Skip to main content

Sepenggal Kisah Dua Bersaudara

Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda.

Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti penguin,monyet,kucing,Winnie the pooh, tweety, dan entahlah aku lupa. Karena ayah tau aku tidak suka bermain boneka, akhirnya ayah membelikanku banyak kelereng, juga membuatkanku layang-layang berwarna merah dengan gambar kerbau di tengah. Tapi dari semua permainan itu, aku lebih suka bermain sepeda. Sepeda kecilku berwarna hitam, aku ingat sekali, sebab dulu jempol kakiku pernah masuk ke dalam lubang yang ada di pedal. Ini terjadi ketika ibu menyuruhku untuk tidur siang, tapi aku malah tidak mematuhi perintahnya. Pernah lagi, dahiku sampai dijahit karena terjatuh dan menimpa paralon di belakang rumah saat bermain ayunan dangan tetangga sebelah yang juga laki-laki.
Pada masa taman kanak-kanak, aku masih merasa kesepian di rumah. Sampai aku tahu ibu tengah mengandung anak kedua. Doaku ketika itu semoga saja anak kedua berjenis kelamin laki-laki. Menanti kelahiran anak kedua ternyata cukup membosankan, karena aku harus sendiri di masa TKku tanpa ditemani ibu,ya ini karena ibu tengah hamil tua. Semenjak itulah aku lebih dekat dengan ayah. Ayah suka mengajakku menonton pentas seni di kotaku, mungkin karena itu juga aku menjadi banyak kenal dengan teman ayah. Sampai akhirnya pada bulan Ramadhan awal (11 Desember 1999) anak kedua dilahirkan. Dan.. tetereteretetettt..dia berjenis kelamin laki-laki. Terima kasih ya Allah, doaku terkabul. Setidaknya nanti aku bisa bermain kelereng dengan anak kedua, bukan tetangga sebelah rumah lagi. Ibu menanyakanku perihal nama yang cocok untuknya dengan memberikan dua pilihan nama yang tidak jauh berbeda. Untuk usiaku yang terlalu kecil ketika itu, aku hanya mengikuti saja apa yang ibu dan ayah pilihkan tanpa menjawab pilihan yang ibu berikan. Jadilah kami memanggil anak kedua dengan sapaan “Azmil”
Tahun-tahun kian maju, membuat usia kami bertambah. Anak kedua membuat suasana rumah semakin ramai. Ada tangisan bayi di tengah malam, ada aktivitas baru ibu memandikan, menyuapi, dan menyusui anak kedua. Aku semakin dekat saja dengan ayah, malam-malam di penghujung mata terbuka akan dihabiskan dengan dongeng ayah yang tak kunjung usai. Pentas teater, pameran lukisan, musikalisasi puisi kerap aku datangi bersama ayah. Aku merasakan sedikit iri sebab perhatian ibu menjadi terfokus pada anak kedua. Aku yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 2 SD harus lebih mandiri –makan dan mandi sendiri-. Anak kedua yang tengah lucu-lucunya juga menjadi pusat perhatian di keluarga besar ayahku, sebelumnya aku yang cucu pertama sangat dimanja,dan saat itu menjadi sedikit berbeda dengan kehadiran anak kedua. Awalnya aku yang dijadikan objek untuk pengambilan gambar dari kamera tua kakekku,kemudian bertambah dengan kehadiran anak kedua. Kakek menjadi suka mengajak cucu pertama dan cucu kedua menaiki delman mengelilingi desa.
 Ceritaku dengan anak kedua tidak berhenti disitu. Ada banyak kesal dan tawa yang aku lewati bersamanya. Kesal saat aku harus mengalah sebab aku lebih tua, maka jadilah perang kecil di dalam rumah. Tawa saat berhasil lolos dari kejaran ibu yang menyuruh kami untuk tidur siang. Mungkin anak kedua juga merasakan sedikit kesal saat ada orang yang membandingkan kelebihan kami berdua. Hai anak kedua, biarlah mereka berlalu. Sebab hanya kami,anak pertama dan anak kedua serta ayah dan ibunya yang tahu bahwa kami berbeda dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Anak pertama hanya ingin memberikan contoh yang baik untuk anak kedua, tidak lebih. Dulu saat perang tak pernah usai, ibu selalu bilang bahwa pada suatu saat nanti kita akan dipisahkan oleh jarak, dan pada saat itulah akan muncul rasa kehilangan antara kami berdua. Akan ada rasa rindu untuk bertemu, bermain bersama lagi. Dan masa yang ibu katakan itu adalah saat ini. Saat aku,anak pertama harus hijrah ke kota orang untuk menimba ilmu, dan di pagi yang terlalu awal ini aku begitu betah memainkan keyboard laptop dan tak ingin berhenti menceritakan kebersamaan dengan anak kedua, anak kedua yang tengah melewati pertambahan usia….


Kepada Anak kedua
 : Muhammad Azmil Ramadhan

Matahari tepat naik sepenggalah diatas bulat harimu
Pucuk-pucuk bermekaran
pada dahan yang kian berkembang
Bulan-bulan memerah diantara biru kalender tengah

Di pertengahan jalanmu,
Banyak persimpangan yang akan kau temui
Masih banyak lahan yang belum kau tanami
Jangan pernah lelah menanam
Sebab langit masih sangat luas
Menanam benih doa dan usaha
untuk bekal di masa tua

Selamat ulang tahun, anak kedua…
Semoga senantiasa terkabul segala doa…
Terimakasih telah menemani anak pertama di sepanjang usiamu..

















Selamat Memulai Tahun Ke-14 :)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

Ucapan Sederhana Anak Pertama

14 Juli 2013 pukul 13:20  " Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",   : Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…  Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…   Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai. Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Ra...