Cerita
ini sebenarnya dimulai sejak lama, entah pada titik yang mana episode pertama
dimulai. Awal berada di tempat ini saya kira semuanya “spesial”. Namanya saja
kampus perjuangan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Mungkin karena
embel-embel Sepuluh Nopember. walaupun banyak yang masih salah mengucapkannya
menjadi Institut Teknologi Surabaya. Saya rasa pengucapan itu juga tidak
terlalu salah untuk yang tidak berjuang. Saya sedikit sepaham.
Banyak
hal yang saya dapatkan di tempat ini. Antara keinginan dan penyesalan. Keinginan
untuk membuat ayah ibuk bangga, menjadi panutan yang baik untuk anak kedua, berjuang
di jalanNya mencari kebarokahan ilmu. Sederhana bukan?. Penyesalan saat rasanya
yang berada dihadapan mata sangat susah atau bahkan tidak mungkin diselesaikan.
Ternyata memang tidak mudah mencapai apa yang diinginkan. Terkadang sampai
menjadi ciut untuk sekedar memandang ke depan. Takut kalau ternyata yang
diinginkan tidak tercapai. Atau bahkan menjadi membara saat ternyata sedikit
demi sedikit jalan itu menjadi benderang. Tapi perlulah kau catat ini, tak ada
sukses dengan bersenang-senang. Itu titipan ayah untuk saya. Dan saya simpan
titipan ayah sampai detik ini.
Jujur
sejak kecil tidak pernah terpikirkan di benak saya untuk berada di tempat ini. Bagaimana
bisa saya memikirkan tempat ini kalau yang saya lihat lebih banyak tentang guru,
biologi, seni, buku-buku, koran-koran, puisi,rambut gondrong, rokok. Ya. Tak lebih
dari itu. Tapi sejalan dengan waktu, saya paham. Saya paham bahwa saya harus
belajar tentang banyak hal, tentang banyak kemungkinan. Saya paham kenapa ayah
tidak suka dengan jawaban “menjadi penyair” saya dulu saat ibu guru bertanya
apa cita-cita saya di kelas 1 SD. Saya paham kenapa ayah bilang suara saya
jelek saat berlatih membaca puisi di kelas 6 SD. Dan sampai detik ini jawaban
itu membuat saya malu untuk membaca puisi di tempat umum.
Ibu
pernah bilang kalau ia ingin anaknya ada di tempat ini. Itu alasan kenapa sya berjuang
untuk ada disini. Kegagalan lolos SNMPTN undangan sempat menjadikan saya
pesimis untuk lolos SNMPTN tulis (sekarang SBMPTN). Ayah selalu menyemangati
saya untuk tidak lelah berjuang. Mungkin Allah ingin memberikan biaya kuliah
yang murah. Ya itu kata ayah saya ketika itu. Saya tidak habis pikir kalau
sampai harus membayar puluhan juta untuk ikut tes masuk mandiri karena tak
lolos tes SNMPTN tulis. Saya tidak habis pikir kalau sampai menguras uang
tabungan ayah ibuk.
Akhirnya
saya berada di tempat ini. Alhamdulillah saya lolos tes SNMPTN Tulis. Hampir
dua tahun saya melewati ini. Berawal dari pengkaderan selama 8 bulan, bahasa
indonesia, bahasa inggris, kewarganegaraan, agama, komputer, laporan praktikum,
autoCAD, Pengenalan Ilmu Lingkungan, Etika dan Filsafat Ilmu, kalkulus, fisika
lingkungan, kimia lingkungan, hidrolika, mekanika tanah, geohidrologi, perpetaan,
plambing, k3,pengelolaan sumber daya lahan, matematika terapan, pengolahan air
minum dan lainnya. Semuanya adalah perjuangan, proses. Ilmu adalah proses,
bukan sekedar nilai yang terbit setiap enam bulan sekali. Saya berada di tempat
ini dengan perjuangan. Perjuangan terbesar ayah dan ibu. Doa ayah dan ibu di
malam-malam yang tidak pernah usai.
Saya
berusaha belajar dengan kejujuran, karena itu hal penting yang diajarkan ayah
ibu pada saya dan anak kedua. Sebenarnya saat ini saya tidak terlalu kaget
ketika kecurangan itu seperti menjadi hal lumrah di tempat ini, berbeda dengan
pemikiran awal saat saya mengira di tempat ini kejujuran dijunjung tinggi
sampai langit. Ternyata tidak. Tapi bukankah sangat tidak salah saat kita tetap
berpegang kokoh dengan kejujuran?. Saya mencoba begitu. Siang tadi seorang
teman memberikan pengakuan terbuka tentang hasil ujiannya, tentang proses “kreatif”
yang ia lakukan. Kreatif dalam hal kecurangan untuk apa?. Saya hanya tersenyum.
Dia juga tersenyum. “kamu bangga dengan hasil yang kamu dapatkan?”, “ya, saya
bangga. Yeee, dari 15 soal ujian jawaban saya hanya salah 1”, “lalu?”, dia
kembali tersenyum. Saya juga tersenyum. “apa kamu tidak merasa bersalah pada
orang tuamu karena telah memberikan kebohongan?, apa selama ini orang tuamu memberi
kebohongan padamu?”, dia tersenyum. Saya juga tersenyum sambil berlalu pergi. Masih
banyak yang harus dikejar selain angka-angka itu. Proses tetaplah nilai
terpenting. Ayah ibu membesarkan saya dan anak kedua dengan penuh perjuangan. Maka
jadilah kami, saya dan anak kedua sebagai anak-anak pejuang. Saya akan berjuang
dengan cara yang lurus untuk mencapai tujuan saya. Menjadi Amfibi!
Comments
Post a Comment