Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda.
Ceritaku dengan anak kedua tidak berhenti
disitu. Ada banyak kesal dan tawa yang aku lewati bersamanya. Kesal saat aku
harus mengalah sebab aku lebih tua, maka jadilah perang kecil di dalam rumah. Tawa
saat berhasil lolos dari kejaran ibu yang menyuruh kami untuk tidur siang. Mungkin
anak kedua juga merasakan sedikit kesal saat ada orang yang membandingkan
kelebihan kami berdua. Hai anak kedua, biarlah mereka berlalu. Sebab hanya kami,anak
pertama dan anak kedua serta ayah dan ibunya yang tahu bahwa kami berbeda
dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Anak pertama hanya ingin
memberikan contoh yang baik untuk anak kedua, tidak lebih. Dulu saat perang tak
pernah usai, ibu selalu bilang bahwa pada suatu saat nanti kita akan dipisahkan
oleh jarak, dan pada saat itulah akan muncul rasa kehilangan antara kami
berdua. Akan ada rasa rindu untuk bertemu, bermain bersama lagi. Dan masa yang
ibu katakan itu adalah saat ini. Saat aku,anak pertama harus hijrah ke kota
orang untuk menimba ilmu, dan di pagi yang terlalu awal ini aku begitu betah
memainkan keyboard laptop dan tak ingin berhenti menceritakan kebersamaan
dengan anak kedua, anak kedua yang tengah melewati pertambahan usia….
Selamat Memulai Tahun Ke-14 :)
Akulah tokoh
anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi
anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal
ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada
tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami
benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih
ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat
dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih
banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi
sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang,
kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak
suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa
koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti penguin,monyet,kucing,Winnie the
pooh, tweety, dan entahlah aku lupa. Karena ayah tau aku tidak suka bermain
boneka, akhirnya ayah membelikanku banyak kelereng, juga membuatkanku layang-layang
berwarna merah dengan gambar kerbau di tengah. Tapi dari semua permainan itu,
aku lebih suka bermain sepeda. Sepeda kecilku berwarna hitam, aku ingat sekali,
sebab dulu jempol kakiku pernah masuk ke dalam lubang yang ada di pedal. Ini terjadi
ketika ibu menyuruhku untuk tidur siang, tapi aku malah tidak mematuhi
perintahnya. Pernah lagi, dahiku sampai dijahit karena terjatuh dan menimpa
paralon di belakang rumah saat bermain ayunan dangan tetangga sebelah yang juga
laki-laki.
Pada masa taman
kanak-kanak, aku masih merasa kesepian di rumah. Sampai aku tahu ibu tengah
mengandung anak kedua. Doaku ketika itu semoga saja anak kedua berjenis kelamin
laki-laki. Menanti kelahiran anak kedua ternyata cukup membosankan, karena aku
harus sendiri di masa TKku tanpa ditemani ibu,ya ini karena ibu tengah hamil
tua. Semenjak itulah aku lebih dekat dengan ayah. Ayah suka mengajakku menonton
pentas seni di kotaku, mungkin karena itu juga aku menjadi banyak kenal dengan
teman ayah. Sampai akhirnya pada bulan Ramadhan awal (11 Desember 1999) anak
kedua dilahirkan. Dan.. tetereteretetettt..dia berjenis kelamin laki-laki. Terima
kasih ya Allah, doaku terkabul. Setidaknya nanti aku bisa bermain kelereng
dengan anak kedua, bukan tetangga sebelah rumah lagi. Ibu menanyakanku perihal nama
yang cocok untuknya dengan memberikan dua pilihan nama yang tidak jauh berbeda.
Untuk usiaku yang terlalu kecil ketika itu, aku hanya mengikuti saja apa yang
ibu dan ayah pilihkan tanpa menjawab pilihan yang ibu berikan. Jadilah kami memanggil
anak kedua dengan sapaan “Azmil”
Tahun-tahun kian
maju, membuat usia kami bertambah. Anak kedua membuat suasana rumah semakin
ramai. Ada tangisan bayi di tengah malam, ada aktivitas baru ibu memandikan,
menyuapi, dan menyusui anak kedua. Aku semakin dekat saja dengan ayah, malam-malam
di penghujung mata terbuka akan dihabiskan dengan dongeng ayah yang tak kunjung
usai. Pentas teater, pameran lukisan, musikalisasi puisi kerap aku datangi
bersama ayah. Aku merasakan sedikit iri sebab perhatian ibu menjadi terfokus
pada anak kedua. Aku yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 2 SD harus
lebih mandiri –makan dan mandi sendiri-. Anak kedua yang tengah lucu-lucunya
juga menjadi pusat perhatian di keluarga besar ayahku, sebelumnya aku yang cucu
pertama sangat dimanja,dan saat itu menjadi sedikit berbeda dengan kehadiran
anak kedua. Awalnya aku yang dijadikan objek untuk pengambilan gambar dari
kamera tua kakekku,kemudian bertambah dengan kehadiran anak kedua. Kakek menjadi
suka mengajak cucu pertama dan cucu kedua menaiki delman mengelilingi desa.
Tahun-tahun kian
maju, membuat usia kami bertambah. Anak kedua membuat suasana rumah semakin
ramai. Ada tangisan bayi di tengah malam, ada aktivitas baru ibu memandikan,
menyuapi, dan menyusui anak kedua. Aku semakin dekat saja dengan ayah, malam-malam
di penghujung mata terbuka akan dihabiskan dengan dongeng ayah yang tak kunjung
usai. Pentas teater, pameran lukisan, musikalisasi puisi kerap aku datangi
bersama ayah. Aku merasakan sedikit iri sebab perhatian ibu menjadi terfokus
pada anak kedua. Aku yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 2 SD harus
lebih mandiri –makan dan mandi sendiri-. Anak kedua yang tengah lucu-lucunya
juga menjadi pusat perhatian di keluarga besar ayahku, sebelumnya aku yang cucu
pertama sangat dimanja,dan saat itu menjadi sedikit berbeda dengan kehadiran
anak kedua. Awalnya aku yang dijadikan objek untuk pengambilan gambar dari
kamera tua kakekku,kemudian bertambah dengan kehadiran anak kedua. Kakek menjadi
suka mengajak cucu pertama dan cucu kedua menaiki delman mengelilingi desa.
Ceritaku dengan anak kedua tidak berhenti
disitu. Ada banyak kesal dan tawa yang aku lewati bersamanya. Kesal saat aku
harus mengalah sebab aku lebih tua, maka jadilah perang kecil di dalam rumah. Tawa
saat berhasil lolos dari kejaran ibu yang menyuruh kami untuk tidur siang. Mungkin
anak kedua juga merasakan sedikit kesal saat ada orang yang membandingkan
kelebihan kami berdua. Hai anak kedua, biarlah mereka berlalu. Sebab hanya kami,anak
pertama dan anak kedua serta ayah dan ibunya yang tahu bahwa kami berbeda
dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Anak pertama hanya ingin
memberikan contoh yang baik untuk anak kedua, tidak lebih. Dulu saat perang tak
pernah usai, ibu selalu bilang bahwa pada suatu saat nanti kita akan dipisahkan
oleh jarak, dan pada saat itulah akan muncul rasa kehilangan antara kami
berdua. Akan ada rasa rindu untuk bertemu, bermain bersama lagi. Dan masa yang
ibu katakan itu adalah saat ini. Saat aku,anak pertama harus hijrah ke kota
orang untuk menimba ilmu, dan di pagi yang terlalu awal ini aku begitu betah
memainkan keyboard laptop dan tak ingin berhenti menceritakan kebersamaan
dengan anak kedua, anak kedua yang tengah melewati pertambahan usia….
Kepada Anak kedua
: Muhammad Azmil Ramadhan
Matahari tepat naik sepenggalah diatas bulat harimu
Pucuk-pucuk bermekaran
pada dahan yang kian berkembang
Bulan-bulan memerah diantara biru kalender tengah
Di pertengahan jalanmu,
Banyak persimpangan yang akan kau temui
Masih banyak lahan yang belum kau tanami
Jangan pernah lelah menanam
Sebab langit masih sangat luas
Menanam benih doa dan usaha
untuk bekal di masa tua
Selamat ulang tahun, anak kedua…
Semoga senantiasa terkabul segala doa…
Terimakasih telah menemani anak pertama di sepanjang usiamu..
Terimakasih telah menemani anak pertama di sepanjang usiamu..
Selamat Memulai Tahun Ke-14 :)

selamat berdamai dengan jarak, waktu, dan usia serta rindu
ReplyDelete