Skip to main content

Tanahku, Aku rindu...


Aku ingin melukiskan tanahku di ruang ini. Dengan pagar merah yang sederhana, juga beranda yang begitu teduh bagi penghuninya. Satu set kursi kayu akan menyambut yang tandang dengan lapang.


Ada ayah,ibu, dan adik yang senantiasa meramaikan tanah itu. Bukalah pintunya!
Engkau akan menemukan jendela lain yang akan mengantarmu ke segi-segi dunia. Berbagai alphabet yang akan menemanimu menjelajah mimpi.

Bila pagi menjelang, seorang perempuan akan menggedor jendela kamarmu,dan berkata
“bukalah jendelanya, biarkan sang mentari berkunjung ke kamarmu!”
lalu suara lain yang menggedor pintu kamar mandi, lantaran adik yang terlalu menikmati segar air pagi hari nyaris telat untuk menimba ilmu. Juga suara kendaraan ayah meninggalkan tanah kami, hendak menanam puji untuk bekal esok hari.

Bila siang menjemput, Si merah semakin meninggi. Sekelompok layang-layang hidup menyerbu biji emas petani. Sedang orang-orangan sawah terus menari mengikuti irama riang angin siang. Dari balik kejauhan,si petani mengintai. Tapi sayang, pengintai yang sesungguhnya tak pernah luput dari tugasnya.

Kalau sore telah datang, langit merah menyemarakkan tanahku. Kawanan layang-layang dan yang lainnya pulang ke kandang. Anak-anak kecil berdatangan mengunjungi berandaku, membawa kitab abadi sepanjang masa. Menabung amal untuk bekal esok tua,untuk ayah dan ibu sebagai bakti anak kepada orang tua.

Malam datang, gemintang bertaburan ditemani celurit malam.  Nini anteh tengah merajut baju indah untuk anak shaleh. Suara anak-anak mengaji menggema di tanahku. Ada pula yang tengah bertengkar kecil lantaran diganggu dengan teman sendiri. Ayah tak pernah tua menanggapi ini. Ayah memang selalu tahu menempatkan posisinya. Usai mengaji, ibu yang baik hati akan mengantar mereka pulang ke tanahnya menembus gulita. Adik mulai menjelajahi angka demi angka dan huruf. Dalam kantuk ia jejali semua ke dalam otaknya. Hingga ia tertidur. Sedang ayah sedang asyik dengan dunia dalam kotak ajaibnya.

 Begitulah tanahku, juga tokoh di dalamnya. Sayang tak ada di ruang ini. Tapi terpatri dalam hati. Aku ingin sekali melukisnya, biar aku bisa berkunjung kapan pun aku suka. Nyatanya aku selalu suka. Tak ada yang lebih berarti dari tanah sendiri. Tak ada yang lebih berarti dari tokoh di tanah sendiri. 

Ah tanahku,
aku rindu…

Comments

  1. judulnya ganti bos yaa... perlu disaring lagi katka-katanya.siiiipppp sudah aku unduh.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Dua Bersaudara

Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

Ucapan Sederhana Anak Pertama

14 Juli 2013 pukul 13:20  " Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",   : Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…  Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…   Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai. Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Ra...