Skip to main content

Pelabuhan dan Wisata Kota Tua Sumenep

Setiap orang memiliki tempat favorit masing-masing. Ada yang menyukai tempat perbelanjaan, taman, atau bahkan kamar tidur. Berbeda sekali dengan tempat favoritku. Tempat favoritku bukanlah tempat yang mungkin istimewa bagi semua kalangan. Karena keberadaannya pun sama sekali sudah terabaikan. Tempat tersebut adalah pelabuhan kalianget. Setiap ada waktu senggang aku selalu mengunjungi tempat itu. Bukan untuk menaiki kapal. Tapi hanya sekedar menikmati berlabuhnya kapal dari pulau seberang dan juga mengambil gambar dari pemandangan tersebut. Jika diamati, pelabuhan kalianget tidak seramai dahulu kala. Karena transportasi air kurang diminati dibandingkan dengan transportasi darat dan udara. Bahkan aku sampai menemukan kapal yang tidak lagi digunakan dan telah ditumbuhi tanaman liar. Sesekali pada hari minggu pagi ada orang yang memancing di pelabuhan ini. Namun, yang paling tidak aku temui adalah orang yang mengambil gambar tentang potret kehidupan pelabuhan Kalianget. Beberapa Minggu yang lalu, aku dan temanku sempat berbincang dengan nelayan yang akan mengirim garam ke Kalimantan. Pertemuan ini terjadi secara tidak sengaja, yaitu ketika nelayan tersebut memergokiku yang tengah mengambil gambar kapalnya. Untung saja nelayan itu ramah. Maka, aku dan temanku dipersilahkan untuk naik ke kapal besar itu. Di dalamnya terlihat tumpukan-tumpukan garam yang akan dikirim ke Kalimantan. Betapa bangganya aku menjadi orang Sumenep yang membantu mengasinkan Kalimantan. Tak berapa lama kemudian aku pulang. Di tengah perjalanan pulang, kita bisa menikmati jejeran rumah dengan arsitektur kuno. Rasanya kita berada di tahun yang telah lama menjauh dari kita. Beberapa hari yang lalu beredar kabar, bahwa bupati Sumenep akan menjadikan daerah ini sebagai wisata kota tua. Saat mendengar kabar itu dari Ramah (ayah), aku senang sekaligus sedih. Senang karena bupati bisa memanfaatkan daerah ini, sedih karena takut daerah ini nantinya dijual kapada investor asing dan penduduk setempat diminta untuk meninggalkan tempat ini. Selain itu, tak jauh dari rumah penduduk, kita bisa melihat PT garam yang pertama yang terlihat angker. Mungkin jika ada produser film horror, tempat ini akan dijadikan lokasi syuting. Karena film horror dengan hantu yang beraneka ragam rupanya tengah diminati di Negeri tercinta ini. Beralih ke rencana bupati Sumenep, aku berharap beliau bisa memanfaatkannya dengan baik sekaligus bisa menguntungkan warga setempat. Busyro san, ohayo gozaimasu..☻

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi