Skip to main content

Posts

Dongeng Minggu Ke-13

Yah, ini dongeng kedua untukmu yang kutulis di tempat ini. Kudongengkan untukmu sebab kini kita tak pernah benar-benar bertukar kisah secara rinci seperti sedia kala. Aku kerap diserang lupa saat tengah bertelepon ria denganmu. Ini minggu ke-13 untukku, yah. Minggu yang sibuk dan melelahkan. Minggu yang begitu cepat berjalan dan menyerang semua yang dikejar deadline. Apakah ayah mengerti arti angka 13 itu?. Konon   katanya angka 13 adalah angka sial. Tapi bukan itu yang kumaksud, yah. Ini minggu ke-13 dan artinya tiga minggu lagi adalah minggu ke-16. Adakah yang spesial dari angka 16?. Di angka itu   tiga tugas perencanaanku (Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum, Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat, dan Perencanaan Pengelolaan Sampah) di semester ini dikumpulkan. Hmm. Entahlah. Doakan aku yah semoga semua selesai sesuai harapan dan berakhir menyenangkan. Yah, terkadang aku menyesal kenapa aku harus mengikuti nasehat ayah dan ibu untuk meninggalkan...

Aku Hanya Ingin

Tulisan ini dimulai ketika aku berada di depan layar dalam waktu yang lama, tapi hanya menghasilkan sedikit apa-apa. Bukan tak mengerti tentang apa yang harus dilakukan. Sungguh bukan. Aku cukup tahu. Tetapi bukankah mengumpulkan segenap jiwa dan raga untuk bersatu itu bukan hal yang mudah ?. Sekitar dua minggu lalu, seseorang yang mengagumkan berkata, “ Siapa yang hingga saat ini masih ditemani ayah dan ibu ketika belajar?”. Tak ada yang mengacungkan jari. Tak ada yang bergumam. Pikirku hanya bergulir pada gulungan waktu yang pernah aku lewati. Seseorang itu kemudian melanjutkan, “ Dulu ketika saya masih kecil, ayah dan ibu saya selalu menemani saya belajar.”. Lalu ada yang berujar,”Bukankah itu berarti mereka tidak mengajarkan kita untuk mandiri?.” “Oh tentu tidak. Itu bentuk kepedulian mereka terhadap kita.”. Dan setelah itu aku bertekad untuk menuliskan hal ini. Sejak kecil, kata ayah dan ibu, aku adalah anak yang cerewet dan selalu banyak bertanya. Ibu adalah orang yang pe...

Dulu dan Sekarang

Selamat malam, Fai. Hari ini cukup melelahkan, jadwal mata kuliah yang padat merayap.   Kuliah yang kembali mengingatkanku pada masa sekolah menengah atas beberapa tahun yang lalu. Dan karena memang sejatinya menuntut ilmu tidak bisa diukur dengan hal apapun, maka bersabarlah. Baiklah. Sebenarnya ini adalah tulisan yang ditulis di malam yang tidak begitu nyaman untuk sekadar membaca buku kuliah. Lalu, apa yang sedang aku lakukan detik ini?, tentunya tengah bermain keyboard laptop. Rasanya sudah cukup lama menyukai dunia tulis menulis puisi. Tapi apa daya si koran masih belum mau tulisanku menjadi bagian tubuhnya. Ya, aku cukup tahu. Dulu, aku pernah berkata pada ayah bahwa aku ingin mempunyai buku puisi. Buku puisiku sendiri, bukan antologi. Dulu, aku bersemangat sekali untuk memilikinya, bahkan memperjuangkannya. Tapi ketika itu ayah tidak begitu meresponku. Entahlah apa alasannya. Aku sempat kecewa dan kemudian mencari-cari sebenarnya apa alasan ayah. Hingga aku tahu ...

Masih di Madura : Pulau Mandangin

Perjalanan ini dimulai ketika kami, Departemen Sosial Masyarakat, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,   Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2014-2015 mendapatkan kepercayaan memegang andil dalam program kerja Envication yang sebelumnya merupakan program kerja Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa.   Envication sendiri merupakan program kerja yang ditujukan kepada mahasiswa baru jurusan teknik lingkungan FTSP ITS. Pada tahun-tahun sebelumnya rangkaian acara dalam envication berupa perkemahan di bumi perkemahan serta pengabdian masyarakat di sekitar bumi perkemahan dan penanaman nilai internal dan eksternal, serta penanaman jiwa kepemimpinan dari senior kepada mahasiswa baru. Pada tahun ini Envication masuk ke dalam program kerja departemen sosial masyarakat yang bekerja sama dengan departemen pengembangan sumber daya mahasiswa dan departemen riset dan teknologi, tentunya juga dengan semua elemen Keluarga Mahasiswa T...