai merah, sedang perutnya menyembul bak pelampung. Aku mungkin bisa mengusiknya, menaiki perutnya lantas menggelitikinya. Tapi apa daya, aku terlalu kecil baginya.
Yah, banyak kapal yang hendak datang menjemputku. Tapi ia
selalu menghadang. Menguras semua perbekalan, sampai tak habis semua perjalanan
yang akan dituntaskan. Maka jadilah aku yang disini.
Malam ke-74. Ia tetap pemalas yang suka tenggelam dalam peta
buta. Kalau lapar menyergap, segala cara disuka. Kembali mengusik kapal-kapal yang menegakkan
layar. Selalu. Aku ingin berdamai dengannya. Mungkin mencari titik
perpotongan yang akan saling mempertemukan.
Pada malam-malam sebelum malam ke-1, aku tak pernah berjumpa
dengannya. Raksasa hitam yang mencekam. Dengan perut besar menjulang. Ayah tahu?
Di dalam perutnya ayah akan menemukan makhluk segala rupa. Ada kurcaci-kurcaci
kerdil yang saling mencintai dan beranak pinak, ada payung hijau muda yang
membuat rindang penghuninya, juga sepatu sebatang kara menanti pasangan
menjemputnya. Ada juga perkakas lain yang tak jelas bentuknya.
Yah, aku ingin menyeretnya pada malam ke-76. Mengusirnya ke
pulau tak bertuan, saat semua angin, langit, tanah, bulan, hujan, bintang,
matahari, sama-sama tenggalam dalam kubangan bimbang. Sederhana bukan?,
sesederhana dongeng ini yang kubacakan
untuk ayah.
Yah, dengarkan… ini dongeng malam ke-75…
perjalanan melewati malam dan siang adalah perjalanan yang akan mematangkan hari-hari yang bertumbuh dalam daging.ia akan semakin paham peta perjalanan yang kian menanjak dan kadang melintasi terjal curam. hanya cukup dengan kesabaran bintang-bintang malam memercikkan doa ke setiap penjuru angin tempat segala kemungkinan tiba.di sepanjang jalan shalat pepohonan mengajarkan aku bertahan dengan akar yang terus menjalar ke kedalaman hati dan cecabang merindangi setiap pejalan, bunga-bunga yang bermekaran adalah kerja keras kesabaran menyusuri bumi hidup dan ciuman matahari yang membakar diri.(Pesan Sorang Pejalan)
ReplyDeletesalam dari jauh
ReplyDeleteduh..Aida. terbuat dari apakah sayap2 imajimu hingga kau begitu lihai terbang melintasi dunia absurd di balik bianglala? Tak sanggup kubayangkan nada siulan ayahmu melihat itu!
thanks. tamarsarasehfiles.blogspot.com
hehe...itu dongeng mahasiswa yg sedang malas dengan rutinitasnya om. bosan dengan tugas yang tiada henti tandang. maka jadilah ocehan yang ngalur ngidul itu. hehe...
Deletethanks om..
lama tidak bertemu..