Aku ingin melukiskan tanahku di ruang ini. Dengan pagar merah yang sederhana, juga beranda yang begitu teduh bagi penghuninya. Satu set kursi kayu akan menyambut yang tandang dengan lapang.
Ada ayah,ibu, dan adik yang senantiasa meramaikan tanah itu.
Bukalah pintunya!
Engkau akan menemukan jendela lain yang akan mengantarmu ke segi-segi dunia. Berbagai alphabet yang akan menemanimu menjelajah mimpi.
Engkau akan menemukan jendela lain yang akan mengantarmu ke segi-segi dunia. Berbagai alphabet yang akan menemanimu menjelajah mimpi.
Bila pagi menjelang, seorang perempuan akan menggedor
jendela kamarmu,dan berkata
“bukalah jendelanya, biarkan sang mentari berkunjung ke kamarmu!”
lalu suara lain yang menggedor pintu kamar mandi, lantaran adik yang terlalu menikmati segar air pagi hari nyaris telat untuk menimba ilmu. Juga suara kendaraan ayah meninggalkan tanah kami, hendak menanam puji untuk bekal esok hari.
“bukalah jendelanya, biarkan sang mentari berkunjung ke kamarmu!”
lalu suara lain yang menggedor pintu kamar mandi, lantaran adik yang terlalu menikmati segar air pagi hari nyaris telat untuk menimba ilmu. Juga suara kendaraan ayah meninggalkan tanah kami, hendak menanam puji untuk bekal esok hari.
Bila siang menjemput, Si merah semakin meninggi. Sekelompok layang-layang
hidup menyerbu biji emas petani. Sedang orang-orangan sawah terus menari
mengikuti irama riang angin siang. Dari balik kejauhan,si petani mengintai. Tapi
sayang, pengintai yang sesungguhnya tak pernah luput dari tugasnya.
Kalau sore telah datang, langit merah menyemarakkan tanahku.
Kawanan layang-layang dan yang lainnya pulang ke kandang. Anak-anak kecil
berdatangan mengunjungi berandaku, membawa kitab abadi sepanjang masa. Menabung
amal untuk bekal esok tua,untuk ayah dan ibu sebagai bakti anak kepada orang
tua.
Malam datang, gemintang bertaburan ditemani celurit malam. Nini anteh tengah merajut baju indah untuk
anak shaleh. Suara anak-anak mengaji menggema di tanahku. Ada pula yang tengah
bertengkar kecil lantaran diganggu dengan teman sendiri. Ayah tak pernah tua
menanggapi ini. Ayah memang selalu tahu menempatkan posisinya. Usai mengaji,
ibu yang baik hati akan mengantar mereka pulang ke tanahnya menembus gulita. Adik
mulai menjelajahi angka demi angka dan huruf. Dalam kantuk ia jejali semua ke
dalam otaknya. Hingga ia tertidur. Sedang ayah sedang asyik dengan dunia dalam
kotak ajaibnya.
Begitulah tanahku,
juga tokoh di dalamnya. Sayang tak ada di ruang ini. Tapi terpatri dalam hati. Aku
ingin sekali melukisnya, biar aku bisa berkunjung kapan pun aku suka. Nyatanya
aku selalu suka. Tak ada yang lebih berarti dari tanah sendiri. Tak ada yang
lebih berarti dari tokoh di tanah sendiri.
Ah tanahku,
aku rindu…
judulnya ganti bos yaa... perlu disaring lagi katka-katanya.siiiipppp sudah aku unduh.
ReplyDeleteganti apa boss? apanya yg diunduh?
Delete