Skip to main content

Puan yang Bermimpi Memiliki Seribu Bayang

Puan yang bermimpi memiliki seribu bayang itu tumpah di hadapan hari. Ia tak tahu bagaimana jalan sempit dilewati dan setiap kepala saling memasuki kepala-kepala lain. Kepala yang jika dirombak isinya tak lebih dari tulang belulang dan kusut otak yang lupa dipakai. Si puan harus memilih dan siap dengan segala arah, sebab diam tak jauh dari mati dan melangkah pun tak berarti memperpanjang nadi.

Bayang adalah mimpi yang ditinggalkan oleh pemiliknya di masa silam, juga adalah pengejar yang tak pernah sampai. Sedang si puan adalah pencari setiap hal, genap dan ganjil bukan alasan.


Lalu dimana harus ia gandakan setiap bayang yang pernah ditinggalkan di masa silam?, yang selalu mengejarnya namun tak pernah sampai, yang selalu ditariknya namun tak pernah tergapai. Seribu adalah nilai yang ingin dicapai si puan untuk menggenapkan kisahnya menuju kesempurnaan.


Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi