Skip to main content

Untuk Tuan Merah Jambu



Selamat malam, tuan merah jambu…
Pertemuan itu terlalu singkat untuk aku jabarkan. Dunia nyata yang hanya sekelebat saja. Kau mereka-reka. Dinginkah aku?

 oh.. tentu tidak..

introvertkah? Melankoliskah?

ah, tak perlu dijawab..aku lebih suka menjadi misterius

Semuanya berlanjut dalam dunia maya yang sama sekali tidak memberi kepastian tentang aku juga kau.
Tak apa, tak terlalu penting. Menjadi perahu saja. Mengikuti arus tapi harus berpegang kendali.
Tentang surat ini, aku hanya ingin mencicil hutangku padamu. Hutang janji. Dimana janji itu memang hutang. Entah kapan aku bisa melunasinya.

Aku terlalu bingung sendiri, tuan merah jambu. Ya beginilah aku. Bertanya dan mereka-reka sendiri. Sebut sajalah monolog. Sebab aku tak terlalu berani untuk menggali lebih dalam tentangmu. Maaf, aku tak mau lancang.

Banyak hal yang aku pelajari tentangmu. Ah, tuan merah jambu. Sedikit menyebalkan. Ya, mungkin itu memang pembawaanmu. Sedikit sanguinis mungkin. Ya, mungkin. Sekali lagi aku hanya mereka-reka saja.

Tuan merah jambu, aku tak yakin kau akan membaca surat ini. Tapi tak apalah. Setidaknya Tuhan tahu bahwa aku tak ingin mengingkari janjiku. Hutang itu. Karena itu hutang dan aku belum mampu membayar, maka izinkanlah aku mencicilnya.
Cukuplah surat ini sebagai permintaan maafku, tuan merah jambu. Sebagai hutang yang akan aku cicil. Terimakasih.
Wassalam…

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Fai

Comments

  1. Dunia nyata yang hanya sekelebat saja. Kau mereka-reka. Dinginkah aku?

    oh.. tentu tidak..

    introvertkah? Melankoliskah?

    ah, tak perlu dijawab..aku lebih suka menjadi misterius
    (ini terasa mengganggu....bosss)

    ReplyDelete
  2. nggak papa boss, ini hanya kalimat penjelas saja. semi puisi. hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir