Selamat malam, tuan merah jambu…
Pertemuan itu terlalu singkat untuk aku jabarkan. Dunia nyata
yang hanya sekelebat saja. Kau mereka-reka. Dinginkah aku?
oh.. tentu tidak..
introvertkah? Melankoliskah?
ah, tak perlu dijawab..aku lebih suka menjadi misterius
Semuanya berlanjut dalam dunia maya yang sama sekali tidak memberi kepastian tentang aku juga kau.
Tak apa, tak terlalu penting. Menjadi perahu saja. Mengikuti arus tapi harus berpegang
kendali.
Tentang surat ini, aku hanya ingin mencicil hutangku padamu.
Hutang janji. Dimana janji itu memang hutang. Entah kapan aku bisa melunasinya.
Aku terlalu bingung sendiri, tuan merah jambu. Ya beginilah
aku. Bertanya dan mereka-reka sendiri. Sebut sajalah monolog. Sebab aku tak
terlalu berani untuk menggali lebih dalam tentangmu. Maaf, aku tak mau lancang.
Banyak hal yang aku pelajari tentangmu. Ah, tuan merah
jambu. Sedikit menyebalkan. Ya, mungkin itu memang pembawaanmu. Sedikit sanguinis
mungkin. Ya, mungkin. Sekali lagi aku hanya mereka-reka saja.
Tuan merah jambu, aku tak yakin kau akan membaca surat ini. Tapi
tak apalah. Setidaknya Tuhan tahu bahwa aku tak ingin mengingkari janjiku. Hutang
itu. Karena itu hutang dan aku belum mampu membayar, maka
izinkanlah aku mencicilnya.
Cukuplah surat ini sebagai permintaan maafku, tuan merah
jambu. Sebagai hutang yang akan aku cicil. Terimakasih.
Wassalam…
Fai
Dunia nyata yang hanya sekelebat saja. Kau mereka-reka. Dinginkah aku?
ReplyDeleteoh.. tentu tidak..
introvertkah? Melankoliskah?
ah, tak perlu dijawab..aku lebih suka menjadi misterius
(ini terasa mengganggu....bosss)
nggak papa boss, ini hanya kalimat penjelas saja. semi puisi. hahaha
ReplyDelete