Dalam hidupku kutemukan kau. Terdiam diantara kerumunan. Terbahak saat semua kebingungan. Lambungmu satu. Aku yakin itu. Tapi kau berbeda hari ini. Saat mendung memolesi langitmu. Dan tak nampak lagi terang bulan sabit di atas rautmu. Padahal kemarin baru saja kita rajut senyuman. Namun semua menghilang hari ini. Begitu cepat. Atau karena kelabu yang menghampirimu?, Jangan pernah berteman mendung, ia terlalu buram untuk hidupmu. Biarkanlah semua berlalu. Karena Tuhan masih tegak. Satu. Karena DIA maha tahu. Karena DIA masih mencintaimu. Karena padaNya semua akan kembali bersatu. Sabarlah. Masih ada pelangi yang kan datang menghiasi. Masih ada harapan yang tersirat menghantui. Dan saat mendung tlah jauh, hujan kan menetas, membawa pelangi di antara senyum yang tlah pergi menjauh.
Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...
Comments
Post a Comment