Dalam hidupku kutemukan kau. Terdiam diantara kerumunan. Terbahak saat semua kebingungan. Lambungmu satu. Aku yakin itu. Tapi kau berbeda hari ini. Saat mendung memolesi langitmu. Dan tak nampak lagi terang bulan sabit di atas rautmu. Padahal kemarin baru saja kita rajut senyuman. Namun semua menghilang hari ini. Begitu cepat. Atau karena kelabu yang menghampirimu?, Jangan pernah berteman mendung, ia terlalu buram untuk hidupmu. Biarkanlah semua berlalu. Karena Tuhan masih tegak. Satu. Karena DIA maha tahu. Karena DIA masih mencintaimu. Karena padaNya semua akan kembali bersatu. Sabarlah. Masih ada pelangi yang kan datang menghiasi. Masih ada harapan yang tersirat menghantui. Dan saat mendung tlah jauh, hujan kan menetas, membawa pelangi di antara senyum yang tlah pergi menjauh.
Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...
Comments
Post a Comment