Skip to main content

Ombak, Perahu, dan Pantai



Selamat bermalam senin, selamat berdamai dengan kekecewaan. Baiklah, kali ini akan aku ceritakan padamu tentang bagaimana ombak dan pantai berkolaborasi hingga menjadi perahu. Aku ini perahu. Selalu mengelana dan mencari-cari apa yang memang harus dicari. Dan kau perlu tahu, banyak tantangan dalam pencarian itu. Tentu hal terberat adalah yang menggoyahkan prinsipmu.

Ombak adalah ayah. Ia siap kapanpun harus mendorongku untuk pantang menyerah. Seperti dirinya, juga pantai kekasihnya. Ombak membisikiku agar tangguh. Segala kunci menjadi sederhana dan sembunyi dari tinggi hati ia berikan padaku. Ombak pernah marah, tapi jarang sekali. Ia simpan semuanya menjadi kata yang apabila kau mendengarnya akan luluh. Ya, kata yang panjang dan selalu penuh dengan petuah yang renyah. Ombak adalah teman berbincang segala hal, sastra; pencemaran udara; politik; air; tanah; bahkan dongeng sekalipun. Ombak adalah teman perjalanan menyelami kehidupan yang akan berakhir dengan segelas jus di taman kota. Ombak adalah obat untuk keluar dari penat dan suntuk yang tak karuan.
Bagus!  Kejujuran lebih tinggi nilainya dari 76. Terimakasih kau telah berbuat jujur, aku bangga!”
“Istirahat yang cukup. Jangan tidur terlalu malam, santai. Jaga mental dan banyaklah bershalawat”
“Alhamdulillah selamat ya, semoga semakin rendah hati dan disayang Allah. Aamiin”
“Ya, sama-sama. Semoga Allah memberikan usia pertaubatan yang panjang; memberikan rizqi yang halal dan baik yang berlimpah serta membawa manfaat; dan selalu membawa iman dan islam “
“Tak usah kecewa, syukuri dulu apa yang ada lalu rancang persiapan yang akan datang”
“Orang sukses itu bukan tidak pernah gagal, tapi selalu siap bangkit dari kegagalan. Dan orang hidup pasti butuh tantangan. Beranilah mengambil jalan menanjak”
“Terimakasih atas perjuanganmu selama ini. Rama dan Ibu akan tetap bangga terhadap hasil yang kamu peroleh. Percayalah Allah tidak pernah salah”

Pantai adalah ibu. Selalu singkat dalam pesan singkat tapi paling panjang didalam perbincangan telepon genggam. Pantai adalah tempat berlabuh. Kau harus setuju dengan itu. Ia akan menerima siapa saja yang singgah dengan hati yang teduh. Rasa khawatir yang berlebih kadang menjengkelkan, tapi itu bentuk perhatian. Aku paham. Pantai adalah teman berkeluh kesah tentang teman, sahabat, bunga, keprihatinan, dan yang paling penting makanan. Pantai adalah alarm yang tidak pernah lelah. Pantai adalah layanan 24 jam tanpa henti.
Pantai : Mbak, ayo bangun. ayo shalat subuh
Perahu : Aku gak tidur kok, kenapa harus bangun?.Ini baru sampai di depan kost baru pulang dari kampus.
Pantai : Mbak tidur di kampus?, Ngerjakan apa?
Perahu : Ngerjakan tugas perpetaan.Gambar peta bu, biar tidak kesasar. hehe
Pantai : iya berarti mbak tidur di kampus?
Perahu : gak tidur, kan ngerjakan tugas.
Pantai : yaudah hati-hati ya. Nanti gak kuliah?
Perahu : kuliah jam 7. Nanti jam 6 telepon lagi ya. Aku mau tidur dulu habis shalat subuh.
Pantai : Iya nanti ibu telepon lagi.

Perahu adalah aku. Kali ini aku sedang berada di tengah lautan lepas. Hanya ada dua pilihan, tenggelam atau berenang menuju tepi. Kau tentu tahu pilihanku. Ya kau pasti tahu aku bukan pengecut. Ombak dan pantai telah mengajariku berbagai hal yang tentu harus aku terapkan dalam hal ini. Perahu pernah kecewa, tapi perahu selalu tahu kecewa dengan berdiam diri tak akan pernah merubah apa-apa. Apakah perahu keras kepala?, keras kepala itu perlu sebab kita punya prinsip. Prinsip adalah pondasi atau mungkin antibody yang siap mengahadapi semua yang datang, baik untuk bertamu ataupun tinggal. Perahu adalah pengelana yang siap dengan semua peta.
“Bu, Ma. Doakan aku ya, semoga dipermudah jalanku dalam menimba ilmu. Aamiin”

Comments

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

HILANG

Angin menyanyi Burung menari Terbanglah ia Bagai peri kedamaian Lalu hilang Mati ditembus peluru pemburu Membusukkan kenanganYang sempat tumbuh dalam nyanyian kalbu

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi