Selain terkenal dengan budayanya, Sumenep juga terkenal dengan keindahan pantainya. Beberapa pantai yang terkenal adalah adalah pantai Salopeng dan pantai Lombang. Bahkan Pantai Lombang mempunyai nilai plus di mata wisatawan, bukan hanya wisatawan lokal, wisatawan asing penasaran dengan cemara udang yang ada di Pantai Lombang. Jauh dari keberadaan kedua pantai ini rupanya ada Pantai lain yang terselip, yaitu Badur. Kuran
g lebih satun yang lalu, aku dan teman sekelasku pergi ke pantai Badur. Kita semua benar-benar pertama kali datang kesana. Letak pantai tersebut di kecamatan Batu Putih. Dalam angan kita tempat tersebut ramai oleh pengunjung. Kita pergi ke Badur dengan menaiki mobil Pick up. Di perjalanan aku melihat pohon-pohon yang begitu indah. Batu-batu gunung juga menjulang tak kalah indahnya. Sayangnya, jalan menuju Pantai Badur rusak. Sehingga membuat kita merasa tengah menunggangi kuda yang berlari begitu cepat. Ternyata kuda tersebut benar-benar ada di daerah ini. Buktinya saja, aku melihat bapak tua yang menunggangi kuda sambil tersenyum pada kita dengan ramahnya. Aku mengambil kameraku dan memotretnya. Bapak itu terlihat seperti model penunggang kuda ternama. Di sisi kiri dan kanan jalan, kita juga bisa melihat ibu-ibu yang tengah menemani sapi-sapinya melahap rumput. Di perkotaan ( Sumenep Kota ), kita tidak bisa melihat pemandangan ini. Dari jauh, kita bisa melihat air laut yang warnanya membaur dengan awan. Tak lama kemudian pick up yang kita tumpangi berhenti begitu saja, padahal kita masih belum sampai di tempat tujuan kita. Ternyata kita harus berjalan kaki untuk sampai ke pantai yang sebenarnya, karena Pick up kita tidak muat untuk
masuk ke belokan untuk sampai ke pantai Badur. Sesampainya di pantai Badur, kita agak heran. Karena rupanya tempat ini begitu sepi dengan pengunjung, bahkan tidak ada penjual makanan di Pantai Badur. Hanya terlihat para Istri nelayan yang tengah menunggu suami mereka pulang berlayar. Di Pantai Badur kita hanya berfoto bersama dan bermain-main dengan laut. Ketika kami hendak akan pulang, aku melihat para nelayan yang baru saja pulang melaut. Mereka mendorong perahu mereka untuk sampai ke tepian. Kemudian para Istri mengambil hasil tangkapan ikan dan kemudian membersihkan ikan-ikan tersebut dari insang dan sisiknya. Dan akhirnya dijual ke pasar. Pemandangan ini, benar-benar pertama kali aku lihat seumur hidupku. Menurutku, kehidupan para nelayan jauh terlihat lebih akrab dengan sesamanya dibandingkan dengan kehidupan di Kota yang lebih individual. Karena Pantai Badur ini jauh berbeda dengan Pantai Salopeng dan Lombang, akankah lebih menarik jika kita menyebutnya dengan “ Kampong Rèng Majang ” (Kampung Nelayan).
Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...
Comments
Post a Comment